Pilih Mana, Mengenangnya atau Melupakannya?

Sayai merupakan salah satu dari sekian banyak orang yang menggunakan jasa bus umum untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Ada banyak pengalaman yang mengisi setiap perjalanan saya. Tentu saja salah satunya adalah interaksi dengan sopir, kondektur, atau kernek bus.
Pernah suatu hari saya naik bus dan minta diturunkan di depan sebuah tempat. Itu adalah hak saya sebagai penumpang, bukan? Namun ternyata sopir dan kernetnya tak mau berhenti.

Saya pun bilang, “Pak kiri Pak.” Dan tetap tidak mau berhenti sampai saya pun bilang, “Pak, bapaknya kok jahat sekali?”

Dan akhirnya saya diturunkan lebih jauh sekitar 200 meter dari tempat tujuannya. Itu pun, bus tidak benar-benar berhenti saya saat saya turun.

Jujur, saya sangat sakit hati saat itu. Saya pun bersumpah tidak akan naik bus itu lagi.

Lalu pernah lagi kejadian saya bertengkar dengan kondektur bus. Lantaran si kondektur menarik ongkos melebihi yang seharusnya. Saya pun sebel dan sakit hati dengan si kondektur itu dan lagi-lagi saya berniat tidak akan naik bus itu lagi.

Ya begitulah emosi sesaat. Setelah kejadian yang pertama itu, belum 3 jam saya sudah lupa dengan sakit hati saya. Bahkan sekarang saya sudah lupa pada wajah pak Kernet itu. Jika suatu hari saya bertemu dengannya saya tidak akan ingat. Maka secara otomatis, saya lupa dengan sumpah saya.

Begitu juga dengan kejadian kedua. Itu hanya emosi sesaat. Bahkan si kondektur sendiri sudah lupa pertengkarannya dengan saya justru sebelum saya turun dari bus. Sebab dia narik ongkos lagi pada saya, dan setelah beberapa detik baru menyadari bahwa saya adalah orang yang baru saja bertengkar dengannya.

Itu adalah masalah sederhana. Dalam hidup kita terdapat benyak kejadian yang meminta kita memilih untuk mengenangnya atau untuk melupakannya. Banyak hal yang menjadi rumit justru karena kita sendiri yang membuatnya menjadi sulit.

Analoginya seperti hal yang saya ceritakan tadi. Mungkin dalam banyak hal kita memang lebih baik memilih untuk melupakannya, terutama hal-hal negatif yang akan menjadi penghambat bagi kita sendiri.

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Menu Motivasi. Bookmark the permalink.

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s