Catatan Seorang Mahasiswa

Senja sore ini tak seindah biasanya. Tak ada sedikitpun cahaya merah jingga yang membuat langit tampak merona. Angin dingin bertiup, menusuk pori kulit bahkan sampai ke dasar hati, mencekam dan sepi. Semua itu membuatku enggan melangkahkan kaki. Kulihat ada empat orang dengan tas super besar di punggungnya sedang berjalan kelelahan. Sepertinya mereka anak pecinta alam yang baru saja dilantik menjadi anggota.

Suasana sore yang tak kusuka. Rasanya ngilu dan sepi di dasar hati. Di kost tak ada orang kecuali aku seorang diri. Mungkin karena itu aku jadi sedih. Ah, tapi bukan. Bukan itu. Itu sudah biasa. Selama ini semua anak sudah mudik ke kota asal masing-masing.

Dadaku terasa sesak dan aku ingin menangis. Mungkin dengan menangis saja akan cukup untuk menghangatkan hati. Akan tetapi aku tak bisa.

Sebenarnya aku tahu, akan sesuatu yang memperlambat aliran darahku, membuat lemah fisikku, dan melabilkan emosiku. Aku sedang limited uang! Itulah alasannya. Allah sedang mengujiku di sisi ini. Banyak yang harus kukeluarkan. Apalagi untuk KP? Banyak uang yang sangat aku perlukan. Huaaaaaah lembaran-lembaran rupiah itu membuatku pusing?! Mana adik les juga minta libur?

Allah benar-benar sedang mengujiku. “Ya Allah Yang Mahakaya, berilah aku rizki dari arah yang tidak disangka-sangka. Amin.”

Dan ternyata, selain lembaran-lembaran rupiah itu yang telah membuatku sedih, tak kalah menyedihkan dari apa yang kuperbuat. Kejahatan hatiku sendiri yang membuatku menderita. “Ya Allah, ampunilah hamba-Mu yang jahat ini!”

Tak seharusnya hatiku jahat begini pada saudariku. Kenapa? Kenapa aku enggan menolongnya? Mempermudah urusannya? Tapi justru malas berinteraksi dengannya? Kenapa? Kenapa hati ini tak mau lapang menerima? Kenapa? Kenapa hati ini masih menuntut?

Ya Allah, Kau Maha Tahu. Dia begitu sering seperti itu, pun dia juga banyak membantuku. Dan dia tak pernah mengucap kata maaf. Ya Allah, aku ingin sabar.

Ya Allah, maafkan aku. Yang sejak malam itu kecewa pada saudariku dan jadi enggan menolongnya. Memaafkan macam apa aku ini? Ya Allah, maafkan atas kejahatan hatiku padanya dan lapangkanlah pintu kesabaran di hatiku. Amiiiin!

#Diary 180209

(Beberapa hari yang lalu merapihkan rak buku dan menemukan selembar kertas yang berisikan curahan hatiku kala itu. Kala itu saat aku masih menjadi seorang mahasiswa😀. Dan ‘saudariku’ itu, entah siapa? Aku mencoba mengingatnya sepanjang hari kemarin, tapi tak kutemukan siapa dia sampai saat ini😀. Harap maklum!)

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Hikmah and tagged , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Catatan Seorang Mahasiswa

  1. afhien says:

    kebiasaan ihh… pelupa!! :p

  2. onezonemine says:

    afhien said: kebiasaan ihh… pelupa!! :p

    Ehehehe, iya.Obatnya apa ya? ;p

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s