Menyapu Sampah

Sore hari kemarin saya tiba di kost tepat setelah adzan Magrib berkumandang. Seperti biasa, setelah ditinggal 3 hari lantai kamar saya terasa risih karena debu. Saya pun lalu menyapunya.

Ternyata saat saya mengambil sapu, saya bertemu dengan ibu kost. Ibu kost adalah tipe orang yang masih percaya dengan hal-hal yang ‘katanya orang jaman dahulu’. Menyapu pada malam hari adalah larangan orang jaman dahulu. Maka secara otomatis ibu kost sangat tidak setuju dengan apa yang saya lakukan. ‘Menyapu pada malam hari itu menyapu rejeki, bukan menyapu sampah’ begitu kata ibu kost dulu ketika aku menyapu malam hari. Dan melihatku akan menyapu lagi pada malam hari kemarin, ibu kost nampak tidak hati memberitahuku lagi. Tapi mungkin dalam hatinya dia takut jika perbuatanku itu akan menyapu rejeki. Entah rejeki siapa.

Sebenarnya saya sangat sering menyapu pada malam hari. Karena sering sampai di kost malam. Tapi saya berusaha untuk tidak diketahui ibu kost. Bukan karena saya takut padanya atau pada apa yang dikatakannya. Saya hanya berusaha menghormati ‘keyakinan’ beliau akan hal itu. Selama ini masih banyak dijumpai ‘keyakinan-keyakinan’ pada ‘katanya orang jaman dahulu’. Hal itu justru menjadi ketakutan yang menghambat kehidupan seseorang. Sebenarnya ketakutan itulah yang menjadi energi negatif dalam pikiran seseorang sehingga benar-benar terwujud dalam kenyataan. Seperti kata peribahasa asing you are what you think.

Mungkin masih banyak orang tua (di sekitar) kita yang memiliki keyakinan demikian. Dan menjadi tugas kita untuk membenahinya. Tentu dengan cara yang baik, tanpa menggurui dan tanpa menyinggungnya. Untuk hal menyapu di malam hari, bisa jadi orang jaman dahulu memang melarang anaknya melakukan hal itu. Sebab menyapu itu menyebabkan suara berisik dan debu berterbangan. Rumah orang jaman dahulu kan masih banyak yang berlantaikan tanah dan menyapunya pun pakai lidi. Dan dia malas menjelaskan jadi untuk mudahnya dia katakan bahwa menyapu malam hari itu menyapu rejeki.

“Diniatkan menyapu sampah ya Nak?” pinta ibu kost dengan lembut padaku kemarin malam. “Biar tidak menyapu rejeki.” Tambahnya.

Aku ingin tertawa mendengarnya tapi kutahan. “Iya Bu, sudah saya niatkan demikian.”

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Hikmah and tagged . Bookmark the permalink.

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s