Pada Sebuah Titik Terendah

Ini cerita dari seorang sahabat saya. Sebut saja namanya Anna. Dia seorang akhwat yang bekerja di sebuah perusahaan. Ketika dia masuk kantornya di sana ada seorang ikhwan. Namun ikhwan tersebut sudah berkeluarga dan umurnya pun selisih hampir 15 tahun dengan Anna. Jadi Anna menganggap ikhwan tersebut sebagai ‘ayah’ lantaran perbedaan usia tersebut.

Untuk beberapa hal, Anna suka berdiskusi dengan Pak Yanto (panggilan ikhwan itu). Untuk hal-hal yang belum dimengerti, Anna sering bertanya pada Pak Yanto. Bahkan Anna sempat menceritakan ‘kisah cinta’ (atau lebih tepat tentang perasaan Anna pada seseorang) pada Pak Yanto.

Suatu ketika Pak Yanto pernah bercerita pada Anna seusai Anna bercerita tentang ‘kisah cinta’-nya. Kata Pak Yanto, ada seorang teman SMA yang baru saja ‘nyambung’ via facebook . Lantas temannya itu sering curhat pada Pak Yanto. Temannya itu perempuan dan sudah bersuami. Sampai suatu hari suami perempuan itu membuka facebook istrinya dan mendapati hubungan istrinya yang (dianggap) terlalu dekat dengan Pak Yanto. Hingga sang suami menegur Pak Yanto.

Itu pengantar. Selanjutnya, dalam kisah cinta Anna yang diceritakan pada Pak Yanto itu ada bagian bahwa Anna dipanggil “Dek” oleh seseorang yang membuat hati Anna merasa berbeda. (Saya juga demikian, kalau ada yang memanggil saya “dek” baik laki-laki maupun perempuan, memang terasa berbeda, hehehehee)

Sampai suatu ketika, saat Pak Yanto meng-sms Anna terkait masalah pekerjaan, Pak Yanto iseng memanggil “dek Anna”. Entah apa maksud Pak Yanto, tapi Anna tidak menanggapi “dek” tersebut.

Hingga suatu saat Anna diminta mewakili Pak Yanto pada sebuah pertemuan. Banyak teman Pak Yanto yang mengatakan bahwa Anna mirip dengan Pak Yanto dan di saat yang sama Pak Yanto memanggilnya ‘Dek Anna’. Bukankah banyak orang bilang kalau jodoh itu mirip?

Dan pernah terjadi percakapan lewat telepon saat Pak Yanto dinas luar kota untuk waktu yang cukup lama.
Anna,”Pak, bapak pulang kapan?”
Pak Yanto,”Kamu kangen ya?”
Anna,”Kurang lebih demikian.”
Pak Yanto,”Ya bilang saja tho Anna!”

Anna,”Ndak mau!”
Tawa meledak di keduanya.

Nah, bagian yang saya pertebal itu yang akan saya bicarakan. Ini murni sudut pandang perempuan karena ini adalah perbincangan saya dengan Anna. Sebagai perempuan yang masih singgle, tentu saja Anna mengharapkan suami. Dan oleh karena, jika pada saat itu Anna berada pada titik terendah keimanannya, bisa jadi Anna mengharap berjodoh dengan Pak Yanto. Pun tidak mengherankan jika hubungan Pak Yanto dengan teman SMA-nya yang tadi, pada akhirnya mengundang kecemburuan suaminya.

Tanpa bermaksud menyalahkan Pak Yanto karena kami tak tahu bagaimana pikiran Pak Yanto. Terkadang laki-laki itu terlalu logis, tidak begitu memperhatikan perasaan. Tapi ketahuilah, bahwa perempuan itu sangat sensitif. Bisa jadi hal-hal yang sangat sederhana menurut laki-laki, menjadi sangat istimewa bagi perempuan.

Maaf kalau alurnya aneh, tapi maksud saya demikian. Semoga cerita singkat dari teman saya itu bisa diambil ibrohnya.🙂

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Cinta and tagged , . Bookmark the permalink.

14 Responses to Pada Sebuah Titik Terendah

  1. mupengml says:

    *membaca kesimpulannya*..jadiii…kudu ati2 kalo berkata-kata sama cewek yah Jeng 😀

  2. justwik says:

    hati-hati kalo jatuh hati…

  3. onezonemine says:

    mupengml said: *membaca kesimpulannya*..jadiii…kudu ati2 kalo berkata-kata sama cewek yah Jeng 😀

    Yaps bethul Mas Muha🙂

  4. onezonemine says:

    justwik said: hati-hati kalo jatuh hati…

    Jatuh hati padamu, Mbk :p

  5. katerinas says:

    justwik said: hati-hati kalo jatuh hati…

    hati-hati main hati :)btw, terima kasih atas udangannya ya mbak. Semoga pertemanan ini menambah manfaat. Amin :)maafkan jika saya ternyata bukanlah contact yang ideal *nantinyaSelamat menunaikan ibadah puasa…

  6. onezonemine says:

    katerinas said: hati-hati main hati :)btw, terima kasih atas udangannya ya mbak. Semoga pertemanan ini menambah manfaat. Amin :)maafkan jika saya ternyata bukanlah contact yang ideal *nantinyaSelamat menunaikan ibadah puasa…

    HeheheIya Mbak sama2, terima kasih juga sudah konfirm :))Selamat puasa Mbak🙂

  7. rasikiniin says:

    onezonemine said: Tapi ketahuilah, bahwa perempuan itu sangat sensitif. Bisa jadi hal-hal yang sangat sederhana menurut laki-laki, menjadi sangat istimewa bagi perempuan.

    Nyimak …..

  8. onezonemine says:

    rasikiniin said: Nyimak …..

    A si bapak ini nyimak mulu… -___-Komeng Pak komeng… hehehe

  9. bundel says:

    rasikiniin said: Nyimak …..

    Minyak…….. minyak…….Memang perkataan seseorang kadang-kadang disalahpahami, jadi sebelum diucapkan kita harus lihat-lihat dan mikir panjang, dengan siapa kita akan bicara dan pantaskah ucapan yang akan kita ucapkan itu?Banyak ibrohnya kok nak. Terima kasih pagi-pagi udah dapat cerita menarik.

  10. onezonemine says:

    bundel said: Minyak…….. minyak…….Memang perkataan seseorang kadang-kadang disalahpahami, jadi sebelum diucapkan kita harus lihat-lihat dan mikir panjang, dengan siapa kita akan bicara dan pantaskah ucapan yang akan kita ucapkan itu?Banyak ibrohnya kok nak. Terima kasih pagi-pagi udah dapat cerita menarik.

    Wkakakak! Sama2 Bu. Seneng deh kalau dikunjungin sama Bu Juli tuh :DIya, memang harus hati-hati kalau mengatakan sesuatu. Apalagi yang masalah ‘cinta’. sensitip oey #sotoy

  11. ayaherizal says:

    bundel said: Minyak…….. minyak…….Memang perkataan seseorang kadang-kadang disalahpahami, jadi sebelum diucapkan kita harus lihat-lihat dan mikir panjang, dengan siapa kita akan bicara dan pantaskah ucapan yang akan kita ucapkan itu?Banyak ibrohnya kok nak. Terima kasih pagi-pagi udah dapat cerita menarik.

    Untung kemarin aku nggak manggil pake Dek, ha ha…… Embel embel panggilan entah itu mas, mbak, dek, kang, adalah hal biasa sebagai wujud penghormatan kita kepada sesama (sebagai orang timur ini bagian dari wujud sopan santun). Jadi nggak perlu terlalu ditanggapi sampai ke hati kalau hanya panggilan

  12. onezonemine says:

    ayaherizal said: Untung kemarin aku nggak manggil pake Dek, ha ha…… Embel embel panggilan entah itu mas, mbak, dek, kang, adalah hal biasa sebagai wujud penghormatan kita kepada sesama (sebagai orang timur ini bagian dari wujud sopan santun). Jadi nggak perlu terlalu ditanggapi sampai ke hati kalau hanya panggilan

    Hahaha! Iya Pak, untung ya kan aku suka dipanggil dek.tapi kalau bapak2 di kantor tah kagak ngaruh Pak. :pBaca ini Pak, http://onezonemine.multiply.com/notes/item/212wkkkk

  13. skyunhas says:

    ayaherizal said: Untung kemarin aku nggak manggil pake Dek, ha ha…… Embel embel panggilan entah itu mas, mbak, dek, kang, adalah hal biasa sebagai wujud penghormatan kita kepada sesama (sebagai orang timur ini bagian dari wujud sopan santun). Jadi nggak perlu terlalu ditanggapi sampai ke hati kalau hanya panggilan

    Jd, endingnya?

  14. onezonemine says:

    skyunhas said: Jd, endingnya?

    Kagak ada endingnya. Tapi mungkin bisa diambil kesimpulan, haha

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s