Terpaksa jadi guru -3-

—part 2. Hafalan

Waktu itu aku mengajar sepert biasa. Dua orang anak tidak bisa diam di dalam kelas. Kuhukum mereka. Seorang ku minta menghafal nilai sinus-cosinus-tangen sudut-sudut istimewa dan seorang keminta menghafal nilia kebenaran konjungsi-disjungsi-implikasi-biimplikasi. Tiba-tiba datang dua orang. Mereka mengaku dari pasar melunasi uang peci yang kemarin dibeli. Tapi aku menduga mereka dari warnet. Kuhukum juga mereka seperti dua orang sebelumnya.

Boleh kukatakan satu dari empat orang yang kuhukum itu punya tampang yang lumayan, jadi banyak yang nge-fans.

Esok hari kuminta mereka berempat maju menyetorkan hafalan. Mereka berempat berdiri di depan. Pintu kelas kubuka lebar biar sejuk. Tiba-tiba si tampan menutup pintu dan dia kira aku tidak menyadarinya.

Aku menengok. “Mas Wahyu,” namanya memang Wahyu. “Kenapa pintunya ditutup? Jadi malu kan?” aku mengolok-olok. Mereka berempat malu dan semakin malu ditertawakan teman-temannya yang lain.

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Hikmah and tagged . Bookmark the permalink.

3 Responses to Terpaksa jadi guru -3-

  1. lambangsarib says:

    Ah hafalan…. aku teramat benci. Sampai hari ini dan entah sampai kapan aku gak akan pernah hapal P4. Menurutku gak ada faedahnya, maaf ya mbak…..

    Apalagi menghapalkan ukuran panjang dan lebar lapangan bola volly, otakku berontak, buat apa dihapalkan ? toh kalau buat lapangan bola volley yang belum tentu sekali seumur hidup tinggal buka buku. Gampang kan ?

    Saya ingat pak Ismanto (guru matematika), dia katakan, “mbang nilaimu jelek2, tapi kenapa kamu padai main kartu domino ?”. Sebuah pertanyaan yang diajukan usai seremoni penggrebekan anak anak bandel di sekolah, eh…. mirip acara buser di tipi loh….

    Waktu itu saya jawab, “pak, main kartu gampang. Hanya teori probabilitas, diverensial dan integral”. Jika kita kuasai itu, wah…. dijamin gak bakal kalah deh main kartu. Beneran ini…. tapi alhamdulillah dah puluhan tahun ingsap. Hehehe….

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s