Kalau Jodoh Pasti Dipertemukan

“Ukh, saya mau mengantar undangan ke tempat anti, tapi tidak sempat. Lewat sms saja tidak apa kan?”

Sebuah sms dari nomer yang belum ada namanya di hp saya. Maklum, hp lama rusak dan terpaksa ganti yang baru.

“Maaf ini dengan siapa? Iya tidak apa.” Balasku

Lalu dibalasnya. Tanggal pernikahannya adalah 17 Mei 2012. Wah, saya tak bisa datang itu karena saya akan backpacker ke Jogja dengan teman. Dalam hati pun dengan mudah dan tidak ada rasa apa pun jika saya tak datang. Karena kami hanya bertemu dua kali. Pertama adalah di balai desa. Tidak sengaja, cepat, tukar no hp, selesai. Setelah itu kami sempat bertemu di jalan. Tapi selain itu kami memang sering sms-an. Entah bagaimana membahasakannya, tapi kami berasa sebagai teman baik.

Kami lalu sms-an membahas yang lain, sampai dia mengirim sms,

“Ukh, anti bersedia kan datang di pernikahan ana?”

Wuaaaaaa, saya langsung menangis membacanya. Undangan ini berasa begitu spesial. Saya jadi merasa tidak enak hati. Tapi saya juga tidak bisa secara sepihak mengundurkan jadwal backpacker. Akhirnya, dengan berat hati saya bilang bahwa saya tak bisa datang. Saya akan datang sepulang backpacker saja.

Tetapi, apa yang terjadi? Saya justru mendapat tugas dari kantor sehingga mau atau pun tidak, saya harus menunda jadwal keberangkatan backpacker saya. Dan di luar perhitungan, saya jadi bisa datang di hari pernikahan teman spesial saya itu. Bahkan saya justru datang di aqad-nya, bukan resepsi-nya. Ternyata saya berjodoh dengan ‘undangan pernikahannya’ sehingga saya tetap datang di hari itu.

Bahkan sore hari sebelum pernikahannya kami bertemu di salon. Karena baru bertemu dua kali, saya sangat tidak ingat wajahnya, hehehe. Dia sudah di salon lebih dulu, saya duduk si sampingnya tapi sama sekali tidak mengenalinya.

Dia agak curiga, namun tidak berani menyapa, karena khawatir salah orang juga. Dia pun sms saya,”Assalamualaykum. Ukh, anti di mana sekarang?”

Saya tidak tahu hape saya bergetar. Dan setelah agak lama, tiba-tiba saya ingin ngecek hp apakah ada sms atau tidak. Saya baca sms darinya dan dengan malu saya membalas, “di Salon M*z*, hehehe”

Sms langsung dibuka olehnya dan dia langsung bersiap. Saat saya menengok untuk mengembalikan hape, saat itu dia langsung menyapa saya. Dan dengan cuek saya justru menjawab,”Iya maaf dengan siapa? Apa kita sudah pernah bertemu sebelumnya?”

“Iya ukh, saya Chandra” Jawabnya sambil tersenyum.

?! Saya senang, malu, dan syok dengan pertemuan itu. Lalu kami mengobrol banyak sekali dan pulang bersama, termasuk dia menceritakan ‘pertemuan’ dia dengan suaminya. Dan ternyata dia adalah sahabat dekat teman sekost saya saat kuliah dulu. Subhanallah😉

Yeah, jika jodoh pasti dipertemukan. Itulah kesimpulan saya. Jodoh itu bukan hanya suami-istri, tapi teman, pekerjaan, barang, dokter, apa pun itu yang ‘pas’ berarti dia jodoh. Tidak bisa dipaksaan, semuanya alami.

Ada lagi pengalaman saya. Saat ini, saya cukup dekat dengan Mbak Mey. Dia adalah kakak kelas saya waktu SMA. Saya kelas 1 dan dia kelas 3. Kami sama sekali tidak saling mengenal. Saya hanya tahu dia sebatas karena dia adalah pengurus OSIS dan menjadi panitia saat MOS. Tapi saya sama sekali tidak tertarik padanya. Entah bagaimana dengannya, yang jelas dulu saat SMA saya ini preman (Ah, malu), jadi dia mungkin sedikit tahu tentang saya. Padahal dia adalah peringkat 1 paralel sekolah dan saya baru tahu beberapa hari yang lalu. Dia juga sempat menjadi juara 3 Siswa Teladan Tingkat Propinsi Jatim waktu itu. Seandainya saya tahu dari dulu, mungkin akan berbeda ceritanya, hehehe.

Praktis, selama SMA kami tak pernah bercakap-cakap sekali pun. Kalau dihitung semenjak dia lulus SMA tahun 2004, berarti 7 tahun sudah. Lalu sekitar Mei 2011, kami ada kegiatan di satu tempat di Malang. Saat akan pulang saya melihatnya. Saya merasa pernah melihat orang ini. Entah di mana.

Kebetulan saya nebeng mobil temannya untuk ke jalan raya. Di mobil kami bercakap-cakap. Entah angin baik dari mana, saya bertanya padanya. “Mbak ini seperti kakak kelasku. Tapi entah kapan?”

Dan ternyata? Dia adalah kakak kelas SMAku. Kami pun mengobrol banyak sekali. Apalagi saya malah dilarang turun tapi diajak sampai Lamongan. Ditambah macet di Mojokerto sehingga menambah waktu kebersamaan kami. Dan seterusnya setelah itu, kami menjadi teman dekat.

Saya baru berjodoh dengan Mbak Mey di bulan Mei tahun 2011. Tidak sejak dulu saat kami duduk di bangku SMA. Akan tetapi, seandainya ‘kami tidak berjodoh’, pastilah kami tak kan seperti sekarang. Mungkin akan tetap seperti dulu hanya sebatas saling tahu saja. Jadi, jika berjodoh akan tetap dipertemukan.

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Jodoh and tagged , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Kalau Jodoh Pasti Dipertemukan

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s