Cinta Equivalen Dengan Matematika [repost]

Belajar matematika adalah belajar untuk berpikir cepat, terstruktur, teliti, dan jujur. Matematika bukan sekedar hafalan. Tapi juga penerapan. Ketika kita belajar matematika, tidak terlepas dari latihan mengerjakan soal.

Ketika mengerjakan soal itulah saat untuk belajar berfikir cepat, terstruktur, teliti, dan jujur. Bagaimana tidak? Jika tidak teliti, salah satu angka saja bisa berkibat fatal. Sama dengan kejujuran, mengerjakan soal matematika tidak diizinkan korupsi sediktpun. Misal awalnya bertanda + di baris bawahnya menjadi – bisa dipastkan akan pusing.

Demikian juga dengan cinta. Belajar tentang cinta juga belajar untuk berpikir cepat, terstruktur, teliti, dan jujur.

Cinta itu mencakup banyak hal banyak warna. Cinta pada Allah dan rosul-Nya, cinta pada orang tua dan saudara, cinta pada harta benda, cinta pada hal-hal yang abstrak misalnya hobi, juga cinta pada lawan jenis.

Pembicaraan kita tentang cinta kali ini adalah tentang cinta pada lawan jenis. Cinta pada lawan jenis adalah nikmat dan anugrah yang Allah berikan pada hamba-Nya. Karena benda yang bernama cinta itu seperti udara yang mengisi hidup bagi orang-orang yang sudah Allah izinkan untuk memakainya. Tentu, dengan satu cara pernikahan.

Jika kita membuka QS Ar Ruum AYAT 21 yang berbunyi ,”Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”
Allah memerintahkan untuk menikah duhulu lalu Allah akan menganugrahkan kasih sayang di antara mereka berdua. jadi logika seperti itu hanya bisa diterima oleh orang yang mau berfikir bukan orang yang bernafsu.

Tentu, untuk menikah itu tidak sembarangan asal menikah saja. Ada tahapan-tahapan, pertimbangan-pertimbangan, dan juga proses serta waktu. Tentang ini sudah banyak yang membahasnya. Seperti orang membeli baju saja, tidak asal beli kan? Pasti ada yang “dipikirkan” dulu sebelumnya.

Jadi, jangan terbalik. Kenal merasa cocok mencari-cari kesamaan kalau sudah pas baru menikah. Bukan, bukan begitu. Menikah dahulu setelah itu Allah pasti akan berikan kasih sayang. Apakah Allah pernah ingkar janji?

Namun sayangnya, Allah itu juga menjadikan cinta itu sebagai ujian. Dia menjatuhkan cinta itu di hati seseorang jauh dari kata menikah. Nah, ini dia sering menjadi polemic di masyarakat. Bahkan cinta itu nasibnya sangat sial karena sering dikambing-hitamkan.

Karena itu, di sini saya membagi tingkatan-tingkatan penyikapan terhadap ‘cinta yang jatuh sebelum waktunya’ atau dengan kata pendek disebut ‘pacaran’. Dengan alasan bahwa manusia yang berbeda tingkatan ilmunya, berbeda pula perhitungannya. Jika diibaratkan ‘cinta yang jatuh tidak pada waktunya’ itu adalah cairan yang berwarna ungu maka hati ibarat air. Jika air itu bening maka sedikit saja cairan ungu itu menetes, nampaklah cairan itu pada air. Jika air itu keruh, bisa dipastikan, semakin keruh maka semakin banyak cairan ungu sama saja tidak berarti. Begitu pun dengan hati yang selalu dijaga hingga sebening air, maka ketika sedikit saja di diuji cinta oleh Allah akan merasa sangat sakit. Dan berbeda dengan yang sudah kebal, mau diuji seperti apa pun, tetap saja bebal. Karena itu, saya kelompokkan menjadi 7, yaitu

  1.  Orang yang berpendapat bahwa pacaran itu berarti berkontak secara fisik dan ada formalitas ,”kita sudah jadian”
  2. Orang yang berpendapat bahwa pacaran itu berarti ada formalitas ,”kita sudah jadian” sering bersama meskipun tanpa kontak secara fisik
  3. Orang yang berpendapat bahwa pacaran itu berarti ada formalitas ,”kita sudah jadian” tidak ada kontak fisik tidak perlu pergi bersama tapi telponan dan sms-an dan saling memanggil “papa sayang-mama sayang” dan sejenisnya
  4. Orang yang berpendapat bahwa pacaran itu berarti ada formalitas ,”kita sudah jadian” tidak ada kontak fisik tidak perlu pergi bersama tapi telponan dan sms-an meski tanpa saling memanggil “papa sayang-mama sayang” dan sejenisnya
  5. Bahwa orang pacaran itu tanpa formalitas “kita sudah jadian” tapi sering pergi bersama dan saling menggantungkan.
  6. Bahwa orang pacaran itu tanpa formalitas “kita sudah jadian” tidak pernah pergi bersama tapi telponan atau sms-an. Karena itu sama saja sudah saling menggantungkan namanya. Apalagi telpon cuma karena kangen.. lho?
  7. Tidak pernah telponan cukup dengan sms-sms tausiah.

Yang ke-6 dan ke-7 itu yang sering dilakukan oleh para aktivis-dakwah muda, mau mengakui atau pun tidak.
Yang menjadi point penting kali ini adalah yang merasa dirinya berada di barisan dakwah. Bagaimana mungkin kita menyuruh orang berbuat baik pada Allah sedang kita sendiri berbuat tidak baik pada Allah? Mungkin memang kita sebagai manusia terlalu pandai membuat apologi. Karena, itu berarti semakin mendurhakai Allah. Jangan melihat kecilnya kesalahan yang kita perbuat tapi lihatlah besarnya Dzat yang kita durhakai itu.

Seseorang yang sedang diuji dijatuhi ‘cinta sebelum waktunya’ oleh Allah itu banyak dan sering terjadi. Akan tetapi yang terpenting, bahwa cinta itu tidak berubah menjadi nafsu yang mengalahkan pemiliknya. Lalu orang itu terseret pada hal-hal yang melampaui batas sedang dia tidak sadar. Karena batas itu ternyata sangat tipis.

Karena itulah belajar menyikapi ‘cinta’ equivalen dengan belajar matematika.

Belajar menyikapi ‘cinta’ harus berfikir cepat sebelum nafsu mengambil alih, sebelum setan mengaburkan batas yang boleh dan tidak. Belajar menyikapi ‘cinta’ harus terstruktur. Karena jika tidak, cinta akan berubah menjadi setan yang membelokkan langkah-langkah kita. Saya teringat perkataan seorang teman. “Kalau orang udah kena virus beginian, pasti bakal gampang dihasut sama setan.” Lalu belajar menyikapi ‘cinta’ harus teliti untuk mengintrospeksi diri dan belajar menyikapi ‘cinta’ harus jujur pada diri sendiri karena hati akan merasa resah dengan ketidak beresan.

Tidak menafikkan, seperti sebelumnya sudah saya katakan, Allah memang sering menjatuhkan cinta tidak pada waktunya. Jika kebetulan Allah menjatuhkannya pada anda, maka kendalikan cinta itu dan titipkan lagi pada-Nya. Ambillah nanti jika sudah waktunya. Namaya juga kejatuhan cinta, berati ya dikembalikan lagi pada Yang Menjatuhkan.

*nostalgila saat jadi guru

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Cinta. Bookmark the permalink.

7 Responses to Cinta Equivalen Dengan Matematika [repost]

  1. j4uharry says:

    nah emang sekarng udah banting stir mba ?

  2. ayaherizal says:

    Cinta seperti mawar….. indah… wanginya semerbak…. menghiasi ruang kosong ditaman… .. tapi…. mawar juga menyimpan duri yang siap mencubit jari-jari lentik… yang tidak hati hati memmetiknya.

  3. hakz, uhuk

    semoga saya bisa mencintai matematika seperti penulisny__penulisnya nampak sangat menikmati matematika

  4. nih sudah kena sindrom matematika nih…mabook!

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s