Karena Antena Tersambar Petir

Keponakan saya, Citra, sangat suka pada yang namanya olahraga. Beda sangat dengan bibinya ini😀 Olah raga yang paling disukainya adalah sepak bola.

Tadi selepas Magrib kami pergi bersama. Di boncengan saya dia bilang, “Mbak Ta, sekarang Indonesia ikut main bola (dalam ajang apa gitu yang tidak saya tahu haha :D) eh malah tiviku tidak bisa dinyalakan.”

Beberapa hari yang lalu, terjadi hujan lebat dan petir yang hebat. Antena rumah kakak saya roboh dan kakak saya bilang bahwa itu tersambar petir. Padahal mungkin sebenarnya hanya terserang angin.

Dia pun melanjutkan, “Padahal dulu, pas tiviku bisa Indonesia belum ikut. Hyaaa! Tidak beruntung ini namanya.”

Ehm, saya tidak bermaksud untuk memperdebatkan sesuatu. Segala sesuatu itu akan baik dan benar saat pada tempat dan waktu yang tepat plus dengan kadar yang sesuai takaran. Dan takaran/ukuran itu sebenarnya sudah jelas tapi sering manusia itu sendiri yang mengabsurdkannya.

Beberapa hari yang lalu, saat saya main ke Purbalingga dengan Mbak Maya, seperti biasa kami selalu ngobrol ke sana kemari. Pun kami juga saling ilmu apalagi kami lama tak bertemu. Pada kesempatan saat itu, Mbak Maya memberi tahu saya bahwa salah satu strategi kaum kafir untuk menjauhkan generasi muda Islam dari agamanya adalah melalui 3f 2s. Yaitu fun, fashion, food, sound, and sport. Dan saya tidak bermaksud membahas 3f 2s di sini. Selanjutnya adalah kembali pada percakapan dengan keponakan saya.

Citra saat ini kelas 2 MTs, kebetulan dia suka membaca buku-buku saya. Jadi sedikit-sedikit untuk anak sesusia dia, dia cukup tahu bahwa memang ada orang-orang di dunia ini yang Allah ciptakan sebagai ujian bagi orang lain. Minimal, dia sudah mulai berusaha menghindari produk-produk boikot dan meminta ibunya/kakak saya membeli produk nonboikot.

Mendengarnya berujar seperti di atas, saya menaggapinya, “Mbak, kamu tahu nggak? Ada 5 cara orang menjauhkan anak muda dari Allah?”

“Apa itu Mbak?” Tanyanya penasaran.

“Fun, fashion, food, sound, and sport.”

“Lho, kenapa sport, Mbak? Kok bisa?”

“Ya bisa Mbak. Kalau olahraganya sendiri tidak masalah. Rosulullah pun mengajarkan kita olah raga. Tapi letaknya justru pada orang-orang yang nggak olahraga itu. Contohnya, sepak bola saja. Banyak supporter anarkis, urakan, berantem, mengganggu lalu lintas. Contoh lagi kalau ada pertandingan malam. Banyak orang sampai mbelani bangun malam-malam cuma buat nonton bola. Tapi kalau untuk sholat?”

“Iyo yo Mbak!”

“Terus manfaatnya buat yang nonton itu apa? Apa dia jadi punya prestasi? Lha wong dia lho nggak ikut olahraga. “

“Iya juga sih Mbak.”

“Nah, sekarang gimana? Beruntung apa tidak kalau antennya rusak?”

“Ya beruntung sih.. Hehehe.”

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Hikmah and tagged , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Karena Antena Tersambar Petir

  1. lambangsarib says:

    Kalau antena rusak mana bisa lihat Yusuf Mansyur ?

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s