Syukur itu Dua Ekor Sapi

Image

Entah benar atau tidak, karena saya sendiri tidak punya pengalaman dalam hal ini. Dan meskipun ini sudah menjadi rahasia umum, tapi tetaplah saya tidak tahu benar-tidaknya. Hanya mendengar cerita-cerita saja.

Ini tentang penerimaan CPNS di negeri kita. Katanya, kalau ingin bisa masuk CPNS itu minimal harus punya uang 90 juta. Entah CPNS apa yang dimaksud. Huiikkk! Kalau saya sih lebih baik untuk berbisnis itu uang.

Begitulah kebanyakan orang memang sudah mempersiapkan uang sejumlah itu jika ingin anaknya menjadi PNS. Termasuk tetangga desa saya. Beliau sudah mempersiapkan uang sebanyak itu untuk mendukung anaknya menjadi CNPS. Ternyata, yang terjadi justru sebaliknya. Anak sulungnya diterima CPNS sebuah kementerian tanpa kehilangan uang sepeserpun! Ya di luar biaya transportasi dan fotokopi.

Orang tua itu benar-benar tidak menyangka. Maka sebagai rasa syukurnya, mereka langsung menyembelih 2 ekor sapi dan mengundang banyak orang untuk makan-makan di rumahnya.

Sebenarnya, pola pikir seperti bapak itulah yang sudah menyiapkan uang 90 juta untuk mendukung anaknya jadi CPNS itulah awal korupsi yang akan panjanggg betul ekornya. Mungkin bapak itu ingin anaknya hidup terjamin dengan menjadi PNS. Tapi, bukankah sudah jelas bahwa itu salah? Seumur hidupnya, gaji yang diterima si anak itu akan barada batas abu-abu. Tidak jelas halal haramnya. Bahkan bisa lebih dekat pada haram lantaran tidak didapat dengan cara yang benar.

Ketika uang haram itu digunakan untuk menghidupi diri sendiri, anak, istri tentulah mereka hidup dari uang haram yang selanjutnya akan menjadikan daging mereka tidak baik. Dan seterusnya panjang sekali.

Di sisi lain, ketika si bapak tadi ingin mendukung anaknya dengan 90 juta itu, itu pula hal yang memicu terjadinya korupsi. Seandainya panitia (atau pihak terkait) meminta uang sejumlah demikian namun tidak ada peserta yang mau membayar, tentu tidak akan terjadi kolusi, bukan?

Sebenarnya, ketika kita begitu ribut membicarakan soal korupsi, kita sendiri sering lupa kalau sebenarnya kitalah para pendukung korupsi itu ada. Kita sendiri yang memicu dan memancingnya.

Maka, tidak ada yang lebih bijak dalam hal memberantas korupsi melainkan memulainya dari diri sendiri. Sebab, bapak seperti yang di atas  itu bukanlah orang-orang yang duduk di pemerintahan, tapi hanya masyarakat biasa. Dan masih banyak sekaali masyarakat biasa itu yang memiliki pola pikir demikian.

Eh, kenapa jadi korupsi? Apa ada sapi yang korupsi?😀

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Hikmah. Bookmark the permalink.

2 Responses to Syukur itu Dua Ekor Sapi

  1. Edy Setyawan says:

    menanam uang pun berharap hasil panennya juga uang😀

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s