Batas Sebuah Penantian

Dalam kondisi apa pun dan dari waktu ke waktu, rasa-rasanya kita tidak lebih dari pada posisi menanti. Misal saja saat ini kita sedang berada di tengah malam dan besok pagi ada sesuatu yang akan kita kerjakan, maka malam ini kita akan menanti datangnya besok. Misalnya lagi kita sedang janji untuk bertemu dengan seseorang, otomatis kita akan menunggu orang tersebut. Atau saat kita mengikuti sebuah acara, tentu saja kita menunggu acara tersebut dimulai.

Penantian-penantian contoh di atas adalah sebuah penantian dengan batas yang jelas. Misalnya lagi dulu saat SMP kita menanti lulus. Begitu pun saat SMA. Atau yang kuliah di akademi yang batas kelulusannya ditentukan.

Selain batas yang jelas dari sebuah penantian, ada juga batas yang ditentukan namun belum tentu benar-benar menjadi batas sebuah penantian. Misalnya, saya mentargetkan lulus S1 setelah 3,5 tahun. Saya bisa memenuhi batas jika dan hanya jika saya benar-benar berusaha untuk bisa menyelesaikan study tepat waktu. Itu pun tidak menjadi jaminan karena masih ada faktor lain yang mempengaruhi. Contoh lain misalnya, kita mentargetkan mempunyai mobil Toyota Rush  lima tahun yang akan datang. 5 tahun memang menjadi batas tapi tidak belum tentu benar-benar menjadi akhir penantian kita akan Toyota Rush.

Ada lagi, penantian tanpa batas (yang jelas). Contoh paling gampang adalah menanti jodoh. Benar-benar tidak ada batasnya sampai kapan seseorang itu menunggu hingga dipertemukan dengan pasangannya. Tidak ada patokan yang jelas. Maksudnya begini, banyak orang yang belum siap menikah secara usia,  materi, maupun mental, tetapi mau-tak mau harus menikah. Sebaliknya, ada orang yang sudah matang dari segi apapun, orang tersebut juga sudah berniat menikah, padahal kelakuannya pun baik, tapi masih harus menunggu calon pendampingnya. Karena memang menanti jodoh adalah sebuah penantian tanpa batas (yang jelas).

Dan ada satu penantian lagi. Penantian yang dinanti itu adalah ‘batas sebuah penantian’. Penantian yang butuh banyak persiapan. Apa lagi kalau bukan penantian kita untuk bertemu dengan Rabb kita? Dengan kata lain, hidup ini memang tak lebih dari sekedar menanti. Menanti kematian di dunia. Kata lainnya, kita ini sedang on the way home. Kita ini sedang dalam perjalanan pulang. Maka batas penantian ini adalah sampai batas penantian itu berakhir.

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Menu Motivasi and tagged , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Batas Sebuah Penantian

  1. however…the waiting is boring job…..menanti…ah…

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s