Sebuah Kisah Cinta Rahasia

[Cerpen]

“Kakak”. Ya Diska ingat betul ketika itu Diska sedang berbagi mimpi dengan seorang kakak kelasnya saat masih kuliah dulu bahwa panggilan itu lah yang ingin dia berikan pada suaminya kelak. Tapi Diska sama sekali tak pernah tahu dari mana nanti Diska akan dipertemukan dengan orang asing itu oleh Allah.

Saat bertemu orang yang baru kukenal di kendaraan (karena Diska sering mobile), jika dia seorang laki-laki muda maka Diska akan memanggilnya itu dengan panggilan “Mas”. Sebagaimana Diska memanggil kakak-kakak kelas di kampus dengan panggilan itu. Atau jika kakak kelas itu seorang aktivis maka akan dia panggil “Akh” sebagaimana orang lain memanggilnya demikian.

Dulu saat SMA, Diska memang memanggil kakak kelas dengan awalan “Kak”. Tapi rasanya Diska tak pernah berbicara atau mengobrol dengan kakak kelasnya itu lalu dia panggil ‘kakak’. Diska memanggil namanya dengan ditambah “Kak” atau “Kak” saja.

Lalu kini ada seseorang yang dia panggil ‘Kakak’. Ari namanya. Diska belum pernah bertemu dengannya. Awal Diska berkenalan dengannya adalah tiba-tiba Diska menyapanya lewat Friendster yang dulu masih berfungsi sebagai jejaring sosial. Yang Diska tahu adalah dia seorang eksekutif muda ssebuah BUMN. Hanya itu, tidak lebih. Diska ingin berteman dengannya. Entah berjodoh dengannya atau bukan, itu bukan tujuan utama. Hanya ingin berteman dengannya itu saja. Setidaknya Diska punya teman seorang eksekutif muda sebuah BUMN. Karena itu adalah salah satu impian Diska. Impian yang klasik dan wajar seorang wanita.

Diska lupa persisnya seperti apa kalimatnya saat pertama kali ‘bercakap-cakap’ dengan Ari. Yang dia ingat bahwa Diska telah memanggil Ari ‘Kakak’. Dia pun merespon pesan itu. Lalu Diska pun memberikan nomer hp-nya. Ternyata lama sekali tidak dibalas. Hingga akhirnya Diska nekad bertanya lagi. Lalu Ari membalas pesan Diska dan memberikan alamat email untuk di-add facebooknya. Hmmm, memang sebagian besar orang memilih facebook untuk berkomunikasi. Sayangnya Diska justru yang tidak memiliki akun facebook.

Tapi dari email itu, sungguh menjadi hal yang besar dalam hubungan Diska dengan Ari. Sebab tak lama setelah itu, Friendster berhenti dari provider jejaring sosial, melainkan menjadi provider game online. Maka secara otomatis mereka tak bisa lagi kirim pesan viaFriendster.

Lalu mereka pun beralih komunikasi lewat email. Komunikasi mereka itu lama. Misal Diska kirim pesan hari ini, seminggu kemudian Ari baru membalas, seminggu kemudian lagi baru Diska buka lagi. Bahkan rentang waktu itu kadang lebih dari dua minggu. Sampai suatu hari Diska dan Ari online bareng di Yahoo. Diska menyapanya dan mereka pun mengobrol. Lancar sekali. Respon silih berganti dari mereka dan tak perlu berfikir harus nulis apa. Rasanya seperti sudah kenal lama saja.

Sekitar 10 hari kemudian jam 10 pm WIB Ari mengirim sms untuk Diska. Ternyata dia menyimpan nomer Diska. Haduh Diska malu sangat sebenarnya. Diska malu mengingat pesan Diska di Friendster yang memberikan nomer hp. Dan Diska sangat senang saat Friendster berubah orientasi itu karena Diska berfikir bahwa semoga dia belum membuka pesan Diska itu dan sekarang Friendster sudah tidak bisa dibuka lagi. Ternyata Diska salah, Ari sudah menyimpan nomer Diska.

Diska membuka smsnya tengah malam karena saat sms itu tiba Diska sudah tidur. Esok pagi baru Diska balas lalu sore hari baru Ari balas lagi. Lalu dua hari itu mereka saling sms. Sms mereka bermutu dan mengalir, atau apalah istilahnya. Entahlah, pokoknya berbeda. Tidak seperti sms Diska dengan teman laki-laki yang lain. Selain itu Diska juga membuka facebook Ari untuk mengetahui tentangnya dan Ari pun memiliki alamat blog Diska yang kebetulan aktif sebagai seorang bloger.

Maka sejak saat itu, Diska berubah orientasi. Tidak hanya sekedar ingin jadi teman. Tapi ingin jadi teman hidup selamanya. Meski Diska belum pernah melihat Ari seperti apa. Bahkan saat Diska berangkat mengikuti pertemuan di luar negeri, Ari lah satu-satunya orang yang meminta Diska menjaga diri selama itu.

Yeah, mungkin karena orientasi Diska sudah berubah itu tadi, maka Diska jadi menafsirkan lebih atas sms dia. Mengharapkan Ari juga merasakan hal yang sama dengan Diska. Bahkkan Ari pun berjanji akan mampir menemui Diska saat dia pulang lebaran nanti. Dan Diska pun benar-benar menunggunya. Bahkan Diska pun menyebut namanya dalam do’a.

Dan sms itu adalah smsnya yang terakhir. Saat menjelang lebaran, Diska hubungi Ari tapi Ari tidak membalas sms. Dan Diska tak tahu apakah Ari pulang atau tidak. Diska pun akhirnya patah hati. Kenapa Diska begitu bodoh? Seumur hidup Diska, baru kali itu Diska menaruh harapan berlebih pada seseorang dan pada akhirnya dia pun mengecewakan Diska. Diska merasa bersalah pada diri sendiri dan sangat malu pada Allah. Diska menangis 3 jam di hari kemenangan umat Islam. Memalukan sekali rasanya. Lalu berhentilah komunikasi mereka.

Diska benar-benar ingin melupakannya, melepasnya, membuangnya jauh dari hati dan pikiran Diska. Akan tetapi Diska tidak bisa. Seumur hidup Diska, ini adalah yang paling menyakitkan. Diska masih terfikir dirinya meskipun sampai saat ini Diska masih belum tahu wajahnya. Walau ada foto Ari di facebook, Diska tidak berani untuk melihatnya. Diska benar-benar tersiksa. Apalagi Diska baru menyadari satu hal, dia adalah orang yang sudah Diska panggil ‘Kakak’ selama ini.

Dua bulan kemudian Diska memberanikan diri mengiriminya email yang mengatakan bahwa Diska ingin menikah dengan eksekutif muda sebuah BUMN dan karena itu ia ingin berteman untuk selanjutnya agar diperkenalkan dengan temannya yang siap menikah. Sebuah keputusan yang sangat berat bagi seorang perempuan. Sebuah penyerahan diri secara halus kepada seorang laki-laki.

Seminggu kemudian Ari meng-sms Diska dan meminta foto Diska. Dan bahasanya juga jadi berubah, Ari jadi memanggil Diska ‘Dek’ dan memanggilkan dirinya ‘Mas’. Padahal sebelumnya mereka berkomunikasi secara formal. Ari memanggil dirinya ‘saya’ dan memanggil Diska ‘Mbak Diska’. Tentu saja, itu membuat Diska jadi berharap lagi. Sebuah harapan yang bercampur dengan kecemasan.

Tak lama setelah mengirim email itu, Diska pergi ke Pulau Kalimantan naik kapal. Diska jadi teringat pada Ari karena BUMN tempat Ari bekerja berhubungan dengan kapal. Lalu sepulang dari dari Kalimantan, Diska menghubungi Ari via yahoo dan mereka berkomunikasi sedikit, sangat sedikit.

Sampai suatu hari ada seorang pemuda yang dikenalkan kepada Diska oleh seorang teman. Orang itu ingin serius mengenal Diska. Akan tetapi hati Diska begitu berat menerima tawaran itu. Maka jelaslah, bahwa Diska benar-benar berharap akan menjadi pendamping Ari, meski tidak ada jaminan sama sekali apakah Ari juga memiliki perasaan yang sama pada Diska.

Diska memutuskan untuk menghubungi Ari meminta pertimbangannya. Tapi sayang, sms itu tidak dibalas oleh Ari.

Sampai akhirnya Diska mengirimi Ari pesan viachat di Yahoo. Dan lagi-lagi, Diska merasa sudah kenal lama dengannya. Entah dengan Ari. Karena seharusnya yang merasakan lebih awal adalah laki-laki yang mengenali tulang rusuknya, sebab biasanya mereka didominasi oleh logika. Jadi Diska tak tahu, apakah kakak itu merasakan hal sama atau tidak atau yang lain.

Komunikasi singkat di chatroom itu membuat hati Diska merasa lega. Tapi kini Diska menyadari satu hal. Sekarang Diska yakin jika Ari memang jodoh Diska, dia pasti akan datang menjemput Diska (meminta Diska menjadi istrinya) dengan cara Allah. Dan Diska tidak ingin lagi berkomunikasi dengannya sebelum Diska tahu siapa jodoh Diska karena itu bisa membuat Diska berubah keyakinan alias berharap lagi. Bahkan kalau dia bukan jodoh Diska mereka bisa jadi teman, tapi kalau dia justru benar-benar jodoh Diska? Diska takut komunikasi lebih dengannya akan mengurangi keberkahan jika mereka benar berjodoh.

Meski kini Diska telah menyadari hal itu, Diska tetaplah berharap tiba-tiba Ari menghubunginya dan memintanya menjadi teman hidup. Maka hal yang dibutuhkan oleh adalah sebuah kepastian. Penantian tanpa kejelasan itu sungguh membosankan dan bahkan mengerikan.

Hingga saat kejelasan itu sendiri tiba rasanya bisa lebih mengerikan dari pada penantian itu. Siang itu, Diska iseng membuka akun facebook Ari dan mendapati foto undangan penikahannya dengan wanita lain pekan depan. Astaga! Rasanya bagaikan  disiram air es -10 derajad. Ternyata seperti itulah jawaban penantian Diska pada Ari.

Yeah, tidak ada pilihan lain bagi Diska. Salahnya sendiri berharap pada manusia. Maka biarlah, perasaan Diska pada Ari menjadi kisah sebuah kisah cinta rahasia Diska yang hanya diketahui langit dan dirinya.

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Cerpen. Bookmark the permalink.

3 Responses to Sebuah Kisah Cinta Rahasia

  1. Sujiati says:

    Ngenes banget gak sih? Ni cerpen -____-“

  2. destha says:

    Ho oh. Aq baca kisah mb ririn nangis. Trus baca kisah ini jd ktawa2. Jd ingin lihat diska, upps

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s