Anak Seorang Petani

Siang itu matahari sudah lumayan tinggi, menyisakan sepertiga tinggi dari setiap bayangan yang terbentuk karenanya. Cukup panas terasa. Bahkan pohon jati yang biasanya meneduhi juga merasa kepanasan. Peluh keringat telah membasahi seluruh raga.

Saat itu, seorang laki-laki berusia 67 tahun bersama istrinya yang berusia 58 tahun sedang menikmati nasi goreng di ladang mereka. Setelah sejak pagi mereka beraktivitas di ladangnya. Mencangkul, memotong rumput, membuat lubang, memasukkan butir-butir biji jagung ke lubang yang baru saja dibuat, memasukkan kotoran kambing untuk menutupi biji jagung itu, dan seterusnya. Itulah yang meraka lakukan sebagai petani yang kebetulan saat itu sedang menanam jagung. Ya, sepanjang hampir 40 tahun mereka menikah, selama itulah mereka hidup sebagai petani ladang. Belum ditambah usia mereka sebelum menikah juga menjadi petani.

Mereka hidup seperti petani-petani yang lain, hidup yang sederhana. Setiap hari mencangkul tanah, menanam bibit, merawatnya, hingga memanen. Merekalah yang merawat padi hingga menjadi beras yang selanjutnya di makan oleh semua orang di seluruh negeri. Merekalah yang merawat palawija, sayur-mayur, berbagai buah, yang dimakan oleh presiden, wakilnya, juga para menteri. Bahagianya menjadi petani, tiada orang yang bisa memaksa mereka untuk tunduk di bawah kuasanya, meski mereka tetap harus patuh pada musim dan cuaca.

Itulah yang dirasakan oleh suami-istri tersebut yang dikatakan pada anaknya. Meski anaknya tahu bahwa menjadi petani adalah profesi yang paling ironi di negerinya, lantaran modal merawat yang cukup besar sementara saat panen justru dihargai sangat murah. Petani adalah komoditas politik di negerinya. Ah, tapi itu tak penting. Toh, Allah yang telah mengaturnya dan memberikan kecukupan pada hamba-Nya. Dan para petani adalah warga yang paling ‘nurut’ pada negara. Anaknya pun bangga ditakdirkan lahir menjadi anak seorang petani.

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Menu Motivasi and tagged . Bookmark the permalink.

2 Responses to Anak Seorang Petani

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s