Ustadzah Cinta

Siang hari di bulan Oktober ini cuaca terasa panas sekali. Bahkan dalam ruang kantor yang ber-AC. Saya di kantor adalah orang yang paling kecil dan satu-satunya yang belum menikah, jadilah saya itu anak dan adik bagi rekan kerja. Jika saya sedang ke lapangan, seringnya kantor sepi dan begitu saya datang langsung ramai. Entah saya cerita apa yang baru saya alami atau saat saya datang, mbak-mbak yang cerita ke saya, atau tiba-tiba bapak-bapak menggoda saya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan usil.

Beberapa siang yang lalu, saya lupa entah dalam perbincangan apa sehingga saya menjawab, “Oh jelas lah Pak, saya kan ustadzah. Ustadzah cintaa” kata saya sedikit genit. Hehehee

Lalu itu pun dikomentari seorang bapak, “Lha dukun cinta kok malah nggak dapat-dapat (jodoh, red) sampai sekarang?”

—–

Saya jadi ingat bahwa dulu sering dijuluki/dipanggil ‘Ustadzah cinta’ oleh adik-adik kelas dulu saya kuliah. Oleh kakak-kakak kelas atau pun teman sekelas demikian. Dan memang banyak sekali teman saya yang mempercayakan masalah ‘cinta’-nya pada saya.

Seperti apa sih jobdesk seorang ustadzah cinta ini?

Hmmm, bermula dari pemahaman. Saya tidak ingin membahas terlalu luas, biar lebih spesifik. Sepemahaman saya, tidak ada pacaran (yang sah) sebelum pernikahan. Dan anggap saja teman-teman saya dan orang di sekeliling saya punya pemahaman yang sama.

Namun sayangnya, meski sudah paham masih kesulitan untuk menerapkannya. Ada beberapa yang menjalin hubungan spesial dengan lawan jenis, TTM, sms romantis, atau apalah walau pun sebenarnya sudah tahu kalau itu tidak benar. “Iya mbak, saya tahu. Tapi…?” Kira-kira begitulah yang sering saya dengar. Nah, berarti sebenarnya tahu tho? Hanya saja belum memiliki cukup kekeuatan dan keberanian untuk meninggalkan.

Di sini lah jobdesk saya selaku ustadzah cinta *ceileeee

Saya akan berusaha untukn mendengarkan curhatan dan sekaligus menguatkan agar bisa tetap di jalan yang benar. Dan bagi yang sudah terlanjur, adalah bagaimana bisa mengakhiri. Sebab, orang sedang terserang VMG a.k.a Virus Merah Jambu ini sangatlah sensitif. Bisa jadi, bukannya sembuh malah lebih parah. Yah tidak jauh beda dengan pepatah ‘cinta itu buta’,  kurang lebih mirip-mirip lah . Jadi mungkin memang dibutuhkan dokter khusus untuk mengobati serangan VMJ ini.

InsyaAllah, ada banyak ustadzah cinta di dunia ini.

Di antaranya yang kukenal di dunia nyata dan kebetulan juga punya blog : ukhty Anis, ukhty Conny, dan Mbak Destha

Ohya, InsyaAllah juga saya akan menulis catatan perjalanan selama saya belajar Matematika di tahun 2006 s.d 2010 itu dalam sebuah novel yang InsyaAllah novel itu saya beri judul :

“Ustadzah Cinta”

Mohon do’anya ya biar bisa terwujud

—*—

Sekarang kita kembali pada percakapan di atas, menurut pemahaman si bapak bahwa seorang ustadzah cinta itu kan menyatukan orang. Lha kalau ustadzah cinta versi saya kan justru sebaliknya yaitu mamisahkan. Hehehe. Karena memang belum waktunya bersatu. InsyaAllah, semua akan indah pada waktunya.

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Intermezzo and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

8 Responses to Ustadzah Cinta

  1. Wiwik says:

    aamiin…
    boleh dong nanti novelnya satu buat saya,
    gratis ya, ustadzah….?

    btw, ustadzah cinta cari ustadz cinta juga ya…

  2. lambangsarib says:

    wow………… daripada banyak komentar, mending menunggu novel ustadzah cinta aza

  3. destha says:

    Oh noo… Pd tataran teori sy mmg bisa. Namun teknis memisahknnya yg jago ya sampeyan huehee..
    Hehe lucu komen dbawah. Ustadzah cinta mencari ustadz cinta

  4. winda says:

    Hehe,lucu Mb….Saya mendukung,Ustadzah cinta dengan topik memisahkan karna belum waktunya bersatu….Boleh juga donk bagi novelnya.hehe…Saya suka juga membahas masalah cinta,tapi saya aplikasikan dlm bentuk sbuah puisi.Ada jg yg bilang Ustadzah puisi…

  5. oohh ternyata ini toh misi yang sama denganku itu. hahaaa.. iya betul-betul. kau itu kayak cerminanku, hanya saja bedanya kau itu coleris sanguinis dan aku plegmatis yang malu-malu abis *eh😆

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s