Menikah itu Mesra, Nikmat, dan Berkah

Wedding rings and stars in silver Royalty Free Stock Photo

    Topik soal menikah memang selalu hangat untuk dibicarakan di manapun dan kapanpun. Mulai dari gossip di televisi sampai orang yang baru kenalan di bus hampir membahas soal nikah jika subjeknya sudah berada pada usia layak nikah.

   Termasuk di dunia mahasiswa, ngomong-ngomong soal nikah pun menjadi tema cerita yang tak habis dibahas. Entah menceritakan pernikahan tetangga, saudara, bahkan untuk dirinya sendiri nanti. (Bukan pengalaman pribadi loh. Tapi pengalaman umum, hehe. ^_^)

   Teman, memang kata paling dekat dengan kata nikah adalah kata cinta. Cinta pun demikian. Tidak akan habis jika dipikirkan, didiskusikan, atau bahkan dituliskan. Cinta adalah salah satu karunia Allah yang spesial dianugrahkan kepada manusia. Pokoknya, kalau membahas cinta tak ada habisnya.

   Sedikit mengambil tema tentang ‘cinta’, terkadang cinta dalam tanda kutip, cinta dalam makna perasaan khusus diantara dua insan lain jenis, terkadang juga menyita banyak waktu dan energi. Cinta seperti itu terkadang dianggap datang terlalu awal, sebelum dua orang yang bersangkutan layak menganggap itu benar-benar sebuah cinta. Dalam bahasa yang lebih sederhana, banyak orang yang pacaran tanpa ada ikatan pernikahan.

   Memang, pada era sekarang pacaran menjadi hal yang sangat wajar. Tidak punya pacar sepertinya menjadi hal atau aib yang sangat memalukan. Mungkin ada sebagian ketakutan jika tidak punya pacar nanti tidak menikah. Sedangkan pacaran itu bukanlah sebuah ikhtiar yang benar dalam menjemput jodoh. Padahal bagi kita yang masih mahasiswa, fokus utama kita adalah belajar dan berkarya. Tapi kalau jodohnya memang sudah datang ya jangan ditolak. Yang seperti itu kan jarang-jarang, bisa disebut outlier, hehehe.

   Pada kesempatan kali ini, saya ingin berbagi kisah nyata yang saya temui. Sebutlah orang itu dengan nama Mbak Ririn.

  Mbak Ririn saat ini adalah seorang dokter lulusan dari universitas negeri ternama di Surabaya. Selama ini Mbak Ririn tidak mau pacaran. Padahal di lingkungan keluarganya tidak melarangnya untuk pacaran. Bahkan dengan Ibu, sama seperti kebanyakan yang lain, ingin anaknya dapat suami dokter juga. Sehingga Mbak Ririn sering disuruh pacaran dengan teman sendiri. Jadi semenjak kuliah Mbak Ririn selalu ditanya kapan punya pacarnya. Dan jawabnya waktu itu,”insyaAllah nanti setelah lulus, kalau Allah melihatku sudah siap, aku akan dipertemukan jodoh, entah siapa dan dari mana.”

    Mbak Ririn lulus tengah 2010, setelah itu dalam setiap doanya selalu ada permintaan agar segera dipertemukan jodoh. InsyaAllah dirinya sudah siap, tapi jika belum juga dipertemukan mungkin harus siap-siap lagi. Yang menilai siap atau tidak adalah Allah. Mbak Ririn tidak tahu bagaimana caranya, hanya bisa memantaskan diri plus berdoa. Mbak Ririn bahkan tidak punya bayangan mau siapa, hanya ada Jodoh yang baik buat dirinya. Begitulah dulu dia meminta.

    Awal 2011 Mbak Ririn dikirim ke Sumenep untuk waktu satu tahun. Beberapa bulan di sana, sering ditanya oleh ibunya apakah sudah punya pacar atau belum? Mbak Ririn  hanya bilang, pasti dipertemukan, hanya bisa berdoa. Sedangkan ibunya selalu bilang, “Bagaimana bisa ketemu kalau tidak ada usaha?”

   Karena sudah bosan ditanya seperti itu akhirnya Mbak Ririn menjawab, “Ibu jodohkan saya saja. Anakmu ini tidak bisa mencari sendiri. Kalau ibu dan ayah suka, insyaAllah baik.”

     Tidak lama setelah itu, mungkin satu bulan, Ibunya tiba-tiba ditelpon oleh kenalan lamanya. Sudah lama tidak bertemu, tidak disangka sama sekali. Beliau punya anak angkat yang sedang mencari jodoh, seorang TNI AL. Ibunya segera memberitahu Mbak Ririn. Ibunya tidak memaksa. Jika suka ya silahkan. Jika tidak berkenan ya bisa jadi teman. Mbak Ririn ya OK-OK saja. Barulah Mbak Ririn kemudian ditelpon oleh suaminya.

     Memang tergantung jalan Allah bagaimana. Kalau Mbak Ririn mungkin selama ini hanya berdoa. Momen Mbak Ririn mengambil jodohnya adalah saat menerima suaminya yang belum sama sekali dia kenal. Kenal hanya byphone, hanya beberapa hari. Mungkin tidak semua orang, akan bisa memutuskan secepat itu. Waktu itu, Mbak Ririn sama sekali tidak melihat fisiknya, hartanya, pangkatnya, sama sekali tidak dipikirkan. Hanya ada pria serius berumah tangga, jauh orangnya, tapi feeling Mbak Ririn orang tersebut adalah orang yang baik.

    Begitulah, betapa mudahnya. Kata Mbak Ririn, pacaran atau tidak itu memang kembali pada pola pikir kita. Seperti kata seorang trainer, “Mencintai lalu menikah itu biasa. Tapi menikah lalu mencintai itu yang luar biasa.” Sehingga kata ‘menikah’ bisa menjadi akronim dari ‘Mesra-Nikmat-Berkah’.

*Gambar dari sini

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Jodoh and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

11 Responses to Menikah itu Mesra, Nikmat, dan Berkah

  1. Ay Sagira says:

    mesra nikmat berkah…suka dengan kata2 ini🙂

    aku menikah dengan akangku setelah 3 bulan kenal, mayan singkat juga dan memang pacarannya setelah menikah, sampe sekarang pun masih pacaran…hehehe

    TFS, Dy

  2. pitaloka89 says:

    Suka kutipan terakhirnya: “Mencintai lalu menikah itu biasa. Tapi menikah lalu mencintai itu yang luar biasa.” Sehingga kata ‘menikah’ bisa menjadi akronim dari ‘Mesra-Nikmat-Berkah’.

    Semoga segera mendapatkan jodoh yang terbaik😀

  3. Saya dulu 1,5 bulan kenal langsung dilamar.
    4 bulan kemudian, udah resmi…

    BETUL..!
    Gak enak pacaran, mending nikah langsung
    (kalo udah sreg lho).

    Tapi cepat memutuskan untuk menikah bukan berarti gak memikirkan hal lain. Tetep memperhatikan banyak hal. Karena sekali pilih, kalo bisa untuk selamanya (Insyaallah…).

  4. maka dari itu , menikahlah!

  5. matahari_terbit says:

    eaaa.. sing wis proses.. haghaghag

  6. Pingback: Cinta Itu Sederhana | Dyah Sujiati's Blog

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s