Mamaknai Sebuah Kehilangan

       Kehilangan, tentu saja hal yang pernah dialami setiap orang. Entah hanya kehilangan benda yang sangat tak beharga sampai yang sangat berharga, kehilangan teman/sahabat, kehilangan waktu, kehilangan kesempatan, dan kehilangan yang lainnya.

       Setiap bentuk kehilangan akan mendapati dirinya mendapat penyikapan yang berbeda dari satu orang yang sama. Misalkan, saya akan jauh lebih bersedih ketika kehilangan hp daripada kehilangan uang 150 ribu rupiah, meskipun harga hp saya kalau baru juga segitu.

        Begitu juga, sebuah kehilangan akan berbeda penyikapannya atas seseorang dengan orang yang lain. Misalkan ketika saya yang kehilangan hp akan berbeda kesedihannya kalau ibu saya yang kehilangan, meskipun hp kami sama.

        Dalam hal ini saya ingin menuliskan perasaan saya ketika saya kehilangan sebuah blog. Tepatnya blog saya di Multiply. Baru saja saya menikmati ‘senang’nya ngeblog (atau lebih tepatnya nge-sosmed sih) namun tiba-tiba mendapat kabar bahwa CEO  Multiply akan meniadakan fasilitas blogging. Blog saya dan juga teman-teman yang lain akan hilang.

        Secara otomatis, saya akan kehilangan tulisan-tuisan saya, kehilangan teman-teman yang saya kenal melalui blog tersebut, kehilangan kesenangan tentu saja, dan kehilangan ‘sesuatu’ yaitu blog saya tadi. Ketika saya bertemu dengan teman baru dan dia interest dengan saya atau ketika bertemu kembali dengan teman SMP atau SMA mereka pasti menanyakan facebook saya, sementara tidak memiliki akun facebook, jadilah blog Multiply itu menjadi jawabannya. Pun, ketika saya dikenalkan  pada seseorang oleh teman saya, maka blog Multiply tentu akan menjadi referensi bagi orang tersebut.

        Dari blog di Multiply saya memperoleh banyak hal, banyak pengalaman, dan yang terpenting banyak  teman hebat yang saya kenal (dan dia juga mengenal saya, biar tidak bertepuk sebelah tangan, hehe). Jadi, betapa menyedihkan harus kehilangan blog di Multiply.

        Akan tetapi, mau-tidak mau, suka ataupun tidak, saya harus tetap kehilangan. Maka pertanyaan selanjutnya adalah pilihan bagaimana saya menyikapi kehilangan ini. Tentu saja, tulisan-tulisan saya harus saya selamatkan, meski tidak semuanya.  Soal teman-teman, mereka masih bisa ‘dijumpai’ di tempat nge-bllog yang lain. Soal kesenangan, inilah yang seharusnya menjadi instrospeksi diri bagi saya. Tujuan saya ngeblog dulu adalah untuk menulis, sementara akhir-akhir ini, justru itu menjadi sesuatu yang lain (baca:sesuatu yang membuat saya -sedikit- sombong karena punya blog), dan karena itu justru saya merasa besyukur dengan ditutupnya fasilitas bloging oleh CEO Multiply.

          Itu baru soal kehilangan sebuah blog. Di dunia ini ada begitu banyak jenis kehilangan. Saya pernah membaca kira-kira begini, “Kalau tidak punya berarti tidak akan kehilangan”. Namun, saya rasa itu tidak mungkin, karena setiap manusia pasti memiliki sesuatu. Maka selanjutnya, yang menjadi pelajaran penting dari sebuah kehilangan adalah bagaimana memaknai  kehilangan itu sendiri. Satu kata kunci untuk sebuah kehilangan adalah ‘ikhlas’. Itu dia. Awalnya memang terasa  sulit, tapi dengan keikhlasan, kehilangan itu tidak akan menjadi sesuatu yang menyedihkan apa lagi sampai mengganggu kehidupan kita.

        Ya, dengan kehilangan sebenarnya kita proses melaksanakan keikhlasan. Belum lagi jika memaknai kehilangan berdasarkan sudut pandang yang lain. Misalnya manfaat. Misalkan begini, seseorang yang sudah bertunangan tiba-tiba dibatalkan pertunangannya. Nah, bisa jadi ada manfaat dikemudian hari yang tidak diketahui oleh orang tersebut.

       Dan satu hal yang tidak tertinggal dalam kasus kehilangan yaitu kesabaran. Kesabaran lah hal pertama yang harus dilakukan ketika  diuji dengan kehilangan.

       Maka kombinasi yang (menurut saya) tepat dalam memaknai kehilangan adalah sabar dan ikhlas. Dengan begitu, kehilangan tidak akan menjadi sesuatu yang membuat hidup kita menjadi terganggu. Dan kehilangan justru menjadi sesuatu yang akan menguatkan diri kita.

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Hikmah. Bookmark the permalink.

4 Responses to Mamaknai Sebuah Kehilangan

  1. Jadi ingat lagunya om Ebiet G. Ade mbak

    Apakah ada bedanya ketika kita bertemu
    dengan saat kita berpisah? Sama-sama nikmat
    Tinggal bagaimana kita menghayati
    di belahan jiwa yang mana kita sembunyikan
    dada yang terluka, duka yang tersayat, rasa yang terluka

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s