Senjata makan tuan

Ramadhan menjelang, libur panjang menanti. Tentu itu saja itu sangat menyenangkan. Setahuku, di tempat aku mengajar akan libur sekitar satu bulan bagi guru pelajaran eksak dan bagi muri-murid tersedia libur tiga minggu karena satu minggu untuk pondok Ramadhan.

Tiga hari libur awal puasa. Aku, sebagai guru yang jahat, tidak membiarkan begitu saja murid-murid libur dengan tenang. Kuberi tugas mereka. Kuminta mereka menemukan lima pasangan triple Phytagoras yang berbeda. Tidak berlaku sifat kelipatan.

Waktu telah berlalu dan sudah akan tiba waktunya aku menagih tugas mereka. Tentu saja aku harus punya jawaban tugas yang kuberikan. Aku mengkonstruksikan bilangan-bilangan sedemikian sehingga membenttuk triple Phytagoras.

Ternyata sulit. Aku meminta bantuan teman-temanku kuliah dulu. Sampai pada sore hari, baru empat triple yang kudapat. Kan malu kalau aku sendiri tak bisa. Sampai menjelang Isya’ ada sms dari seorang teman yang dia telah browsing di internet. Ternyata triple Phytagoras itu membentuk pola yang unik. Dan uniknya lagi tenyata semua bilangan ganjil selain 1 bisa dikonstruksi membentuk triple Phytagoras.

“Whaa” aku terpesona. Aku pun melihat barisan dan deret yang terbentuk. Selanjutnya aku tidak dapat menahan hasrat mengutak-utik untuk mengetahui polanya sehingga untuk sembarang bilangan ganjil dapat dikonstruksi menjadi triple Phytagoras. Ternyata itu tidak terlalu sulit.

Lalu aku penasaran dengan pola bilangan genap.

Sangat sulit membuat polanya. Pukul 2.00 aku masih belum tidur. Malam itu malam ke-6 bulan Ramadhan. Aku benar-benar tidak bisa tidur karena hati dan juga otakku terus berpikir. Hasratku untuk mengetahui dan menemukan sendiri bagaimana pola triple bilangan Phytagoras yang dikonstruksi dari bilangan genap benar-benar telah memacu semua system organku untu bekerja dan tak mengizinkan mataku terpejam.

“aaaa Si Alan ! “ teriakku di pagi buta. Ini namanya senjata makan tuan. Aku menyuruh muridku untuk menemukan lima pasangan triple Phitagoras, sekarang aku sendiri yang tidak bisa tidur memikirkannya. Murid-muridku belum tentu ada yang mengerjakan. Mungki ada,tapi mungkin hanya satu atau dua orang. Sisanya nyontek. Perlu kuinformasikan di sini. Saat itu sampai saat ini tulisan ini kutulis, aku mengajar di sekolah menengah atas swasta. Murid-muridnya sangat luar biasa. 85% dari mereka karena tidak diterima di sekolah negeri, 10 % dari mereka karena ingin mendapat keringanan biaya pendidikan dengan bersekolah di sekolah milik yayasan, dan sisanya 5% yang benar-benar ingin bersekolah dan sekolah di tempat itu. Bahkan 50% itu mereka sekolah karena terpaksa, karena tidak ada hal yang bisa mere kerjakan saat ini. Jadi? Keadaanya sangat memprihatinkan, dari sudut pandang apa pun. Apalagi untuk aku yang sebelumnya tak pernah bercita-cita untuk menjadi guru dan belajar menjadi guru.

Akhirnya aku hanya bisa tidur sekitar 1,5 jam saja. Selesai sahur aku kembali mengutak-atik lagi. Syukurlah, menjelang jam 6 sudah kudapatkan polanya. Lega rasanya. Aku jadi teringat pada kalimat yang ditulis Bang Ikal di novel padang bulan-nya. Dan terinspirasi dari kalimat tersebut, bolehlah di sini kutulis,” belajar dan juga meraih sesuatu sesungguhnya adalah memenuhi salah satu hak dalam tubuh dan juga penghargaan atas diri sendiri. “

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Others and tagged , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Senjata makan tuan

  1. lambangsarib says:

    Eh…. jadi ingat masa sekolah. Saya termasuk anak dengan rangking 5 di SMP Negri ternama di daerah jawa tengah. Sistem perankingan pun bukan satu kelas loh, tapi ranking satu sekolahan, sekitar 200 an siswa. Pencapaian yang hebat kan………

    Saya termasuk 5 yang terpilih dari 200 siswa. Hebatnya lagi, saya ranking 5 dari bawah loh, hehehe…. Bahasa Inggri 4, Matematika 5, IPA 5 dan Bahasa Indonesia 5.

    Lho kok bangga ranking 5 dari bawah ? Pingin tahu kenapa ?

    Gak nyomong yah…. ketika teman2 masih bingung bilangan phitagoras, aku dah apal diluar kepala (ini beneran nih…). Ketika dikenalkan hitungan elektronika yang membingungkan, aku pertama kali paling mahiiiir.

    Satu hal lagi, saya belum pernah sekalipun nyontek atau ngerpek di sekolah. Kata bapak, “hidup harus jujur, nilai 4 itu bukan masalah asal jujur tidak nyontek”.

    Satu hal yang membuatku “dianggap bodoh”, karena aku belajar semata mata hanya untuk bersenang senang. Sama sekali tak pernah terlintas dipikiran belajar untuk mendapat nilai bagus di sekolah.

    Alhamdulillah sih, bapak setuju aja dengan prinsip saya. Walau ibu agak sedikit senewen.

    Eh….. kini 20 tahun sudah masa itu berlalu. Dikehidupan nyata kayaknya teman teman yang juara kelas dulu masih sibuk bekerja cari uang. Sementara aku, anak dan istriku setiap hari masih aja tetep sibuk bermain main. Bahkan seringkali menolak rejeki. (cieee…. nyomong nih).

    Maapin yah….. banyak nyomong dan nyampah.

    Yang pasti, belajar dan mencari ilmu hukumnya wajib sampai ajal menjemput. Mendidik seorang anak untuk mendapat nilai bagus terbukti tak selamanya benar.

    Salam pendidikan.

    • lambangsarib says:

      Bagaimana ya caranya biar kurikulum kita tidak memberatkan anak ? Pengelompokkan mereka menjadi “anak pandaI” dan “anak bodoh” saya fikir juga kurang pas ?

      Saat ini yang dinamakan anak pandai itu jika matematika, IPA dan bahasa inggrisnya dapat nilai delapan.

      Lha kalau anak cakap ber kreasi lewat seni. Lalu mata pelajaran di atas semua dapat nilai 5, apa yang besangkutan juga dianggap bodoh ?

      Eh maaf yah…. boleh kan kita berdiskusi ? Hehehe….

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s