Sebungkus nasi pecel

Pagi ini udara ramai oleh titik-titik air hujan. Sesungguhnya aku malas pergi ke sekolah. Tapi ibu tidak mengizinkanku di rumah. Aku buru-buru berangkat. Padahal sebelumnya aku sudah izin waka kurikulum dan memberi tahu TU.

Hari ini ujian hari terakhir. Hanya sampai jam 9. Aku sudah sampai ruang guru sebelum waka kurikulum dan petugas TU datang. Kulihat meja. Berkas-berkas ujian nanti belum disiapkan. Aku memberi tahu salah seorang TU viasms. Sebut saja dia bernama A.

Oh sebentar, biar kuberitahu. A itu seorang mahasiswa semester 5 jurusan matematika. Di kampusnya, dia seorang aktivis dakwah. Tentu saja bukan dalam dalam taraf belajar, tapi sudah penerjun karena dia sebelumnya telah memiliki background yang memadai. Waktu aku mengetahuinya saat itu, karena kami masuk sekolah itu dalam waktu yang sama 3 bulan lalu, aku sangat senang. Aku akan punya “teman” . Meskipun dia baru semester 5, tapi usianya hanya 6 bulan lebih muda dariku. Aku senang menanyakan agenda dakwah di kampusnya dan berdiskusi dengannya tentang hal-hal yang mungkin akan sulit jika didiskusikan dengan orang lain.

Begitulah. Tugasnya menjadi TU sebenarnya membantu TU dulu. Sebut saja namanya mas I. Kebersamaan mereka berdua sehari-hari mebuat mereka semakin dekat dan terus terus (priiittt stop!) Aku dan mbak Lany yang juga guru baru di sekolah itu suka memperhattikan mereka. Tentu saja caraku dan cara mbak Lany berbeda serta sudut pandang yang berbeda pula. Mbak Lany hanya memperhatikan bagaimana mereka berjalan sedang aku lebih dari itu. Karena A adalah seorang aktivis dakwah. Tentu berbeda konteks kan? Aku mendapat informasi lebih banyak dari pada mbak Lany tentang mereka berdua khususnya dalam tema “cinta”.

Akhir-akhir ini “affair” di antara mereka sudah tercium public baik guru maupun murid. Apalagi ini di lingkungan dunia pendidikan yang mana mereka termasuk yang dijadikan panutan.

Menurut analisku pribadi berdasarkan pengalamanku selama ini di dunia percintaan khususnya wilayah virus merah jambu aktivis dakwah, baik mas I maupun mbak A sama-sama memasuki katagori “virusan”. Maksudku mereka sedang saling suka satu sama lain dan sama-sama tak bisa atau sangat sulit mengendalikan perasaan itu. Inginnya bersama, bersua, bersms ria, dan sebagainya. Meskipun dalam hati mereka sadar akan perbuatan mereka. Mereka sudah paham agama terlebih salah seorang di antara mereka adalah aktivis dakwah. Hati kecil mereka mengingkari, tapi hati besarnya memaksa. Begitulah. Dan tentu saja itu membuat mereka tersiksa. Di sini, sebagai sesama perempuan, aku lebih bisa merasakan posisi mbak A. Ditambah pengalamanku dulu menangani akhwat-akhwat yang juga “virusan”.

Mbak A tahu bahwa aku mengerti dia. Rasa itu jika dikombinasikan dengan rasa sukanya pada mas I saat ini dan posisinya sebagai aktivis dakwah tentu membuatnya akan sangat tersiksa melebihi siksa yang tadi kusebut. Jika melihatku, dia akan gondok dan memberikan kesan yang menakutkan. Ini sifat alami manusia , kalau ada yang tidak beres dengan apa yang dia lakukan akan membuatnya khawatir disalahkan sehingga berusaha “melindungi” diri lebih awal. Aku tidak kaget, itu biasa. Aku cukup “stay cool” saja. Lha wong aku saja tak mengatakan apa pun. Karena sebenarnya dia sendiri sudah paham.

Dan pagi itu mbak A benar-benar tidak enak hati padaku setelah kemarin aku melihatnya “menempel” pada mas I. Seusai jaga ujian, ada sebungkus nasi pecel untuk guru yang mengawas. Termasuk aku dapat satu. Tapi aku malas memakan di sekolah jadi ingin kubawa pulang saja untuk kumakan dengan ibu. Dan itu tugas mbak A untuk memastikan apakah aku sudah mendapatkan jatahku atau belum. Tapi mbak A tidak punya cukup ketegaran untuk melakukan tugasnya itu.

“yea, kaga jadi bawa pulang nasi pecel dah…” kataku dalam hati sambil pulang setelah berpamitan dengan semuanya.

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Cinta and tagged , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Sebungkus nasi pecel

  1. desthaonly says:

    hehe nasi pecelnya belum rejekibtw kayknya seru ya dunia sekolah

  2. onezonemine says:

    mbak sudah baca yang bahkan tak punya air mata belum? q nulis itu gara-gara murid ku menjuluki aku seperti itu. hahaha seru mbak. tapi mengenaskan. miris apalagi sekulah swasta. atau baca juga senjata makan tuan. q jahat banget kalau ngajar. kalau gak jahat, anak-anak gak bakalan mau belajar. ya q kombinasikan lah, antara jahat, baik, lucu juga kadang-kadang biar mereka gak stress, ya q paksa mereka pokoknya. q motivasi kadang juga q olok-olok haha. pokoknya kalau mbak mau jadi guru tanya q dulu bagaimana. karena pelajaran kita sama-sama eksak. q juga diajari bu Naning kok seperti itu, hehehe dia guru matematematika dan bu Khoir guru fisika

  3. onezonemine says:

    kapan-kapan cerita aku di kelas tak posting lah. pasti ngekek.

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s