Makna Lebaran

Dulu ketika saya masih kecil, saat masih duduk di bangku SD saat Ramadhan saya begitu ingin segera lebaran. Senang rasanya berhenti puasa. Setelah itu bisa kembali makan sesuka hati. Alasan kedua, biasanya saat lebaran dapat uang saku, klasik memang. dan terkadang masih sempat  dapat hadiah baju baru.

Saat SMP dan SMA, motivasi saya menanti lebaran sudah sedikit berbeda. Walau pun tidak jauh. Saat lebaran kakak saya pulaang kampung dan itu membuat saya senang.

Ketika kuliah beda lagi, saya selalu menanti lebaran lantaran saya lah yang akan pulang kampung, ikut serta dalam euforia ‘mudik lebaran’.

Baru setelah lulus kuliah saya merasakan ‘sedihnya perpisahan dengan Ramadhan’. Cukup  telat memang. Sungguh, terasa sangat pilu, dan rasanya masih belum puas menikmati Ramadhan. Belum puas rasanya memanjatkan do’a, belum cukup rasanya membaca Al Qur’an, belum cukup rasanya menikmati kebersamaan sahur dan buka puasa, belum puas rasanya menikmati manisnya buka puasa. Belum lagi dengan berlipatnya pahala di saat Ramadhan. Sungguh, terasa berat berpisah dengan Ramadhan.

Malam ini tepat malam lebaran. Kebetulan saya keluar dengan keponakan saya. Ramai. Itulah suasananya. Ramai orang mengumandangkan takbir sambil berkeliling dan tentu ditemani petasan. Banyak orang dan motor memenuhi jalan.

Entahlah, pemandangan yang saya lihat justru terasa kontradiksi bagi saya. Mereka yang ada di pinggir-pinggir jalan rata-rata adalah anak muda yang memegang rokok. Sepeda motor yang memenuhi jalan pun sebagian besar adalah anak muda dengan suara motor yang sangat berisik. Lalu, apa makna lebaran bagi mereka? Menurut saya, mereka justru seperti para suporter bola yang sama sekali tidak mencerminkan Idul Fitri.

Saya pun bertanya dalam hati, apakah makna lebaran bagi mereka?

Lalu, melihat sekeliling jalan raya. Begitu ramai para penjual bakso, mi ayam, dan jajanan lainnya. (Kembali) Saya bertanya dalam hati, “Apa makna lebaran bagi mereka?” Mereka tidak berkumpul dengan keluarga. Pun tidak ketinggalan seperti para sopir bus, penjaga minimarket, penjaga palang pintu kereta api, serta para pekerja yang tetap bekerja di hari lebaran.

Maka pikiran saya pun melesat lagi, bagaimana makna lebaran bagi saudara di Palestina, Rohingnya, Suriah, Afganistan?

Entahlah, bahkan saya sendiri tidak begitu mengerti makna lebaran. Bagi saya saat ini, lebaran justru menjadi hari yang sedih, karena harus berpisah dengan Ramadhan.

This journal also post here.

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Hikmah. Bookmark the permalink.

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s