cinta, lagi-lagi cinta. . .

cinta, lagi-lagi soal cinta. semenjak saya bergabung dengan bidang pers dan media saat kuliah dulu, memang mau tak mau saya harus menulis hampir tiap pekan untuk mengisi buletin. dan flash back, kebanyakan tulisan saya tak jauh dari tema itu, cinta. karena dalam sehari-hari pun tak lepas dari perbincangan seputar cinta. bahkan sebenarnya, apa yang manusia lakukan itu mengandung unsur cinta.

 
OK, membuat batasan pada tulisan kali ini, izinkan saya mengambil salah satu makna cinta yaitu cinta dalam arti perasaan menyukai, simpati, dan berharap kepada lawan jenis. dan izinkan pula saya batasi usianya yakni masa penantian sampai bertemu dengan jodoh. masa penantian itu bisa dimulai sejak mahasiswa atau bahkan sejak SMA. jadi kalau mahasiswa yang mengaku cinta, tembak-menembak, pacaran, putus-nyambung, tidak termasuk dalam bahasan ini ^_^
 
Dalam batasan kali ini, menurut saya cinta itu bisa dibagi dalam tiga warna. pertama cinta sebagai anugrah dari Allah, kedua dia adalah ujian dari Allah, dan ketiga adalah nafsu yang mengatasnamakan dirinya cinta.
 
yang pertama, cinta sebagai anugrah dari Allah adalah cinta yang dikaruniakan Allah kepada mereka yang menikah karena Allah. mereka adalah orang-orang yang berusaha sekuat tenaga menjaga hati dan dirinya dalam masa penantian hingga dipertemukan dengan jodohnya dan disatukan dalam ikatan pernikahan yang sah oleh Allah. witing trisno jalaran saking kulino, peribahasa Jawa yang berarti cinta tumbuh karena sering bersama. kira-kira seperti itulah Allah menganugrahkan cinta itu.
 
yang kedua, cinta sebagai ujian. cinta itu fitrah manusia, terkadang jatuh sebelum waktunya. jadilah dia sebagai ujian. bisa jadi, melalui ujian cinta ini Allah mempertemukan hamba dengan pasangannya. contohnya ibunda Khadijah yang cinta pada akhlak Rasulullah. dengan profesional beliau mengusahakan cintanya hingga akhirnya beliau halal untuk Rasulullah. lalu seperti Fatimah dan Ali. Sebelum menikah, Fatimah diuji cinta oleh Allah. Tapi Fatimah bisa melalu ujian itu dengan sempurna, hingga setan pun tak tahu.
 
kalau dianalogikan dengan masa sekarang, bisa jadi (dan sepertinya sering, sangat sering, dan paling sering) seorang perempuan atau laki-laki yang dalam masa penantian telah mencintai seseorang sebelum halal untuknya.
 
saya punya seorang teman, semoga Allah menjaga dan merahmatinya. Saat ini dia sedang mengerjakan sebuah proyek dengan seorang laki-laki. teman saya itu mengagumi akhlak laki-laki tersebut. yea, mungkin dia sedang diuji cinta oleh Allah. teman saya berusaha bersikap seprofesional mungkin dalam melaksanakan proyeknya. dia sama sekali tidak menunjukkan perasaannya pada laki-laki itu.
 
bahkan sampai suatu saat si laki-laki itu mengabarkan bahwa dirinya akan melamar perempuan, entah siapa. ya sebenarnya teman saya itu patah hati. tapi? dia berusaha untuk tidak menunjukkannya. walau pun bisa jadi, laki-laki itu hanya ngetes teman saya, karena sampai saat ini nyatanya si laki-laki itu belum melamar siapa pun. bisa jadi juga si laki-laki itu juga sedang diuji cinta oleh Allah. entah mereka nantinya berjodoh atau tidak.
Yeah namanya jodoh itu memang harus dijemput dengan usaha. kalau laki-laki gampang, tinggal lamar aja tu perempuan! kalau diterima ya Alhamdulillah. kalau ditolak? ya lamar lagi! Lho? kalau perempuan ya cuma bisa menunggu sambil berdo’a. jarang sekali yang berani minta dilamar.
 
Ya. cinta datang sebagai ujian.cinta sebagaimana definisi di awal tulisan ini. cinta sebagai rasa suka, simpati, dan berharap bisa bersama dengan seseorang. maka selanjutnya adalah bagaimana seseorang melalui ujian cinta ini. bagaimana dia menjaga diri dan hatinya.dan bagaimana dia mengusahakan cintanya hingga Allah pun ridho.
 
dan yang ketiga, nafsu yang mengatasnamakan cinta. bisa jadi awalnya cinta datang sebagai ujian, tapi lama-lama ternyata nafsu yang mengatasnamakan cinta. masa penantian adalah masa yang rentan. saling memberi perhatian lebih, saling panggil sayang, pama-mama, dst. pergi berduaan, dan lain-lain. padahal kan belum tentu berjodoh. ujung-ujungnya sakit hati. mengutip analogi Ustad Salim A. Fillah dalam bukunya ‘Nikmatnya Pacaran setelah Pernikahan’, ibarat sup kaldu yang bumbunya dimakan dulu. Yang akhirnya bikin sup jadi tidak senikmat kalau bumbunya masih utuh. seperti itu, kalau pun akhirnya berjodoh, akan mengurangi kebarokahannya.
 
menutup tulisan ini, saya mengutip lagi quote seorang trainer, “mencintai lalu menikah itu biasa. tapi menikah lalu mencintai, itu baru luar biasa!” Jadi, mau pilih mana?

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Cinta and tagged , . Bookmark the permalink.

9 Responses to cinta, lagi-lagi cinta. . .

  1. repot emang klo “cinlok” krn aktivitaspilihannya dua:mending diungkapin perasaannya ato dihindariHehe

  2. onezonemine says:

    sukmakutersenyum said: repot emang klo “cinlok” krn aktivitaspilihannya dua:mending diungkapin perasaannya ato dihindariHehe

    haha, sak jane kalau temenku itu yang laki-laki ya tak suruh ngungkapin aja a.k.a nglamar saja! tapi temanku yang perempuan, jadi nampaknya dia milih ‘hindar’ mbak

  3. peripathian says:

    sukmakutersenyum said: repot emang klo “cinlok” krn aktivitaspilihannya dua:mending diungkapin perasaannya ato dihindariHehe

    Ah, lelaki sudah dikasih label di sini, ga jadi nimbrung akh ^^ Nice post anyway

  4. onezonemine says:

    sukmakutersenyum said: repot emang klo “cinlok” krn aktivitaspilihannya dua:mending diungkapin perasaannya ato dihindariHehe

    Hishh. Dibaca atuhhh…Ini aja point pentingnya :Yeah namanya jodoh itu memang harus dijemput dengan usaha. kalau laki-laki gampang, tinggal lamar aja tu perempuan! kalau diterima ya Alhamdulillah. kalau ditolak? ya lamar lagi! Lho? kalau perempuan ya cuma bisa menunggu sambil berdo’a. jarang sekali yang berani minta dilamar.

  5. onezonemine says:

    sukmakutersenyum said: repot emang klo “cinlok” krn aktivitaspilihannya dua:mending diungkapin perasaannya ato dihindariHehe

    point penting terkait yang di QN tadi

  6. peripathian says:

    sukmakutersenyum said: repot emang klo “cinlok” krn aktivitaspilihannya dua:mending diungkapin perasaannya ato dihindariHehe

    Udah saya baca kok :DAnd that’s how it is…Karena merasa cuma bisa menunggulah makanya jodoh tak datang2 padamu. Ustadz Felix dan Mario Teguh pernah senada dalam memberikan solusi tentang ini: jangan cuma menunggu. Gunakan waktumu untuk memantaskan diri. Buat dirimu begitu bersinar sehingga calon2 yang terbaik akan menghampirimu dengan sendirinya. Dan ini berlaku buat laki2 maupun perempuan :)Maaf kalo kedengarannya sok menggurui atau sok tau, hanya meneruskan nasihat saja. Wallahualam ^^

  7. onezonemine says:

    sukmakutersenyum said: repot emang klo “cinlok” krn aktivitaspilihannya dua:mending diungkapin perasaannya ato dihindariHehe

    Nggak, i suka sharing, tidak ada guru atau murid :)Ya bagi laki2, memantaskan diri dan melamar :p

  8. peripathian says:

    sukmakutersenyum said: repot emang klo “cinlok” krn aktivitaspilihannya dua:mending diungkapin perasaannya ato dihindariHehe

    Ahaha yeah baiklah…Dan bagi perempuan, memantaskan diri dan meminta bantuan saudaranya untuk dicarikan pelamar yang juga pantas baginya🙂

  9. onezonemine says:

    sukmakutersenyum said: repot emang klo “cinlok” krn aktivitaspilihannya dua:mending diungkapin perasaannya ato dihindariHehe

    Yapz bentul!😀

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s