selalu beruntung

Mungkin jika saat ini kita mengenal seseorang yang menurut kita dia itu sangat beruntung dan hidupnya selalu bahagia, maka ingin sekali rasanya mengetahui secara garis besar perjalanan hidupnya.

Jika garis besar kehidupan miliknya itu kita ulur ke belakang, maka akan ada dua kemungkinan yang paling besar terjadi dari orang yang kita nilai sangat beruntung dan selalu bahagia itu. Yang pertama adalah dia memang sudah terbiasa beruntung dari kecil, hidupnya penuh dengan kebahagiaan, bahkan seolah sudah takdirnya beruntung begitu. Yang kedua, dulunya dia sangat menderita, hidupnya penuh perjuangan, sangat-sangat sengsara. Lalu sekarang takdir berbaik hati padanya dan memberinya keberuntungan.

untuk memudahkan, sebagai contoh saya telah menemui beberapa orang. Dalam statistic, ini yang disebut sampel random.

  1. Seorang kakak kelas saya. Dia cantik dan anak orang kaya. Ayah ibunya seorang guru. Dia tidak kekurangan kasih sayang dari orang tuanya. Rumahnya dekat jalan raya, jadi kalau ke sekolah tidak capek. Dia pandai bergaul dengan orang lain, jadi tidak ada masalah dengan pergaulan. Dia tidak banyak ulah dan baik budi pekertinya. Barang-barang miliknya bagus-bagus. Dia pandai dan selalu rangking pertama parallel sekolah 12 tahun berturut-turut dari sekolah dasar sampai lulus SMA. Dia mengambil jurusan Teknik Kimia Universitas negeri ternama di Jawa Tengah. Dan dia lulus terbaik kedua (entah se-universitas atau se-fakultas saya lupa) lalu dia langsung mendapat kontrak untuk bekerja pada perusahaan kimia ternama. Kemarin, seminggu yang lalu saya dengar dia sekarang sedang di Singapura. Dan sudah bertunangan.
  2. Seorang teman sekelas saya. Dia cantik dan anak orang kaya. Ayah ibunya seorang guru. Dia tidak kekurangan kasih sayang dari orang tuanya. Rumahnya dekat jalan raya, jadi kalau ke sekolah tidak capek. Dia pandai bergaul dengan orang lain, jadi tidak ada masalah dengan pergaulan. Dia tidak banyak ulah dan baik budi pekertinya. Barang-barang miliknya bagus-bagus. Dia pandai dan sering mendapat rangking pertama parallel sekolah dari sekolah dasar sampai lulus SMA. Dia meneruskan kuliah di Universitas Negeri Terbaik di Jawa Timur jurusan Fisika. Dan sekarang dia sudah bertunangan dengan seorang kakak kelasnya yang kini sedang bekerja di Jepang (tentu karena dia pintar).
  3. Teman sebangku tetanggaku. Dia biasa-biasa saja. Anak petani. Peringkatnya di sekolah sekitar belasan di antara teman-teman sekelasnya. Rumahnya sangat jauh dari sekolah waktu SMA. Harus bersepeda lalu naik perahu menyebrangi sungai bengawan Solo lalu jalan kaki menuju jalan raya lalu naik angkutan umum lalu jalan lagi menuju sekolah. Setiap pagi dia harus membuat rempeyek membantu ibunya. Lalu dia (katanya) salah jurusan waktu kuliah yaitu mengambil jurusan elektromedik. Tak perlu banyak cincong. Tepat setelah dia lulus langsung diangkat menjadi PNS di Jakarta dan sekarang kabarnya akan menikah.

Kemudian yang terpikir selanjutnya adalah yang hidupnya biasa-biasa, menderita sewajarnya, ujung-ujungnya mendapat kebahagian yang biasa-biasa juga. Dan yang ini jumlahnya yang paling banyak. Orang-orang ini biasanya sudah pasrah pada nasib, karena berfikir bahwa dirinya berada pada bagian penggembira, pengisi ruang yang hampa saja, tidak ada artinya.

Ketika dia mengikuti sebuah kompetisi, maka dia sudah memposisikan dirinya di posisi yang kalah dan mempersilahkan orang-orang yang biasa beruntung itu untuk mendudukinya. Bahkan ketika dia ingin berubah untuk lebih baik, dia lupa untuk menjadi yang terbaik.

Mainset itulah yang sebenarnya membuat dia tetap seperti itu. Ada satu hal yang dia lupa. QS Ali Imran : 140,”Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim,

begitu pun keberuntungan yang ada. Dia akan dipergilirkan. Setiap orang berhak menjadi yang terbaik. Semua orang berhak merasa dirinya beruntung. Terkadang -bahkan sering- ukuran terbaik dan beruntung itu berdasarkan materi. Seperti contoh-contoh yang di atas. Terlebih karena penilaian masyarakat secara umum semata.

Oleh karena keberuntungan itu dipergilirkan, maka katakan pada diri kita bahwa kita punya kesempatan yang sama dengan orang-orang yang kita anggap beruntung itu. Kita punya giliran untuk menjadi lebih beruntung dari pada mereka.

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Menu Motivasi and tagged . Bookmark the permalink.

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s