Menilik dari Kesalahan

Saya mempunyai seorang teman, dan jujur, saya sangat mengagumi orang tersebut. Usianya terpaut lebih dari 10 tahun dengan saya dan dia juga telah melahirkan dua orang anak. Dia orang yang ‘pethakilan’, lucu, dan dia pendengar yang baik. Dan satu lagi dia itu suka menempatkan dirinya jika dia di posisi orang lain. Artinya, dia selalu berusaha memahami orang lain. Dan yang penting lagi, dia orang yang ‘mau belajar dan mau berubah‘.

Dia, merupakan salah seorang pendengar setia saya. Perbedaan usia kami menempatkan saya pada posisi adik yang cenderung jauh lebih banyak menceritakan dari pada mendengarkan. Sejak awal kami kenal, kami memang bagian dari jodoh, kami cepat akrab, bisa percaya satu sama lain, dan bisa saling menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing. Selama ini, banyak sekali hal yang saya ceritakan padanya. Mulai dari buku, teman, kejadian, makanan, dan lainnya.

Saya sering sekali menceritakan tentang kemudahan menikah yang dialami teman-teman atau orang yang saya temui. Saya sering bercerita padanya tentang bagaimana keberkahan dan keajaiban pernikahan orang-orang yang saya tahu di mana proses pernikahan mereka dilakukan secara syar’i tanpa diawali pacaran. Saya juga sering sekali menceritakan keteguhan teman-teman saya / orang yang saya temui yang berusaha menjaga hubungan. Dia amat menghargai dan (diam-diam) ikut serta senang dengan semua itu. Padahal, dulu sebelum menikah dia berstatus berpacaran dengan suaminya itu selama 5 tahun.

Dia, saat ini adalah orang yang memahami tentang apa itu pacaran. Kini dia telah tahu bahwa pacaran itu yang ada ya setelah menikah. Lalu terkait dengan berstatus pacaran yang telah dilakukannya, tidak kemudian menutup hatinya untuk ribut mencari pembenaran atas apa yang telah dia lakukan. Ya, meski kini hanya bisa menyesali kenapa dulu tidak berproses dengan benar. Itulah salah satu hal yang membuat saya salut padanya.

Dia memiliki seorang adik sepupu yang tinggal di rumahnya. Kebetulan adiknya kini menjalin status pacaran dan sering bercerita pada dia. Dia, amat memahami bahwa apa yang dilakukan adik sepupunya itu tidak benar. Sejauh ini dia mencoba menanggapi apa yang diceritakan adik sepupunya itu untuk mengarahkan agar adik sepupunya berhenti pacaran. Namun, terlepas dari proses itu butuh waktu, dia katakan pada saya bahwa dia belum bisa ‘tegas’ pada adik sepupunya itu. Alasannya, lantaran dia sendiri dahulu juga melakukan pacaran. Kesalahan yang sama yang sedang dilakukan adik sepupunya saat ini.

Sebuah kesalahan yang pernah dilakukan seseorang memang terkadang membuat pelaku berada pada posisi yang sulit. Seperti teman saya itu tadi. Ketika dia hendak meluruskan adik sepupunya, kesalahan dia di masa lalu menjadi penghambat. Adik sepupunya akan dengan sangat mudah membantahnya, “Dulu Mbak saja pacaran? Kenapa sekarang melarangku?”

Saya hanya tersenyum mendengarnya sebab waktu cerita kami sedang berboncengan motor.

Ketika kita menilik sebuah kesalahan, dan ternyata kesalahan itu menyulitkan diri, saya rasa kita perlu menilik dari arah yang lain. Misal ada seorang laki-laki yang dulunya suka mencuri. Lalu dia menasihati anaknya agar tidak mencuri. Ketika dia dihadapkan pada pernyataan anak, “Kenapa ayah melarang saya mencuri? Padahal ayah dulu juga pencuri!” Maka jawabannya adalah agar kamu tidak mengulangi kesalahan yang sama dengan ayah.

Maka demikian halnya dengan teman saya, dia bisa menilik kesalahannya di masa lampau sebagai bahan pembelajaran bagi adik sepupunya agar tidak melakukan kesalahan yang sama.

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Hikmah and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Menilik dari Kesalahan

  1. utie89 says:

    betul itu, lagipula kan, waktu itu temannya belum tahu, makanya dy menyesal dan berharap sepupunya tidak akan merasakan sesal yang sama

  2. destha says:

    Panjenengan lagi seneng dgn frase gagalpaham njeh?😀

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s