Jika Aku Tak Bisa Memilih

[Cerpen]

                Suasana di dalam bus ekonomi yang ber-AC tapi terasa panas bagiku dan Anis. Nafas kami tersenggal-senggal setelah mengejar bus yang tadinya seperti tidak mau berhenti. Mungkin sang sopir malas memberhentikan bus hanya untuk menaikkan dua orang penumpang.

                Hampir semua bangku sudah terisi. Mata kami mencari barangkali masih bisa duduk bersisian. Dan kami menemukan dua kursi kosong di bangku tiga yang di ujungnya tertidur seorang bapak-bapak masih muda.

                “Gara-gara anti ini, Din! Kita harus lari-lari ngejar bis -___-“ Padahal mau kondangan!” Gerutu Anis

                Aku diam saja dan sibuk berkipas-kipas dengan telapak tangan sambil berusaha melepas jaket, sementara Anis yang berpembawaan kalem memang sudah duduk dengan manis.

                “Coba kalau tadi anti lurus saja dan kita tidak berputar-putar, kita bisa naik bus yang tadi dan tak perlu lari-lari.” Anis melanjutkan omelannya. Awalnya, tepat saat kami selesai memarkir motor di penitipan dekat halte bis, pada saat itu bis tepat berangkat. Kami terlambat tipis itu gara-gara di sebuah perempatan terdapat tanda ‘di larang lewat’ alias jalur satu arah sehingga aku sebagai sopir memilih belok kiri dan melalui jalan yang lain. Padahal, banyak orang yang tidak mematuhi tanda itu. Mereka tetap melintasi meski arahnya berlawanan.

                “Ya kan di situ ada aturannya tidak boleh lewat, Anis.” Jawabku yang memang orangnya terlalu ‘lempeng’.

                “Aturan ada untuk apa coba?”

                “Ya untuk ditaati lah” Jawabku cepat sambil meringis agar Anis tak menggerutu lagi.

                “Siapa bilang? Aturan ada itu untuk dilanggar.” Anis masih sebel padaku. Bukan karena lari-lari tapi karena aku yang menurutnya terlalu patuh aturan lalu lintas. Di lampu merah, kalau belum hijau aku memang  tidak akan jalan, meski orang-orang sudah meluncur masing-masing. Sehingga kami sering ‘diteriaki’ di lampu merah itu.

                “Ihhh, itu kalau belum sekolah, jadi tidak tahu. Kalau sudah sekolah pasti tahu, aturan itu untuk apa? Ya untuk ditaati thooo.”

                “Terus aku mesti bilang wow, gitu?” Reflek Anis yang memang mudah sekali meniru iklan.

                “Ya bilang saja! Masa tiap mau bilang wao tanya melulu? Kapan bilangnya?”

                “Ah, susah memang ngomong sama anti tuh! Gak pernah bikin orang seneng!”

                “Lho aku kan memang gadis jahat. Siapa yang bilang? Anti, bukan?”

                “Dasar tidak punya empati!”

                “Mbak ongkos! Dari tadi geger melulu!” ucap kondektur yang mendadak sudah sampai di samping Anis.

                “Heheheee” Anis dan aku  tertawa bersama. Jika kondektur tidak datang, entah sampai kapan kami terus bertengkar.

                Selesai membayar, kami diam. Aku menolehkan muka ke jendela ingin melihat pemandangan. Ternyata laki-laki di sebelahku kini sudah bangun. Dia menatapku  lamat-lamat, mengingat-ingat seolah sudah pernah bertemu namun lupa siapa. Dan aku pun menyadari bahwa diriku sedang diperhatikan. Aku mengangguk dan tersenyum.

                “Mbak, sepertinya mbak tidak asing bagi saya.” Jawab lelaki itu membalas senyumku.

                Seperseribu detik kemudian, degh! Hatiku juga merasakan hal yang sama. Seperti sudah sangat kenal dengan orang ini.

                “Oh? Saya ini memang mirip banyak orang kok, Pak! Hehheee.” Balasku berusaha menutupi kegugupan.

                Laki-laki itu masih berusaha keras untuk mengingat sedang aku semakin gugup karena semakin yakin bahwa laki-laki ini benar-benar dia. Dia adalah laki-laki yang kutemui 6 tahun yang lalu di rumah sakit saat kakakku kecelakaan. Waktu itu selama dua jam kami mengobrol dan aku   benar-benar terpesona. Dua jam kebersamaan itu mengantarkan pada kenyataan bahwa ternyata lelaki itu terpilih menjadi cinta pertamaku. Meski hanya 2 jam kebersamaan itu, tapi bagiku itu adalah momen yang paling berkesan. Meski setelahnya kami tidak pernah bertemu lagi. Entahlah, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Mungkin itu adalah rangkaian takdir. Dan kini kami dipertemukan kembali.  Ah, apa maksud semua ini?

                “Tidak, mbak! Rasanya saya sangat kenal dengan mbak.” Laki-laki itu masih memaksa.

                “Eh?” Aku jadi bingung juga sambil berusaha menenangkan hati. “Bapak, seorang dokter di RS Dr. Ramlan,  bukan?” Aku mencoba memastikan.

                “Iya benar.” Lelaki itu mulai senang. Apakah dia pasienku? Kalau cuma pasien, kenapa aku merasa sudah dekat? Lelaki itu jadi bingung juga.

                “Sepertinya kita pernah bertemu 6 tahun yang lalu Pak.”

                Laki-laki itu mulai berfikir, mengingat-ingat 6 tahun yang lalu.

                “Waktu itu saya masih SMA, memakai kaos biru lengan pendek dan celana olah raga.” Aku mulai memberi informasi yang kuharap  bisa membantu sang dokter mengingat kejadian waktu itu.

                “Waktu itu saya menjaga kakak saya yang kecelakaan dan kedatangan Bapak sebenarnya hanya menemani kawan Bapak, yang waktu itu memang diwajibkan menengok kakak saya. Bapak pikir saya polwan, tapi ternyata saya siswa kelas 3 SMA.”

                “OH IYA!” Seru lelaki itu senang.”Kok kita bisa ketemu di sini ya? Dunia ini rasanya sempit sekali.” Lanjutnya sambil tersenyum lega.

                Sebaliknya, aku justru jadi grogi, laki-laki itu tidak tahu kalau dia adalah cinta pertamaku.

                “Nama kamu Dinda, bukan?”

                “Hehee, iya Pak Alvin”

                “Kamu masih ingat nama saya juga.”

                “Kalau ini teman saya, namanya Anis.” Aku  memperkenalkan Anis untuk sekedar menghilangkan kekacauan hati.

                “Anis, ini Pak Alvin.” Kataku  pada Anis yang sedang sibuk sms.

                Anis tersenyum pada pak Alvin  dan dia langsung teringat cerita cinta pertamaku, Alvin.

                “Oh Pak Alvin yang dok” Kata-katanya kupotong dengan cubitan tangan. Anis reflek mengucapkan itu karena dia juga kaget kenapa bisa bertemu.

                “Iya saya Alvin.” Jawab pak Alvin yang belum sempat mendengar kata ‘dok’

                Memoriku  dan pak Alvin berputar pada kejadian 6 tahun lalu. Antara senang, kaget, juga heran. Mereka sampai bingung bicara apa.

                “Bapak sudah menikah ya?” kata-kataku  memecah kecanggungan mereka.

                “Ya sudah lah.. Dinda sudah punya pacar sekarang?”

                “Nikah dengan perempuan yang dulu itu?” Jawabku mengingat dulu pernah diperlihatkan foto pacar pak Alvin dan aku mengabaikan pertanyaan pak Alvin yang terakhir.

                “Ah kamu, masih ingat saja.”

                “Hehe. Jadi dengan dengan Mbak yang itu bukan, Pak?” Aku mengulang pertanyaan.

                Alvin menggeleng, “Tidak” sambil tersenyum.

                “Ohh” Mulutku membulat. “Lalu jadinya dengan yang mana?”

                “Hahhaha!” Alvin justru tertawa. “Dinda, kita lucu ya? Itu kan sudah 6 tahun yang lalu, kenapa Dinda masih ingat?”

                Anis tersenyum seraya menahan tawa mendengar kalimat Alvin yang terakhir. Bagaimana tidak ingat?

Drrrgh-drrrgh-drrrgh, hp di sakuku bergetar.

                “Dek, maafkan Mbak, baru sms sekarang. Mbak tahu betul bagaimana perasaanmu dan Mbak minta maaf sangat karena baru buka email tadi pagi. Terus, sekarang jadinya bagaimana?”

                Demikian bunyi sms yang kuterima dari Mbak Miftah, seorang   kakak kelas yang sudah kuanggap seperti saudara. Raut mukaku mendadak berubah. Kebahagianku  bertemu dengan Alvin, cinta pertamaku, mendadak seperti di-undo. Anis melirik hpku, sekilas tahu bahwa sms itu dari Miftah. Anis kemudian menatapku  dan langsung tahu bahwa kegalauan sahabat yang di sampingnya kini tidak bisa disembunyikan. Anis menatapku sedih.

“Sms dari siapa?” Tanya Alvin yang sepertinya juga merasakan aroma kegalauanku.

“Hehehee. Dari teman, Pak.” Jawabku datar. “Ngomong-ngomong, sekarang pak Alvin sudah punya anak berapa?”

“Satu, Dinda. Usianya sekarang tiga tahun. Dia sangat lucu. Sudah mulai ikut sekolah PAUD.”

“Ohya? Pasti bapak senang.”

Mereka bertiga melanjutkan obrolan seolah seperti teman lama yang lama tak berjumpa. Seperti dulu, enam tahun yang lalu, obrolan itu mengalir lancar dan menyenangkan hingga tak terasa satu jam berlalu. Hingga akhirnya aku  tahu bahwa Alvin kini seorang duda. Istrinya meninggal setahun yang lalu. Dan, kini kami dipertemukan? Sungguh pertanyaan besar bagiku. Ditambah posisiku saat ini.

Drrgh-drrrgh-drrrgh. Hpku bergetar lagi. Sms dari Mbak Miftah, sms yang sama. Mungkin karena sejak tadi belum kubalas, Miftah mengirimnya kembali.

                “Iya Mbak, tak apa. Aku mengerti. “ Balasku yang memang aku tahu Mbak Miftah sangat jarang membuka email. Biasanya aku menelponnya, akan tetapi akhir-akhir ini dia sering sibuk jadi aku mengiriminya email. Sekalian email itu kukirim pada kedua kakak kelasku yang lain. Mbak Linda dan Mbak Tiwi. Kepada mereka bertiga, aku meminta dibantu istikharoh. Ditambah Anis tentu saja.

                “Terus, sekarang gimana dek?” Balas Mbak Miftah beberapa detik kemudian.

                “Kau sedang apa sekarang? Mbak mau nelpon.”  15 detik kemudian Mbak Miftah sms lagi.

                Aku menatap layar hpku dan pikiranku kembali galau. Hampir-hampir air mataku serasa akan jatuh.  Apalagi di sampingku kini duduk seorang Alvin, cinta pertamaku. Pikiranku melayang kemana-mana. Pertemuan ini benar-benar di luar ekspektasi. Bahkan kini, dia tak lagi orang yang sudah menikah. Semua ini semakin membuatku galau.

                Bagaimana tidak? Hari ini adalah hari yang kujanjikan. Hari yang akan menentukan masa depanku. Hari yang akan menjadi pintu bagi warna hidupku selanjutnya. Aku sudah beristikharoh dan meminta bantuan empat sahabat dekatku, meski hanya tiga orang yang akhirnya membantuku. Dan hingga saat ini, aku masih tetap belum bisa membuat keputusan.

                Tiga hari yang lalu, kepala kantorku seorang duda dengan dua orang putri yang cantik dan sholihah memintaku menjadi istrinya. Dia orang yang dewasa dan menyenangkan bagiku. Awalnya, aku sama sekali tak mengira bahwa istrinya sudah tidak ada.

                Meski usia kami berbeda 15 tahun, pak Hadi bisa mengimbangiku. Bahkan, bagiku sebagai orang baru, beliau sangat membantuku beradaptasi. Apalagi aku baru memasuki dunia kerja yang sesungguhnya. Beliau orang yang tegas tapi humoris. Meski kata teman-teman dikantor, beliau itu sangat kaku dan baru tiga bulan sejak aku masuk beliau menjadi pribadi yang ceria. Terlepas dari itu, pak Hadi adalah orang yang berkepribadian menyenangkan hingga tidak pernah ada yang menduga bahwa beliau menyimpan rasa padaku.

                Pertemuanku dengan pak Hadi di kantor pun sebenarnya membuatku sangat bahagia. Hari-hariku menjadi berwarna. Ya, sejak setahun yang lalu, sejak Mas Riko menikah, pertemuanku dengan Pak Hadi menjadi awal aku ‘bahagia’ kembali. Meski hubungan kami hanya sebatas ‘tuan’ dan ‘pembantunya’ karena aku sama sekali tidak tahu bahwa istrinya telah tiada.

                Tiga hari yang lalu, saat pak Hadi mengatakan padaku bahwa dia ingin memintaku menjadi istrinya, jujur saja aku sangat senang dan bahagia. Aku tidak keberatan sedikitpun terkait usianya. Aku juga tidak keberatan sama sekali menerima kedua putrinya yang shalihah. Aku yakin aku akan bisa menjadi ibu yang baik dan menyayangi mereka seperti ibu kandung mereka. Apalagi setelah aku mengetahui bahwa  istri Pak Hadi yang dulu adalah orang yang baik juga shalilah. Tentulah putri yang dilahirkannya juga mewarisi kesholihahan ibunya. Sungguh, aku bersedia menjadi istri pak Hadi dan ibu bagi kedua putrinya.

                Sayang, di saat yang hampir bersamaan mas Riko justru menelponku. Tahukah kalian siapa Mas Riko? Dia adalah orang yang aku dulu kukira akan menjadi pendamping hidupku. Ah bukan, yang sesungguhnya aku dulu menyukai Mas Riko dan berharap menjadi istrinya. Meski rasa suka itu hanya ada dalam hatiku, menjadi rahasiaku dan langit. Tapi takdir ternyata berkata lain, Mas Riko menikah dengan perempuan lain. Perempuan yang menurutku kurang layak menjadi pendampingnya. Ah, itu hanya penilaian subjektif menurutku yang dipenuhi rasa kalah.

                Dulu, aku sering membayangkan tiba-tiba Mas Riko menelponku atau tiba-tiba datang ke rumahku dan memintaku menjadi istrinya. Dan setelah dia menikah, aku tak pernah membayangkan itu lagi. Ternyata bayangan itu kini menjadi kenyataan. Kenyataan yang nyata di saat yang sangat tidak kuinginkan.

                Aku, aku tentu saja masih menyukai Mas Riko. Meski cinta pertamaku bukan dia, tapi dia lah satu-satunya laki-laki asing yang kukenal dan aku berharap menjadi istrinya. Sekarang, dia benar-benar memintaku menjadi istrinya. Saat yang nyaris sama ada seseorang yang juga memintaku menjadi istrinya.

                Dan Mas Riko tak hanya memintaku menjadi istrinya. Dia sama dengan pak Hadi, dia juga memintaku menjadi ibu bagi putrinya.  Istrinya meninggal 2 bulan yang lalu saat melahirkan putri mereka. Aku lebih ingin menjadi istri Mas Riko dari pada Pak Hadi. Akan tetapi, rasanya aku tak sanggup menjadi ibu bagi putrinya.

                Bukan karena putrinya tidak sholihah karena dia baru berusia dua bulan. Bukan karena aku ragu akan kesholihahan Mbak Ria, istri Mas Riko. Ya, meski kuakui, aku sedikit ragu dengan itu. Karena menurut penilaian subjektifku, Mbak Ria terlalu biasa untuk menjadi pendampingnya Mas Riko. Dia tidak seperti Anis yang hidupnya penuh perjuangan. Dia juga tidak seperti Mbak Miftah yang punya empati. Ah, dia terlalu biasa menurutku. Ya karena aku memang kalah darinya, jadi dia nampak begitu buruk di mataku. Astagfirullahaladzim.

                Sejak tiga hari yang lalu pikiranku kacau. Hatiku tak menentu. Selera makanku nyaris hilang. Bahkan dua malam yang lalu aku hanya bisa tidur nyenyak tak lebih dari satu jam. Pekerjaan di kantor pun menumpuk, banyak yang menjadi tidak beres lantaran pikiranku yang kacau. Istikharoh yang kulakukan bersama sahabat-sahabatku belum memberikan tanda-tanda. Belum membuat hatiku condong pada salah satu. Benar-benar terlihat abstrak.

                Sore nanti adalah waktu yang kujanjikan untuk memutuskannya. Hidup ini memang tak lebih dari sekedar memilih, bukan? Pilihan yang kuhadapi kini nampaknya menjadi pilihan yang paling menentukan bagiku.   Karena pilihan ini akan menentukan bagaimana aku akan menghabiskan sisa hidupku. Entahlah, sampai saat ini aku masih belum bisa memutuskan.

                Sementara di sana, di belahan bumi yang lain, aku tahu kedua lelaki itu juga sedang galau menunggu keputusanku. Meski mereka tidak saling tahu satu dengan yang lain.

                Aku menatap keluar. Langit mendung membuat siang terasa sudah seperti sore. Terlihat Pak Alvin di sampingku juga sedang memegang hp.

                Drrgh-drrgh-drrrrrrghhhh. Hpku kembali bergetar, layarnya berkelap-kelip, suara Cristina Perri keluar dari speakernya. ‘‘Mbak Miftah calling…”

                “Itu ada yang telpon tuh!” Pak Alvin menunjukkan hpku sambil tersenyum.

                Aku membalas senyumannya. Ah, seandainya Pak Alvin juga memintaku jadi istrinya? Akan kupilih pak Alvin saja, batinku seraya menerima panggilan dari Mbak Miftah, bersamaan saat itu air hujan turun untuk pertama kalinya. Rasanya kali ini aku memang tak bisa memilih.

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Cerpen and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Jika Aku Tak Bisa Memilih

  1. j4uharry says:

    kalau dikasih pilihan, saya memilih untuk tidak punya pilihan

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s