Jilbab itu adalah Sebuah Keputusan

Siang ini saya baru saja ‘bermain’ ke sebuah LSM. Secara umum, namanya juga LSM, aktivitas lembaga ini bergerak di bidang sosial kemasyarakatan. Saya pun tanya contoh kegiatannya apa saja. Misalnya saat isu kenaikan BBM bulan Maret yang lalu. Di pulau Bawean harga premium mencapai 10 ribu rupiah per liter. Lalu LSM ini ‘menginvestigasi’ sampai akhirnya ditemukan ‘biang keladi’ yang harus bertanggung jawab. Lalu LSM ini pun mem-follow up ke media hingga akhirnya harga premium kembali normal.

Lalu ada lagi contoh kasus. Jauh-jauh hari sebelum tahun ajaran baru dimulai, sudah ada Sekolah Dasar yang membuka pendaftaran dengan biaya pendaftaran sangat-sangat mahal. Akhirnya pengaduan dari masyatrakat pun diterima dan ‘diselesaikanlah’ kasus tersebut.

Dan masih banyak lagi hal lain yang ditangani oleh LSM tersebut. Pada intinya adalah mengadvokasi pengaduan dari masyarakat.

Saya pun jadi teringat pada kasus seorang temannya teman yang mengalami kesulitan saat akan menikah. Saya pun iseng bertanya pada narasumber.

“Pak, kalau misalkan ada kasus orang yang mau menikah tapi harus lepas jilbab untuk foto pernikahannya sedangkan orang tersebut ingin mempertahankan jilbabnya, apa bisa diperjuangkan melalui LSM seperti ini?” tanyaku.

“Oh tentu saja. Itu bisa. Kami akan perjuangkan. Karena jilbab itu adalah sebuah keputusan seseorang. Jilbab bukan asesoris dan juga bukan pakaian yang sekedar untuk mode. Memakai jilbab itu adalah hak asasi seseorang. Jadi kalau dilarang memakai jilbab, berarti itu sudah dilanggar hak asasi-nya!”

Saya antusias senang mendengar jawaban si Bapak. Lalu saya pun membalas, “Tapi kan gini Pak. Ini negara demokrasi, bukan negara Islam. Bukankah justru karena demokrasi maka berjilbab adalah hak asasi?”

“Iya betul itu. Bahkan sekarang sudah banyak polisi wanita yang berjilbab dan tetap memakai topi tugasnya. Bahkan beberapa kepala daerah wanita pun banyak yang berjilbab. Jadi tidak ada alasan menikah dilarang berjilbab.”

Kira-kira begitulah obrolan siangku bersama Bapak tadi sebelum akhirnya kami membicarakan hal-hal yang lain.

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Menu Motivasi and tagged , , . Bookmark the permalink.

10 Responses to Jilbab itu adalah Sebuah Keputusan

  1. rudal2008 says:

    Menarik sekali ceritanya. Thanks ya sharingnya.

  2. elok46 says:

    betul setujusekarang kenyataanya jilbab itu adalah pakaian seperti kebiasaan ketika pergi ke nikahan dan saya kurang setuju hal itu🙂

  3. martoart says:

    Lah, aturan mana foto nikah harus lepas jilbab?ga harus nunggu aturan Islam untuk itu juga. Photo paspor aja boleh kok pake jilbab.

  4. onezonemine says:

    rudal2008 said: Menarik sekali ceritanya. Thanks ya sharingnya.

    🙂 Sama-sama

  5. onezonemine says:

    elok46 said: betul setujusekarang kenyataanya jilbab itu adalah pakaian seperti kebiasaan ketika pergi ke nikahan dan saya kurang setuju hal itu🙂

    yang kurang setuju yang mana ya Mbak? Hehee, yang macam kondangan itu kah? iya kadang-kadang ada yang seperti itu. Sangat disayangkan ya

  6. onezonemine says:

    martoart said: Lah, aturan mana foto nikah harus lepas jilbab?ga harus nunggu aturan Islam untuk itu juga. Photo paspor aja boleh kok pake jilbab.

    Iya ada loh aturan seperti itu :(Jaman dulu SMA juga. Foto ijazah gak boleh berjilbab (tahun 2006). Semua temanku yang berjilbab pada dilepas😦 -termasuk saya. Yang waktu itu masih belajar sieh. Karene beneran berjilbab ya buru 4 tahunan, hehehe-Tapi sepertinya sekarang sudah tidak lagi seperti itu.

  7. elok46 says:

    onezonemine said: yang kurang setuju yang mana ya Mbak? Hehee, yang macam kondangan itu kah? iya kadang-kadang ada yang seperti itu. Sangat disayangkan ya

    misalnya karena telah menjadi kebiasaan seragam sekolah disini diwajibkan memakai jilbab tapi bajunya lengan pendek dan rok pendek laaaaah itu kan aneh sepertinya ada sebuah perkataan seperti ini “yang penting pake kerudung”mungkin ini yang akan terjadi jika dijadikan sebuah kebiasaankebiasaan beda dengan kesadaran, dan kewajiban

  8. onezonemine says:

    elok46 said: misalnya karena telah menjadi kebiasaan seragam sekolah disini diwajibkan memakai jilbab tapi bajunya lengan pendek dan rok pendek laaaaah itu kan aneh sepertinya ada sebuah perkataan seperti ini “yang penting pake kerudung”mungkin ini yang akan terjadi jika dijadikan sebuah kebiasaankebiasaan beda dengan kesadaran, dan kewajiban

    Kadang memang banyak dijumpai pemahaman seperti itu, yg penting pakai kerudung. Ya mudah-mudahan aja yang berjilbab bermula dari kesadaran Mbak. Yang begituan mudah-mudahan bisa lebih baik🙂

  9. elok46 says:

    onezonemine said: Kadang memang banyak dijumpai pemahaman seperti itu, yg penting pakai kerudung. Ya mudah-mudahan aja yang berjilbab bermula dari kesadaran Mbak. Yang begituan mudah-mudahan bisa lebih baik🙂

    amieeen

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s