Memegang Pelangi

[cerpen]

Angka di kalender yang menunjukkan hari Jum’at pada pekan ini berwarna merah. Konsekuensinya adalah libur selama tiga hari bagi orang-orang yang memeliki hari kerja setiap Senin sampai Jum’at.

Riko adalah salah satu dari orang-orang yang beruntung mendapat libur tiga hari itu. Dia pulang ke kampung orang tuanya di Cilacap. Awalnya dia berniat naik kereta Pasundan dari Surabaya. Tapi sayang, karena tadi malam dia bergadang dan pulang menjelang pagi lalu baru tidur jam 3.30, maka dia pun tertinggal kereta.

Tapi tidak masalah, masih ada kereta Logawa. Meski sekarang Logawa tak lagi mengantarkan penumpang sampai kota Cilacap. Namun sayang sekali lagi, kereta Logawa ternyata penuh dengan penumpang. Bahkan sebagian besar adalah penumpang jarak jauh. Rencana Riko untuk tidur di kereta pun harus tertunda. Atau bahkan gagal?

Dari pada berdiri di dalam gerbong, memang lebih nyaman berdiri di pintu bagi sebagian besar laki-laki dan sebagian kecil perempuan. Karena selain terkesan ‘berbahaya’, berdiri di dekat pintu juga berisiko tidak segera mendapat tempat duduk. Terlebih, biasanya di pintu itu beberapa pedagang dan pengemis berada. Sekedar info, menjadi pengemis di kereta adalah pekerjaan yang menjanjikan. Cukup prospektif untuk menjadi cepat kaya. Asal punya mental yang kuat saja. Sekedar info juga, sebagian besar pengemis di kereta sebenarnya bukanlah kaum minoritas yang terpinggirkan.

Riko berdiri di pintu gerbong ke-tujuh dari ujung depan. Sambil berdiri dia menahan rasa kantuk yang seperti korek api yang sangat mengganjal di mata. Angin yang mengiringi kereta yang melaju, membuatnya merasa seperti melayang. Kurang tidur itu bisa membuat orang seperti tak punya kaki.

-==–

10.46, jadwal kereta Logawa tiba di stasiun Jombang. Kabar dari salah seorang penjual tiket bahwa hari ini kereta ontime. Anna melihat jam tangannya, jam 10:35. Masih cukup waktu untuk ke kamar mandi sekalian mengambil wudhu untuk sholat Dhuhur-Ashar di kereta.

Seperti biasa, selesai berwudhu Anna menggunakan sarung tangan dan menutup wajahnya dengan sleyer. Bahkan kalau memungkinkan, dia ingin pakai kaca mata. Bukan karena takut polusi di kereta tapi untuk menjaga wudhu yang dimiliki sampai masuk waktu Dhuhur. Tidak efektif memang. Toh tidak ada yang tahu, kecuali pembaca.

Tepat jam 10:46 kereta Logawa masuk stasiun Jombang. Dari dua gerbong yang Anna lewati, tidak ada tempat duduk sama sekali bahkan untuk seorang perempuan lanjut usia. Meski banyak sekali lelaki muda sehat wal afiat duduk dengan bahagia. Anna pun memutuskan berdiri di pintu gerbong seperti biasa jika dia tidak dapat tempat duduk.

Takdir kali ini mempertemukan Riko dengan Anna. Riko yang setengah sadar kaget melihat Anna berdiri di sampingnya hanya nampak sebaris mata. Sadang Anna tidak peduli dengan Riko. Dia sibuk menelpon temannya untuk curhat, betapa penuhnya kereta, betapa saat ini dia tidak mendapat tempat duduk dan berdiri lagi di pintu gerbong, betapa apatisnya orang-orang yang baru dia lihat dengan teganya membiarkan seorang nenek dan kakek tua berdiri.

Riko memperhatikan Anna sedang mengobrol di telepon. Yang dia perhatikan adalah bahwa orang yang di sampingnya kini agak aneh baginya lantaran hanya nampak sebaris mata, sedikit menakutkan kalau boleh disebut demikian. Ditambah Anna jongkok dengan santai padahal dia mengenakan rok, hal itu menjadi kombinasi yang janggal. Riko jadi merasa penasaran, apalagi Anna nampak menyenangkan bagi lawan bicara yang ditelpon.

Anna telah selesai bicara dengan temannya di seberang dan ia kemudian berdiri. Dia menoleh ke arah Riko. Dan di saat yang sama Riko pun menatap Anna. Anna tersenyum pada Riko dan Riko menangkap senyum itu meski hanya dari sebaris mata yang nampak.

“Turun mana?” Sapa Riko.

“Purwokerto.” Jawab Anna.

Mereka melanjutkan perbincangan seperti kebanyakan orang yang baru saling mengenal. Percakapan itu mengalir seperti angin yang berhembus. Pertanyaan, pernyataan, serta respon muncul silih berganti mengisi percakapan mereka. Mereka tidak perlu repot-repot memikirkan apa yang perlu dilontarkan. Singkat cerita, mereka cepat akrab. Meski Riko baru tahu sebaris mata yang Anna miliki. Bahkan saat ngobrol pun Anna tak menatap Riko, dia hanya melihat pemandangan yang bergerak di luar.

Anna melihat jam tangannya Lagi, 11:30. Sudah masuk waku Dhuhur, pikir Anna.

“Bisa minta tolong jaga saya mau sholat?” tanya Anna pada Riko. Setelah tadi dia menanyakan pada guru ngajinya perihal sholat di kendaraan dalam keadaan berdiri.

Riko tertegun dan sedikit tak mengerti. Bagaimana Anna akan sholat dan kenapa harus sholat-dalam keadaan seperti ini-? Dia lalu mengangguk.

Tanpa perlu pikir panjang Anna segera meluncurkan aksinya sementara Riko memperhatikannya dari awal sampai selesai serta Riko siap siaga menjaganya sebagaimana dia saat bertugas menjaga perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan.

Selesai sholat Anna melepas jaketnya. Tadi, sebelum dia sholat, dia melepaskan sleyer yang menutup separuh wajahnya. Tapi dia tidak menoleh pada Riko dan Riko pun sudah dalam setting-an ‘jaga’ maka Riko pun belum tahu wajahnya. Anna menoleh pada Riko mengucapkan terima kasih.

“Aku jadi malu melihatmu seperti ini. Aku sadar aku banyak belum tahu dan aku ingin belajar.” Kata Riko dengan lembut pada Anna. Riko sendiri tidak tahu apakah itu adalah kata-kata yang benar ingin diucapkan oleh hatinya atau sekedar naluri alami seorang Riko yang sudah expert merayu perempuan.

[to be continue]

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Cerpen. Bookmark the permalink.

2 Responses to Memegang Pelangi

  1. diarywik says:

    Wah, Riko baru pendekatan ma Anna ini..

  2. Pingback: Dyah Sujiati's Blog

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s