Nitip Doa

*Teringat percakapan dengan seorang teman.*

Ceritanya dia ziarah atau berkunjung ke rumah seorang teman yang akan memunaikan Ibadah Haji. Sepertinya ini bukan Sunnah tetapi hanya sebuah logika, ketika seseorang sedang menunaikan ibadah haji, maka ketika dia berdo’a di tanah Haram, maka itu merupakan momen mustajab berdo’a. Maka sudah menjadi tradisi orang di Jawa Timur ketika ada yang berangkat haji, banyak peziarah yang sekalian menitipkan do’a untuk dipanjatkan di tanah ‘Haram’.

Begitu pula dengan kawan itu. Dia seorang yang masih singgle saat ini. Jadi jelas kira-kira do’a apa yang dia titipkan, bukan? Doa-doa yang pastinya selalu menghiasi malam-malamnya.

“Bu, saya nitip doa. Semoga saya segera dipertemukan dengan jodoh.” Begitulah kalimat yang disampaikan kawan saya itu.

Selama perjalanan pulang dari ziarah, teman saya itu teringat sesuatu. Rasa-rasanya dia kok tidak lengkap (baca=detail) dalam titipan do’anya tadi. Kenapa dia tidak minta didoakan agar segera dipertemukan dengan jodoh tahun ini dan jodohnya sesuai yang dia harapkan.

Seperti yang sekarang banyak kita dengar dari beberapa motivator keren bahwa berdo’a itu harus jelas lengkap detail. Misal seperti ketika kita minta pada ibu sebuah baju berjenis hem lengan panjang warna biru polos ukuran M terbuat dari katun. Jika kita hanya bilang pada ibu, “Bu, belikan saya baju.” Maka belum tentu ibu akan membelikan seperti yang kita harapkan.

Nah, dengan analogi seperti itu menurut saya, Allah tidaklah demikian. Allah itu Maha Tahu Segalanya. Dia tahu yang terbaik bagi hamba-Nya. Kita berdoa dengan cara apa pun, Allah itu Tahu dengan apa yang kita maksudkan.

Dan dalam pemahaman saya, bahwa berdoa itu adalah proses. Maka yang menjadi poin bukanlah apa isi permintaan kita. Namun pada seberapa besar keyakinan dan kepasrahan diri kita pada Allah. Justru, ketika berdo’a baiknya kita melakukan dengan cara yang disukai Allah. Tidak memaksa-Nya, tidak mendekte-Nya.

Entahlah, saya masih belum tahu mana yang lebih utama, berdoa dengan detail atau bukan. Karena yang saya tahu  tidak ada contoh di Al Qur’an. Ketika Nabi Nuh di dalam perut ikan, beliau tidaklah minta dikeluarkan tetapi justru berdo’a, “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.”

Atau ketika Nabi Musa sedang dalam kelelahan beliau hanya berdo’a,  “Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” Dan setelah itu Allah memberinya pekerjaan juga istri.

Dari sini saya berkesimpulan, bahwa dalam hal jodoh tentu Allah sudah Tahu yang terbaik bagi hamba-Nya, Dia tidak akan mengecewakan hamba-Nya. Maka sudah otomatis jodoh itu sesuai dengan pasangannya tanpa harus diminta. Allah pun Tahu kapan waktu terbaik untuk menyatukan hamba yang masih Ia pisahkan tanpa perlu didekte kapan.

Maka dalam hal menitip do’a tadi, seharusnya kawan saya itu tak usah menyesal.

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Hikmah. Bookmark the permalink.

3 Responses to Nitip Doa

  1. Dulu aku suka sekali berdoa sangat detail, rasanya kalau berdoa selalu seperti ngobrol dan merengek kepada Allah.. Semua doa dikabulkan, kecuali tentang jodoh. Mungkin karena doa bagian itu termasuk sesuatu yang sudah ditetapkan (seperti kematian), maka memintanya dengan amat detail adalah sebuah paksaan. Sekarang lagi ganti doa, minta yang terbaik pada waktu paling tepat ajah🙂

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s