Nasib Seorang Bujangan

Di kantor tempatku kini bekerja ada 16 orang yang berstatus ‘pejabat struktural’ yang berada di kantor dan 16 orang yang berstatus ‘pejabat fungsional’ yang duduk di setiap kecamatan, paling tidak seminggu sekali mereka main ke kantor. Dari sekian pejabat struktural itu hanya enam orang bergender perempuan. Empat di antaranya pun sudah menikah. Dua orang yang belum menikah itu, salah satunya adalah aku. Lalu sisanya adalah laki-laki yang sudah menikah. Sedangkan 16 pejabat fungsional itu adalah laki-laki, dua orang juga yang belum menikah.

Sekedar informasi saja, menurut beberapa temanku yang bekerja entah sebagai guru, perawat, karyawan pabrik maupun karyawan kantor, dan dia belum menikah, mereka bernasib sama denganku. Mungkin beginilah nasib para bujangan.

Kebetulan, aku dan beberapa temanku yang belum menikah itu adalah penganut paham ‘pacaran setelah pernikahan’. Maka secara otomatis, kami adalah jomlbo seratus persen. Yeaaa meskipun kami sedang gigih -Hallah apa pula ini?- mencari suami, tapi kami tak kan memberikan hati kami kepada siapa pun sebelum dia resmi memiliki kami. Karena itu pula, kami menjadi penggembira di tempat kerja kami masing-masing. Apalagi yang berkebetulan berada di lingkungan dengan jumlah bapak-bapak jauh lebih banyak dari pada ibu-ibu, seperti tempatku, guyonan soal jodoh menjadi santapan setiap hari.

Celakanya bagiku, satu teman sekantorku yang belum menikah itu, dia sudah punya pacar. Entah calon suami atau bukan. -Fakta saat ini berbicara bahwa punya pacar bukan untuk menjadi suami-istri, akan tetapi hanya untuk mengisi status. Sebab, tak punya pacar adalah penderitaan paling mengerikan bagi sebagian orang saat ini.- Maka konsekuensinya, aku adalah satu-satunya orang yang selalu menjadi korban di kantor. Menyedihkan.

Seminggu pertama aku di kantor keadaan masih biasa. Ya bercanda pun biasa. Lalu semakin lama sampai mereka mengetahui statusku, mulailah aku jadi korban. Apa pun yang kulakukan selalu ‘diarahkan ke sana’. Setiap apa pun yang kulakukan selalu ‘dicurigai’ oleh bapak-bapak itu. Aku sms-an, telponan, selalu dianggap kencan. Dan hanya dengan sedikit ‘impuls’ maka percandaan itu sampai kemana-mana dan tidak jelas arah. Dan tentu saja, akulah yang menjadi korban.😦

Tak ketinggalan, bapak-bapak itu ribut ‘memasangkan’ aku dengan mas-mas ‘pejabat struktural’ yang belum menikah itu. Biasanya, kalau aku sedang menjadi korban mereka, aku justru banting harga dan orang-orang semakin puas tertawa. Parahnya, kalau ada mas-mas itu, dia justru nampak malu-malu. Aduh, aku goyah juga kalau kondisinya begitu.

Pernah suatu ketika ada pelatihan di Surabaya. Tepatnya di daerah Tambak Bayan. Aku belum pernah ke tempat itu sebelumnya. Orang-orang sibuk memberitahukan padaku tentang rute yang bisa kulalui untuk sampai ke tempat itu. Intinya, dari rumahku, jalur paling logis adalah melalui terminal Wilangun. Ada tiga alternatif yang bisa dipilih. Dan semua itu mereka jelaskan secara detail padaku. -Sepertinya mereka takut sekali kalau aku hilang atau nyasar. Padahal ya aku tak separah itu-

Namun di luar dugaan mereka, aku justru ingin lewat Bungurasih. Semua orang langsung mencurigai aku. Mereka pikir aku punya pacar yang tinggal atau bekerja di sekitar Bungurasih. Hizaaaa?

Sampai-sampai Pak Pancono bertanya secara pribadi pada Pak Kusno -kebetulan waktu itu orang yang paling banyak ngobrol denganku adalah Pak Kusno-, “si dia itu ada apa sih? Mau ke Tambak Bayan kok ndadak lewat Bungurasih?”

Seperti itu saja diributkan. Belum yang lain. Sebenarnya aku ingin sekali menulisnya di blog ini. Tapi menurutku tidak akan seseru kalau kuceritakan saja secara langsung. Bagaimana caranya ya? He he he

Well, kita lanjutkan saja. Meskipun aku sering jadi korban begitu, aku justru semakin menjadi-jadi. Begitu juga orang-orang, mereka tak mau kalah. Alhasil, semua baru berhenti kalau sudah kesakitan tertawa.

Sama tapi tak serupa, sebuah cerita dari seorang temanku. Pekerjaannya saat ini adalah sebagai pialang saham dan berdomisili di Bandung. Sama, karena dia dan aku sama-sama belum menikah dan sama-sama jadi korban di kantor kami masing-masing. Tapi tak serupa kasusnya dengan kasusku.

Kalau aku, seperti yang sudah kuceritakan. Kalau temanku itu, dia justru malu dan ngambek sehingga membuat teman-teman kerjanya yang semuanya sudah menikah (kecuali bosnya) semakin senang ‘menggodanya’.

Beberapa hari yang lalu dia cerita padaku. Katanya dia lagi BT. Siang hari, dia diberitahu salah seorang temannya, “Tik, kamu dipanggil Pak A (begitu temanku menyebut bosnya saat kami bergosip ria viasms). Kamu disuruh ke ruangannya.”

Temanku pikir itu serius. Dia benar-benar datang ke ruangan Pak A. Yeaaa Pak A senang sekali temanku datang, meskipun tadi dia tidak memanggil. Dengan senyum lembut, lelaki 30 tahun itu menyuruh temanku (22 tahun) keluar dari ruangannya. Semua orang di luar ruangan itu sudah menyambut dengan tawa. Tak peduli pada penderitaan temanku akibat ulah mereka. Dan temanku itu langsung ngambek di depan pintu.

Begitulah nasib seorang bujangan. Lumayan, bisa jadi penggembira.😉

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Cinta and tagged , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Nasib Seorang Bujangan

  1. yrproduction says:

    seruu juga yah ^__^

  2. afhien says:

    halaah Na, mengko nek wis bar nikah ganti “kapan punya momongan?”

  3. onezonemine says:

    afhien said: halaah Na, mengko nek wis bar nikah ganti “kapan punya momongan?”

    haha, bisa dijjawab ” secepatnya. sedang berusaha” hahaha, itu jawaban temen ku kemarin

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s