Seandainya ‘Jika’

Tanggal 11 November, ayah dan ibuku berencana ke Purwokerto mengunjungi kakak. Seperti biasa, ayah dan ibu akan naik kereta ekonomi Logawa dari Jombang dan langsung turun di stasiun Purwokerto.

Dulu, beli tiket bisa dilakukan kapan pun. Namun sekarang, beli tiket logawa paling lambat adalah h-7 keberangkatan. Bahkan sering kali h-7 itu pun sudah habis. Karena itu, saya harus segera membelikan tiket untuk orang tua saya.

Saya ragu, apakah tiket itu harus dibeli di stasiun keberangkatan atau bisa di stasiun lain. Berdasarkan informasi dari temanku yang bekerja di PT KAI, tiket bisa dibeli di stasiun mana pun asal stasiun tersebut online, atau bisa juga dibeli di Indomart, Alfamart, atau di Kantor Pos dengan extra charge Rp 7.500.

Kemarin, saya memilih kantor pos untuk membeli tiket. Ternyata, kata petugas, kantor pos hanya melayani penjualan tiket kelas bisnis dan exekutif. Kalau yang ekonomi harus ke stasiun, katanya. Akhirnya sepulang kerja saya ke stasiun terdekat yaitu Duduksampeyan. Tapi sayang, stasiun Duduksampeyan tidak online. Maka langkah selanjutnya adalah ke stasiun online terdekat yaitu Lamongan.

Sampai di stasiun lamongan jam digital di hp saya menunjukkan pukul 17 lewat dan petugas mengatakan bahwa pembelian tiket hanya dilayani jam 6 pagi sampai jam 4 sore. Twingg! Saya kembali ke Gresik tanpa tiket tapi sudah mendapat kepastian bahwa tiket dari Jombang jurusan Purwokerto yang lewat jalur selatan bisa dibeli stasiun Lamongan (yang merupakan jalur utara).

Hari ini, jam 15:30 saya baru bisa keluar kantor. Perjalanan Gresik-Lamongan jika lancar akan memakan waktu kurang dari setengah jam. Jadi menurut perhitungan, saya masih ada waktu walau pun sangat mepet.

Ternyata bis lama tak berangkat dari terminal Bunder (Gresik) hingga jam 16:09 saya baru tiba di stasiun. Di perjalanan saya galau, antara balik dengan tangan kosong ataukah bagaimana. Yang jelas saya tidak mau rugi, hehehe. Akhirnya saya menghubungi teman yang ada di Lamongan, berharap bisa minta tolong padanya untuk membelikan tiket besok. Lalu saya akan ambil tiket itu kapan-kapan jadi saya tidak perlu buru-buru ke Lamongan lagi besok. Sayang, sms ke teman itu tak masuk-masuk lantaran dia internetan pakai hp jadi loading -___-“

Keputusannya, saya tetap ke stasiun. Alhamdulillah, loket masih buka dan mau melayani pembelian tiket.🙂

Namun sayangnya, saya tidak hafal nomer KTP kedua orang tua saya.😦

Info penting : Jika akan memesan tiket kereta api, jangan lupa membawa KTP!

Saya hubungi ibu ternyata beliau sedang di ladang. Hwaaa! Petugas masih mau menunggu, Alhamdulillah. Ternyata ibu lama sekali. Sampai akhirnya ditutup padahal 10 detik kemudian, sepupuku mengsms nomer KTP ayah dan ibu.😦

Dan parahnya lagi? Kata petugas di stasiun, pembelian karcis bisa dibeli di Indomaret atau pun Alfamart! GUBBRAKKKK!

Saya pun akhirnya membeli tiket di Indomaret terdekat dengan stasiun tersebut. :0

Seandainya, jika saya tahu bahwa pembelian tiket tetap bisa dilakukan di Indomaret atau Alfamart. Seandainya jika saya berfikir lebih luas, tidak mengeneralisir keadaan, misal di kantor pos tidak bisa, masih mungkin di Indomaret atau Alfamaret bisa. Seandainya jika kemarin saya tidak percaya begitu saja pada petugas di kantor pos. Yang bahkan petugas itu adalah satpam yang sekaligus costumere service garda depan, bukan petugas yang asli melayani. Tentulah saya tidak perlu rempong kesana-kemari.

Yeah, seandainya jika demikian. Akan tetapi, entahlah, selama ini saya sering mengalami kejadian yang mengajari saya untuk tidak berkata, “Seandainya jika.” Karena, apa pun itu, semuanya telah terjadi. Ada ‘tangan’ lain yang Berkehendak dan mengatur semuanya. Inilah yang saya maknai sebagai (salah satu) rangkaian takdir. Termasuk hal-hal remeh temeh seperti ini. Nah, apa lagi dengan hal besar? ^__^

Menurut saya, dengan pemaknaan seperti itu akan membuat diri ini bisa mensyukuri apa pun yang terjadi.🙂

*Salam sore yang indah, menikmati jalur Lamongan-Gresik dari bus di sore hari. Satu kata : Indah! ^__^

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Hikmah and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

9 Responses to Seandainya ‘Jika’

  1. pitaloka89 says:

    Hehe… harusnya pengalaman mengajarkan segalanya. Besok2 jangan diulang ya seandainya jika itu :p

  2. j4uharry says:

    Jangan berandai-andai bener banget

  3. lambangsarib says:

    Kesel membawa nikmat

  4. ndak apa mbak sekalian jalan2 ke lamongan…
    tapi bener juga ya yang tentang seandainya itu,,ada “tangan lain” yang lebih berkuasa, jangan berandai-andai hehe

  5. Pingback: Bisa Jadi | Dyah Sujiati's Blog

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s