Terpaksa jadi guru -2-

—part 1. Guru jahat, serius, dan mengerikan.

Pertama kali aku memasuki kelas yang kuajar (ada tujuh kelas), aku bersikap baik pada anak-anak. Kuperkenalkan diri, kuberi mereka sedikit cerita tentang masa laluku ketika SMA, kusampaikan aturan mainku, dan kutanyakan mengapa dari kelas 1 SD sampai kelas 3 SMA harus belajar matematika. Itu salah satu cara memotivasi mereka.

Aku berfikir bahwa matematika itu pelajaran yang memang agak sulit bagi sebagian orang. Maka aku berusaha membuat pelajaranku menyenangkan. Ternyata diluar perhitunganku, -memang begitu sifat manusia- dikasih hati minta jantung.

Ternyata sikap baikku pada mereka bukan membuat mereka semangat tetapi justru mereka menyepelekan. Aku mulai pusing. Kujelaskan tidak mengerti, kuberi tugas tidak mengerjakan. Hanya sekitar 20% yang respek.

Lalu aku bertemu dengan mantan guru matematika di sekolah itu saat dia berkunjung ke sekolah. Dia bilang padaku bahwa menjadi guru matematika itu harus jahat di kelas. Tidak hanya matematika sebenarnya, tapi guru fisika, kimia, dan bahasa inggris perlu menjadi jahat. Empat pelajaran tersebut memang pelajaran yang membutuhkan shock theraphy. Jadi mereka perlu dipaksa agar mau belajar.

Aku senang mendengar teori itu. –Dan memang pada dasarnya aku ini gadis jahat, serius, dan mengerikan. Begitu kata salah seorang teman guru- Kebetulan aku punya momen yang tepat. Ulangan.

Mulai dari ulangan itu aku langsung berubah. Awalnya mereka protes.

“Bu, sekarang kok jadi jahat to Bu?” Tanya ketua kelas XI TKJ.

Aku tidak menjawab dengan kata-kata, hanya dengan senyuman.

Lalu seterusnya sampai saat ini anak-anak mengenalku sebagai gur yang jahat, serius, dan mengerikan.

Pak Sony, Pak Rus, dan Bu Khusnul adalah guru jahat favorit saat dulu aku SMA. Aku mengadopsi gaya mereka dan mengombinasikannya.Namun demikian, aku terus berusaha agar anak-anak tidak lari dan tersiksa. Aku berusaha memotivasi mereka. Aku juga sering mengoda mereka, bercanda, juga terkadang aku mengolok-olok dan menjadikannya lelucon bagi yang lain. Kuharap mereka tetap terhibur di tengah kejahatanku.

Mungkin kejahatanku bisa diterjemahkan dalam dua makna. Karena aku ingin reka pintar atau sebagai pelampiasan.

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Hikmah and tagged . Bookmark the permalink.

8 Responses to Terpaksa jadi guru -2-

  1. azaliazzam says:

    menjadi guru itu menyenangkan..^^selamat

  2. onezonemine says:

    ya ada seneng juga sih

  3. faiziki says:

    Ampe lima ni postingan.:-)

  4. onezonemine says:

    iya biar lengkap.hehehemasih ada episode-episode yang lainkan ngetiknya di rumah. hemat di warnet

  5. onezonemine says:

    kalau membaca semuanya ya, lima-limanya. hehehe

  6. faiziki says:

    Harus nya di kasi no misal( bag-1)gitu jd ga di sangkain dobel2 post.^^v

  7. onezonemine says:

    sudah terlanjur hehehepetunjuknya di bawah

  8. onezonemine says:

    sudah direvisi. terima kasih

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s