Terpaksa jadi guru -1-

—pendahuluan

Bulan Juni aku wisuda. Gelar sarjana sudah kudapat. Akan tetapi aku masih belum tahu aku ingin bekerja sebagai apa. Study yang kutekuni selama 3 tahun 8 bulan itu bernama Matematika Murni. Prospek kerja yang nampak di depan mataku, kalau tidak bekerja di perusahaan ya di instansi pemerintah. Artinya aku harus menunggu adanya open recruitment yang menyediakan untuk lulusan matematika.

Akan tetapi aku tidak punya keinginan untuk bekerja di perusahaan. Aku ingin berwiraswasta. Aku sudah membuat rencana dan konsep yang matang tentang sebuah usaha bersama seorang kakak angkatan. Tetapi semua tertunda sampai saat ini karena orang tuaku tidak mengizinkan dan menyuruhku pulang kampung.

Maka aku hanya berhadapan pada satu pilihan saat itu. Terpaksa jadi guru. Aku memasukkan lamaran ke banyak SMP dan SMA. Kebetulan ada satu SMK dan satu SMA swasta yang sedang membutuhkan guru matematika. Dan tepat awal tahun ajaran baru 2010-2011, kisah ini dimulai.

Aku benar-benar tidak menyangka bahwa menjadi guru sangat sulit. Tak semdah dengan yang kubayangkan. Apalagi bagi aku yang tidak pernah sekalipun bercita-cita menjadi guru.

Setiap hari harus menghadapi manusia yang luar biasa. Mereka membuatku ingin menangis setiap hari. Seandainya aku tidak malu pada dunia, aku pasti sudah mengundurkan diri dari sekolah. Sayangnya aku belum punya pekerjaan yang lain. Jadi mana mungkin aku bisa hidup dengan tenang kalau aku menjadi pengangguran?

Terpaksa kujalani hidup sebagai guru sambil berusa dan berharap segera mendapat pekerjaan yang lain yang sesuai dengan hati. Meski dari suatu sisi aku telah mendapat pelajaran. Bahwa menjadi guru di sekolah swasta pinggiran itu lebih dari menjadi pahlawan tanpa tanda jasa.

Aku sangat mengagumi teman-teman guru di sekolah. Mereka setiap hari menghadapi anak-anak yang terbuang. Kenapa kusebut terbuang? Karena di sekolah swasta yang kini aku berada, di sana bersemayam murid-murid yang kebanyakan tidak diterima di sekolah negeri. Sebagian dari mereka bahkan tidak mau bersekolah alias anak-anak yang malas. Mungkin sekitar 10% saja yang benar-benar ingin sekolah di situ. Bahkan setengah dari 10% itu karena tidak mampu membayar ongkos transport jika bersekolah di negeri yang lebih jauh.

Maka menjadi guru di sana harus orang yang sabar mendidik anak-anak yang luar biasa itu. Dan aku yakin, masih banyak sekolah swasta pinggiran yang mewadahi murid yang lebih luar biasa dari pada di sini. Justru sekolah-sekolah swasta macam inilah yang benar-benar melaksanakan tugas pendidikan bagi rakyat kecil.

Itu salah satu alasan aku menyebut guru di sekolah swasta pinggiran lebih dari pahlawan tanpa tanda jasa. Masih ada dua alasan yang lain. Pertama, karena gaji mereka kecil dan belum tentu gaji dibayarkan setiap bulan. Kedua, masyarakat mungkin menilai mereka lebih rendah daripada guru negeri.

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Hikmah and tagged . Bookmark the permalink.

3 Responses to Terpaksa jadi guru -1-

  1. ilmi83 says:

    aku juga terpaksa lg melamar sebagai guru, he…

  2. onezonemine says:

    hehehehee tapi setelah dikenang ashik juga kok

  3. lambangsarib says:

    Setiap anak terlahir sempurna dan unik, jika kita mampu menemukan keunikan dan memolesnya pasti kan berlari secepat kilat, bersinar menyilaukan.

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s