(Cerita) Mudik Paling Elit

Ceritanya, saat ini saya memang sedang mengisi waktu dengan membantu-bantu sedikit di sebuah instansi nondepartemen milik pemerintah. Kantor saya tepat menghadap jalur Pantura yang menghubungkan Semarang-Surabaya. Tepatnya di wilayah kabupaten Gresik.

Jarak dari rumah ke kantor kurang lebih 60 km dengan transportasi yang cukup mudah. Jika dari rumah, saya cukup naik motor sekitar 8 menit lalu ada bejibun bus yang menuju Gresik, baik itu bus dengan trayek Tuban, Semarang, maupin Bojonegoro. Perjalanan di bus sekitar 1 jam 10 menit jika lalu lintas lancar dengan ongkos 5 ribu rupiah.

Dulu, setiap hari saya pergi-pulang setiap hari. Namun sejak lebaran tahun lalu, saya memutuskan untuk mempunyai kost di Gresik. Sekitar 400 meter dari kantor. Sehingga ritual mingguan saya menjadi Senin pagi berangkat dari rumah lalu Jum’at sore saya pulang.

Tanggal 26 Oktober tahun ini adalah hari Raya Id Adha yang kebetulan jatuh pada hari Jum’at. Konsekuensinya, libur berturut-turut 3 hari. Saya sama sekali tidak membayangkan, ternyata libur 3 hari itu justru membuat lalu lintas padat-sepadatnya melebihi mudik lebaran.

Jam 16:30 saya sampai di terminal Gresik. Setiap bus yang datang selalu penuh. Belum termasuk orang di terminal bagai semut. Bus yang seharusnya saya naiki adalah bus jurusan Bojonegoro, Tuban, atau bus ekonomi Semarang. Dan semua bus itu selalu full penumpang. Seandainya saya mau berebut, kemungkinan besar saya masih berhasil menyerobot. Tapi saya sangat malas berdiri di bus dengan bawaan yang berat. Plus saya saya sangat keberatan untuk berdesakan dengan para laki-laki bukan  mahrom di bus.

Saya menunggu bus patas Semarang. Tarif jika naik bus ini sama dengan tarif Surabaya-Tuban yaitu 30 ribu. Namun, tak apa yang penting duduk nyaman dan terkadang masih bisa ditawar kalau kondekturnya baik.😀

Sayang, sampai jam 18:00 tak ada satu pun bus patas Semarang. Tapi tak lama kemudian ada bus exekutif Lorena jurusan Jakarta dan Sumatra. Saya nekat, mencoba mendekati bus dan sedikt merayu kondektur. Alhamdulillah, saya boleh naik.😀

Yeah, memang harus ada harga yang dibayar untuk kenyamanan. Every prize has prices.

Tak terkecuali, arus balik. Saya pikir jika saya kembali Senin pagi saya akan kesiangan karena libur biasa saja bus penuh apalagi libur panjang begini. Akhirnya saya memutuskan kembali ke Gresik Minggu malam.

Ternyata bus pun langka. Bus dari Bojonegoro tak melintas. Bus dari Tuban juga. Dan bus ekonomi Semarang penuh sesak. Banyak sekali orang terlantar di pinggir jalan. Bus patas Semarang tak ada yang melintas dan menurut informasi dari makelar, semua bus patas pun, PENUH!

Akhirnya saya ke agen bus patas. Tapi sayang, jam Magrib itu arahnya bus ke Jakarta bukan ke Surabaya. Artinya tidak ada bus patas apa pun. Entahlah, saya tidak tahu apa yang ada di pikiran saya, saya masih tetap di tepi jalan menunggu barang kali ada bus patas.

Tak lama, entah bagaimana ada Taxi melintas, sebab daerah saya menanti bus itu adalah jauh dari kota dan Taxi. Kebetulan Pak Sopir usai mengantarkan kado pernikahan adiknya ke Tuban. Jadilah saya naik Taxi tersebut.

Saat turun, saya baca argo menunjukkan angka 159.700 dan saya beri Sopir dengan uang 160 ribu lalu  dikembalikan 10 ribu. (Kenapa tidak yang seratus ribu ya? :D)

Yah.. Ini adalah acara mudik saya paling elit. Jika biasa saya cukup keluar uang 5 ribu pulang dan 5 ribu berangkat. Tapi kali ini, naik patas bayar 30 ribu dan Taxi 150 ribu. *Antara ngenes merasa begitu apa ya  tapi juga ingin tertawa😀

*gambar dari sini

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Intermezzo and tagged , . Bookmark the permalink.

6 Responses to (Cerita) Mudik Paling Elit

  1. lambangsarib says:

    Kenapa gak milih Mudik gratis aja ?

  2. Wiwik says:

    kenapa gak dirayu tuh sopir taxi….

  3. ayanapunya says:

    biaya mudiknya jadi berkali lipat yak..

  4. anis says:

    gak papa, PNS kan orang kaya, dan sekal-lagi amal ma supir taxi.hehehhe

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s