Terlalu sering Mendampingi?

Kemarin siang saya dan seorang teman pergi ke sebuah instansi. Kami ke sana untuk mengantarkan dokumen survei tentang indikator kinerja instansi pemerintah daerah. Salah satu instansi yang kami kunjungi tersebut adalah *e**eta*ia* *ew**. berbeda dengan tiga instansi sebelumnya, kami disambut secara profesional oleh orang yang kami temui. di instansi itu kami sungguh menemui peristiwa yang sangat meng’eneg’kan.

Dengan gaya negosiasi yang buruk dua orang ibu-ibu ngeyel pada kami bahwa mereka tidak janji untuk memberikan data. alasannya? bukan karena data yang kami minta bersifat rahasia. akan tetapi, karena PAK KETUA SIBUK MENDAMPINGI A**G*T* *EW**. jadi tidak punya jadwal untuk di kantor?

OOOH begitukah? Hanya untuk sekedar tanda tangan saja tidak punya waktu? Apakah semua pekerjaan itu dikerjakan olehnya? Apa gunanya dia punya staf? Tidak adakah seorang staf yang punya inisatif mengerjakan pekerjaan selama pak Ketua tidak di tempat? Lalu saat dia ada dia tinggal memeriksa dan menadatangani jika perlu? Sesederhana itu tidak ada yang mengerti? Padahal instansi-instansi lain dengan pimpinan sibuk bekerja dengan cara seperti itu.

Seorang ibu berkata dengan gaya pesimis yang menyedihkan, “ujung-ujungnya nanti kita yang ngerjain”

Lhahhh? baru saja aku berpikir seperti itu. Ya Ampyun? Staf yang menyedihkan sekali. Aku memilih diam dari pada aku marah. temanku yang menanganinya.

Aku merasa eneg mendengarkan mereka bicara, temanku yang baik menjawab dengan seperlunya. Aku curiga satu hal. Dari gaya kedua ibu itu, mereka terbiasa benegosiasi untuk ‘wani piro?’ atas apa yang mereka kerjaan. (Astagfirullah, mungkin aku yang terlalu su’udzon). Dan satu hal yang membuatku geli, pak pimpinan yang selalu mendampingi. Iya kah? Hanya mendampingi diperlukan seorang pimpinan instansi? Apakah dia lalu bisa banyak berkontribusi dengan menjadi seorang pendamping?

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Opini and tagged . Bookmark the permalink.

3 Responses to Terlalu sering Mendampingi?

  1. afhien says:

    Na, nulisnya sambil emosi yaah? heheheee… agak ga gitu ngerti (apa akunya yang ga bisa nangkep?) hihihiiii.. aku juga suka gini sih… nulis buat melampiaskan aja…hohooooo

  2. onezonemine says:

    afhien said: Na, nulisnya sambil emosi yaah? heheheee… agak ga gitu ngerti (apa akunya yang ga bisa nangkep?) hihihiiii.. aku juga suka gini sih… nulis buat melampiaskan aja…hohooooo

    wah iya kah? rodo sih, lha wonge nggilani owk, jengkel aku

  3. onezonemine says:

    afhien said: Na, nulisnya sambil emosi yaah? heheheee… agak ga gitu ngerti (apa akunya yang ga bisa nangkep?) hihihiiii.. aku juga suka gini sih… nulis buat melampiaskan aja…hohooooo

    tapi aku emang rodok jahat juga sih, hehehe, kemarin aku masih mending diem. masih bisa nahan. kalau enggak lah udah tak semprot orang itu

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s