Memberi atau Abaikan Saja

                Di sekitar kita nampaknya sekarang ada banyak sekali orang yang berprofesi  sebagai peminta-minta. Di pasar, di terminal, di bus, di lampu merah,  bahkan berkeliling ke rumah-rumah.

                Bentuk mereka pun beraneka ragam. Ada yang berupa anak-anak di bawah umur, kakek/nenek tua, ibu hamil atau sering juga ibu yang menggendong bayinya. Saya pernah melihat  seorang peminta-minta yang sedang istirahat di pertigaan lampu merah Randuagung-GKB, Gresik. Seorang ibu yang menggendong bayi. Saya yakin ibu itu berprofesi sebagai peminta-menita sebab saya lihat tangan kirinya memegang kaleng yang biasa digunakan peminta-minta di sana. Tetapi tahukah anda? Ternyata tangan kanan ibu itu memegang hp yang jauuuuuuh lebih bagus dari hp saya dan dia sedang sms-an. GUBBRAKK! (Saya minta Mbak Natria untuk memotonya, tapi sayang, karena pakai hp, jadi tidak dapat gambar yang pas.)

                Pernah juga, teman saya yang bernama Dina, melihat peminta-minta di perempatan Sentolang yang sedang hamil tua. Dina kasihan sekali melihatnya. Eh, besok lagi Dina melihat orang yang sama tapi perutnya sudah kempess! Twinggggg!

             Saya tidak paham kenapa mereka memilih profesi ini. Entah entah karena memang karena kekurangan atau karena malas bekerja. Dan alasan kedua ini yang serring membuat kita berfikir dua kali untuk mengulurkan uang dari kantong.

              Menurut bang Ipho Santoso dalam bukunya yang berjudul 7 Keajaiban Rezeki, beliau mengatakan bahwa jika ada orang yang meminta-minta, maka yang perlu kita lakukan adalah cukup berikan saja apa yang mampu kita berikan padanya. Apa pun alasannya itu adalah urusan mereka.

                Akan tetapi bagi saya pribadi, saya tidak sedermawan itu. Sejauh ini  saya berfikir, bahwa saya tidak bisa sembarangan memberi uang pada orang yang meminta-minta. Karena urusan kita tidak hanya sekedar memberi apa yang dia minta. Tapi menurut saya, ada pertanggungjawaban dari pemberian itu sendiri.

                Misalkan peminta-minta itu adalah anak kecil. Justru dengan memberinya, kita malah mendidik dia menjadi orang yang bermental lemah dan tidak kreatif. Begitupun jika dengan mereka yang masih muda dan mampu bekerja. Memberinya, hanya akan membuatnya semakin malas. Jadi menurut hemat saya, orang-orang seperti ini lebih baik diabaikan saja. Tentunya dengan cara yang halus dan sopan. Atau kalau punya sedikit keberanian, kita bisa memberinya sedikit motivasi agar dia meninggalkan profesi macam ini. Tapi, kalau mau ngasih motivasi, kasih dulu uang yang banyak. Selembar 50ribu misalkan. Lalu sambil memberikan uang itu bisa kita katakan padanya, “Tidak inginkah punya pekerjaan yang bisa dihormati orang? Tidak sekedar mendapat uang?” Atau katakan apalah yang bisa memotivasi mereka. Terutama jika dia masih berupa anak-anak.

          Namun beda lagi ceritanya, jika peminta-minta itu nenek-nenek yang tua renta. Bisa jadi memang demikianlah keadaannya. Saya pernah ke sebuah kampung yang mana penduduk di situ benar-benar memprihatinkan. Banyak nenek yang masih berprofesi seperti ini di usianya yang sudah sangat senja. Kebanyakan di antara mereka dahulu adalah pembantu rumah tangga atau sekedar pedagang kaki lima. Dan kini saat dia benar-benar sudah tidak punya tenaga untuk itu, dia memang tidak punya pilihan. Maka dengan yang seperti ini, alangkah baiknya kita berikan lebih dari sekedar selembar bertuliskan angka Rp. 10.000 (kalau ada, hehehe).

                Pun memang, tidak semua nenek peminta-minta keadaannya seperti itu. Ada tetangga teman ibu saya yang berprofesi sebagai peminta-minta sampai usianya senja. Dan memang dia berpfofesi ini sejak muda sedang dia enggan meninggalkan. Bahkan nenek itu bisa membelikan sepeda motor Supra-X cash untuk cucunya.

                Berdasarkan pengalaman saya, jika bertemu dengan peminta-minta yang berupa nenek-nenek, tawarilah makanan. Atau kalau tidak keberatan, ajaklah makan bersama. Atau ditawari dibelikan makanan juga bisa. Jika dia menolak, kemungkinan besar berarti meminta-minta memang profesinya. Tapi jika dia menerima berarti dia benar-benar butuh.

                Kira-kira seperti itulah menurut saya. Karena posisi kita bukan sebagai peminta-minta bukanlah sekedar memberikan, tetapi kita juga punya tanggung jawab sosial.

                Dan satu lagi. Kalau ada orang yang meminta sumbangan atas nama  organisasi, yayasan, atau apa pun lah, memang sebaiknya kita pastikan dulu kebenaran keberadaan yayasan tersebut. Tapi jika tidak punya banyak waktu, saya rasa lebih baik kita beri saja. Sebab di hadapan kita dia memberi informasi bahwa dia dari yayasan. Kalau ternyata dia bohong, ya itu adalah dosa-nya sendiri. Meski itu tadi, sebaiknya kita memang memastikan dulu kebenarannya. Apa lagi kalau kita berhasil membbuktikan bahwa itu palsu, itu bisa dibawa ke jalur hukum atas dasar penipuan sehingga penipuan model seperti ini tidak bebas berkeliaran.

Regards,

Dyah Sujiati🙂

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Menu Motivasi and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Memberi atau Abaikan Saja

  1. lambangsarib says:

    Wow…. kebetulan saya tinggal dan hidup di lingkungan kumuh girli (pinggir kali) ciliwung dan gemtas (gembel tasiun). Dalam 24 jam saya berinteraksi dengan mereka.

    Teramat sulit membedakan mana peminta minta sebagai profesi dan mana peminta mintas karena kebutuhan. Apalagi jika hanya bertemu sekali dan dalam beberapa detik saja.

    Susah nyimpulinnye…..

  2. Julie Utami says:

    Saya juga kalau ngasih peminta-minta kebanyakan males ngasihnya. Tapi mereka yang memang orang kekurangan namun tetap bekerja, misalnya petugas Dinas Kebersihan Kota yang buang sampah kita tiap minggu, ya tanpa diminta saya sering memberinya sesuai rejeki di kantong saya.

    Sama nak, buat saya memberi orang peminta-minta sama sekali tidak mendidik, melainkan cuma memanjakan orang yang kurang gigih berusaha.

    • Julie Utami says:

      Sudah barang tentu nggak tersinggung, terutama mereka yang tiap minggu memang dapat tugas dari DKP keliling kampung ngangkut sampah warga. Malah kalau lama saya nggak ngasih dengan berbagai alasan, mereka nggak segan-segan ngasih kode waktu ngambil sampah saya.😀 Sebab biar sedikit buat mereka lumayan, bisa dipake minum kopi kayaknya sih.

  3. Pingback: Mungkin Saja | Dyah Sujiati's Blog

  4. lazione budy says:

    10.000?

    Mending masukkan ke kota amal.
    Kalau beramal yg pasti2 saja.

  5. Pingback: (Tak) Sekedar Sedekah | Dyah Sujiati's Blog

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s