Jangan Memancing!

Uhm, sepertinya edisi ‘rangkaian takdir’ bagi saya belum usai. Setelah kemarin sempat bolak-balik ngurus tiket ayah dan ibu ke Lamongan, gantian kemarin saya ke Surabaya nyari tiket untuk saya sendiri.

Rencana saya tanggal 14 November ini akan ke Purwokerto. Rencana saya akan naik bus malam Rosalia Indah. Karena itu saya harus memesan tiket. Pemesanan tiket (setahu saya) hanya bisa melalui agen di Medaeng sebelum masuk Terminal Bungurasih sekitar 500 meter.

Kemarin, sepulang kerja saya ke agen naik bus Semarang-Surabaya. Bus penuh dan saya berdiri. Undelicious bus, i think. Kaca jendelanya dilapisi warna hitam jadi saat berdiri itu tidak bisa melihat pemandangan apa pun. Sumpek, its called. Dan ternyata tiket sudah habis.😦

Jadi intinya ya saya cuma main itu ke Bungurasih. Tak apalah, rangkaian takdir. *menghibur diri*

Kebetulan kemarin bareng Mbak Natria. “Dy, nanti dari Rosalia, ke terminal Dyah naik apa?” Tanya mbak Nat pada saya.

Dengan sinting saya jawab, “ya kalau tidak jalan kaki, mungkin aku lari, mbak! Masak naik taksi?”

Eh ternyata, kalimat itu bisa jadi do’a ya? Setelah saya keluar dari Rosalia ternyata bus yang tadi saya naiki masih terlihat akibat jalanan yang agak macet. Lalu dalam hati muncul ide gila, “aku harus berlari dan sampai terminal bersamaan dengan bus. Jadi bisa ketemu Mbak Natria lagi dan say hello.”

Saya pun benar-benar lari, ahahaa!😀

Tak hanya sampai di situ. Ternyata untuk kembali ke Gresik, tidak ada bus jurusan Semarang. Pun, punumpang yang menunggu sangatlah banyak. Satu bus akan kurang mengangkut mereka. Kebanyakan orang tua pula. Saya tak akan tega melihat mereka berdiri sementara saya duduk.

Akhirnya saya memutuskan naik bus patas. Saya mencoba nego kondektur untuk membayar Rp. 10 ribu. Tapi ternyata rayuan saya tak mempan dan tetap dikenakan tarif Rp. 30 ribu. Padahal kalau naik bis ekonomi hanya 4 ribu rupiah!

Akhirnya saya memutuskan naik bus kota P.8 jurusan Wilangun. Sehingga nanti dari Wilangun saya bisa naik bus atau angkot. Alhamdulillah bis ber-AC dan nyaman. Meski harus oper, tapi ini lebih baik dari pada naik patas atau taksi😀

Sesampai Wilangun saya memutuskan naik angkot. Ternyata naik angkot itu mengerikan.😦 Saya tidak berani turun di tempat tujuan. Saya memutuskan untuk turun bersama seorang ibu yang terakhir turun lalu dijemput teman saya.

Bukan saya ini su’udhon dan menuduh orang laki-laki yang baik di angkot itu adalah orang jahat. Bukan pula saya ini phobia dan lain sebagainya. Namun mendengar banyak kejahatan di angkot malam hari, membuat saya harus berhati-hati.

Ya, keberadaan saya perempuan sendiri di angkot, tidak mustahil akan memancing sesuatu yang buruk. Meski saya sudah berpakaian dengan benar dan orang-orang di dalam itu juga orang baik. Tapi kondisi di mana saya sendirian itu bisa ‘memancing’. Maka dari itu, saya memutuskan turun agar tidak memancing hal-hal buruk.🙂

*Gambar dari sini

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Menu Motivasi and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Jangan Memancing!

  1. lambangsarib says:

    Aha….. lari lagi gembrobyos ora mbak ?

  2. Mbak Rien says:

    Rada takut memang kalau naik angkot malam hari🙂

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s