Nasihat dari Seorang Tentara

“Kuliah sudah lulus, pekerjaan sudah punya, lalu tinggal nunggu apa lagi?” pernyataan sekaligus pertanyaan yang yang selalu terlontar padaku setiap kali aku berkenalan dengan seseorang entah di bus, di kereta, atau di mana pun selama ada waktu yang memungkinkan. Tidak peduli siapa pun itu yang bertanya, entah mas-mas, bapak-bapak, atau pun ibu-ibu. Kalau mbak-mbak memang belum pernah ada yang bertanya semacam itu padaku. Dan aku sendiri bahkan sampai bosan dengan jawaban itu-itu saja yang bisa aku lontarkan.

Dua bulan sudah aku bekerja tidak sebagai guru. -Sebenarnya sudah empat bulan aku bukanlah seorang guru, tapi aku baru bekerja lagi sejak dua bulan.- Tempat kerjaku yang baru berjarak sekitar satu jam 20 menit perjalanan. Melintasi jalur Gresik-Babat yang merupakan ruas jalur pantura. Aku bisa naik bus Surabaya-Tuban, Surabaya-Bojonegoro, atau pun Surabaya-Semarang. Oleh karena itu, banyak sekali orang yang kutemui setiap hari. Orang yang bepergian dengan berbagai tujuan. Sebagian besar juga sedang perjalanan bekerja seperti aku.

Hampir setiap hari aku berkenalan dan ngobrol dengan orang yang berada di sebelahku saat aku duduk di bus. Lebih sering memang dengan bapak-bapak. Dan seperti yang sudah kukatakan di awal, selalu ada pernyataan dan pertanyaan seperti itu. Padahal, saat pertama kali berkenalan tidak ada yang bertanya padaku, “Kerja di mana Mbak?” Mereka rata-rata mengira aku masih kuliah dan tak jarang yang menyangka aku masih SMA. Lalu kenapa ujung-ujungnya bertanya seperti itu? Aku juga tidak tahu.

Sekitar satu bulan yang lalu saat aku berangkat kebetulan aku duduk bersebelahan dengan seorang tentara. Kebetulan juga dia masih famili dengan ipar dari pamanku. Dan itu tidak penting.

Seperti sebagian besar orang yang kutemui, tentara itu menyangka aku masih kuliah. Tapi pada ujungnya dia juga melontarkan pernyataan dan pertanyaan yang sama dengan orang-orang yang lain.

“Kuliah sudah lulus, pekerjaan sudah punya, lalu tinggal nunggu apa lagi?” katanya.

“Nunggu makan siang Pak.” jawabku. Dia langsung tertawa.

Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya. Dia melanjutkan, “Ya kan usia sampean saat ini memang sudah waktunya bukan? Apalagi sudah didukung dengan pekerjaan.”

-Wallah orang ini rupanya serius amat. Mungkin itu bedanya tentara dengan bukan. Aku tidak tahu.-

“Haha” aku menjawabnya dengan tawa. -tapi aku bukan orang yang arogan- “Ya nanti kalau sudah waktunya ya nemu sendiri Pak. Saya sih santai saja. Hehehe.”

“Iya Mbak, bener itu. Gak usah pacaran atau nyoba yang nggak-nggak.”

“Loh? Kok tiba-tiba sampai situ? Aku diam menyimak.-

“Pacaran itu bukan cara untuk menemukan jodoh.”

-Loh? Kalau itu sih aku sudah tahu. Tapi yang membuat aku sedikit tak mengerti, kenapa dia punya prinsip seperti itu? Setahuku, hampir setiap orang tentara yang kutemui dan sempat berbincang denganku -kecuali paman, pak dhe, dan kakak iparku(wallah membela diri ini)-, mereka itu punya lebih dari satu pacar saat belum menikah. Tapi aku juga tidak tahu pasti, sebenarnya perempuan macam apa yang sebenarnya mereka inginkan jadi istri itu. Yeaaa semuanya akan kembali pada satu frase ‘jodoh yang sudah ditakdirkan oleh Allah’. Itu intermezo, kita lanjutkan pada topik utama.

“Dulu saya juga gitu. Saya pacaran sama anak xxx -aku lupa nama daerah yang dia sebut-. Eh waktu saya tinggal ke Timor-Timor, dia pergi sama laki-laki lain. Gak percaya dia sama saya. Terus saya ketemu Fatima -nama istrinya-, gak jauh-jauh. Gak lama-lama. Cuma setahun.”

-Widih? Setahun juga lama kali? Wa bisa ada berapa orang itu yang ngantri? Aku masih menyimak curhatnya.

“Waktu saya ketemu dia, dia sedang ditinggalkan pacarnya. Dan kita sudah sama-sama siap menikah. Lalu saya bilang padanya, “bagaimana kalau kita coba dulu?” dia mengiyakan. Sambil jalan kita belajar, satu tahun selesai ngurus-ngurus semuanya, jadi deh.”

-Memang kalau menikah dengan tentara itu yang diurus musti banyak ya?-

Aku tersenyum agar dia senang.

Dia melanjutkan, “Malah kalau pacaran terlalu lama bisa bosen nanti Mbak kalau sudah menikah.”

“Gitu ya Pak ya?” komentarku pura-pura tak tahu.

“Oh iya Mbak!” jawabnya dengan mantab. Kupikir dia akan memberikan penjelasan lebih lanjut.

“Lha calon sampean orang mana?”

“Wah belum saya putuskan Pak, banyak soalnya.” -tahu maksudku kan?-

“Hehehe, tenang saja Mbak, nanti kalau sudah saatnya juga pasti ketemu.”

-Lha? Bukankah tadi aku sudah menjawab seperti itu?-

“Ya kalau memang jodoh pasti nanti dikasih jalan sama Allah. Karena orang menikah itu bukan untuk kesenangan sesaat. Tapi untuk suka duka selamanya.”

-Wah so sweet-

“Jadi kalau misalnya sudah ketemu dengan orang yang cocok dan sudah siap menikah, langsung saja Mbak seperti saya. Perkenalan lebih lanjut biar tahu lebih banyak. Nah, kalau memang sudah benar-benar cocok, nikah aja. Asal dengan satu catatan Mbak, tidak ada manusia yang sempurna.”

Aku manggut-manggut sambil berkedip-kedip. Ternyata pengalaman dia -atau lebih tepat kalau itu kusebut teori- cukup bagus untuk dijadikan referensi. Seperti itu sepenggal cerita, nasihat yang kudapat dari seorang tentara sebulan yang lalu.

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Jodoh and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s