Makin Jauh Bayarnya Makin Mahal

Dulu saat masih SMA aku sering mengikuti lomba. Kebetulan saat itu tahun 2005 Fakultas Farmasi UNAIR mengadakan olimpiade Farmasi se-Jawa-Bali untuk tingkat SMA dan sederajat. Aku, Lilin, dan Toni satu tim. Kami lolos babak seleksi tahap I sebagai juara pertama untuk Kabupaten Bojonegoro.

Seminggu kemudian kami harus berangkat ke UNAIR untuk mengikuti babak semifinal syukur-syukur bisa ikut babak final.

Dari seluruh peserta yang mengikuti babak semifinal hanya diambil lima terbaik untuk mengikuti babak final yang selanjutnya hanya untuk ditentukan urutan juaranya. Jadi, asal masuk babak final sudah pasti pulang bawa uang, trophy, dan hadiah lainnya. Dan tahukah kalian semua? Hasil babak semi final mengumumkan bahwa nilai tim kami dapat nomor ke-6.

Waktu itu aku tertawa geli tak bisa berhenti melihat hasil kami yang nyaris lolos. Sedang Toni menyesal meratapi nasib. Karena itu adalah yang kedua kalinya setelah Chemistry Challenging se-Jawa Timur-Bali yang diadakan FMIPA UNAIR yang mana kami mendapat nilai babak semifinal terbaik ke-6 sedangkan hanya 5 yang maju ke babak final. Sedang Lilin seperti tidak terjadi apa-apa, aku tak tahu apa yang ada di pikirannya. Karena dulu waktu Chemistry Challenging aku hanya satu berdua dengan Toni.

Tapi bukan itu yang menjadi ide utama tulisan ini diturunkan. Kami bertiga adalah putra-putri pedalaman. Jadi kami benar-benar awam dengan daerah kota apalagi Surabaya. Waktu berangkat kami turun di Terminal Wilangun lalu naik taksi sampai tempat tujuan dan membayar 50 ribu waktu itu. (seharusnya 30 ribu sudah cukup mahal) Hanya 25 menit kami sudah sampai tempat tujuan.

Sepulang acara, kami putuskan unutk naik angkutan umum saja. Karena kalau naik taksi uang kami takkan cukup. Jika tadi berangkat 25 menit sudah sampai, maka saat pulang butuh waktu lebih dari 90 menit untuk sampai terminal Wilangun.

Aku, Toni, dan Lilin merasa was-was berapa nanti harus membayar karena lama sekali naik angkot. Bahkan kami sempat menyesal kenapa tadi tidak naik taksi saja biar lebih murah.

Angkot sampai di terminal Wilangun. Begitu turun dari angkot aku langsung menyerahkan uang Rp 10.000,- pada pak sopir sebagai pembayaran kami bertiga. Karena itu adalah uang sisa yang kami miliki. Sebab nanti kami juga masih harus naik bis AKAP yang lumayan jauh.

Setelah aku menyerahkan uang, kami bertiga langsung buru-buru lari karena takut uangnya kurang. Apalagi aku dengar pak sopir berteriak-teriak memanggil kami. Kami semakin cepat berlari.

Menurut kami, semakin jauh jarak yang ditempuh maka bayarnya akan semakin mahal. Kami sama sekali tak mengerti bahwa naik angkutan kota itu berlaku tarif sama untuk setiap jarak yang ditempuh. Waktu itu kalau tidak salah, tarif untuk anak sekolah sekitar Rp. 1.ooo atau Rp. 1.5oo per orang. Jadi bisa kupastikan waktu pak sopir berteriak bermaksud memberi kembalian.

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Intermezzo and tagged . Bookmark the permalink.

2 Responses to Makin Jauh Bayarnya Makin Mahal

  1. onezonemine says:

    kalau “a”-nya diganti “o” artinya adalah bodoh sekali, apa emang itu maksude?ehehehe

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s