Seperti Potongan Semangka

Tadi siang saya ‘update status’ by sms yang isinya :

Budaya masyarakat kita (muslim) yang suka mengunjungi makam-makam itu kalau kupikir-pikir nampaknya tak jauh beda dengan okultis ya? *Lagi ngentri data peninggalan tempat bersejarah

Sms terkirim ke beberapa teman saya. Yang menarik adalah balas-berbalas dengan Mbak Destha.

D : apa itu okultis?

Saya : Pemujaan pada benda keramat, tempat keramat, atau orang yang sudah mati.

Setahu saya, masih banyak muslim yang mengunjungi makam lalu berdo’a di depan makam tersebut dengan harapan do’a bisa terkabul karena menganggap tempat berdo’a di dekat makam ‘syech’ itu merupakan tempat yang baik atau juga karena mendapat barokahnya orang yang sudah meninggal tadi. Atau kasarnya, dengan mengunjungi makam itu mereka berharap dapat berkah dalam hidupnya. Dan sejauh ini, saya tidak mendapat penjelasan secara logis maupun dasar hadits yang bisa dipercaya. Kepercayaan semacam itu entah dari mana berasal.

D : Kaya film detektif, semisal aku detektifnya. Bisa lihat-lihat data statistik daerah lewat kamu. wakakak. Berasa Conan

Saya : Hzaaa! Tapi aku dokter (Stupid answer :D)

D : Iyeee. Kalau Holmes kan detektif. Sobatnya waston itu seorang dokter.

saya : Hizaaaa! Estresso! Tapi aku kan dokter cinta! Wkawkawka!

D : ya aku detektif cinta. Hzeeek

Saya : Hzeeeeeaaaaaa! Really estresso! Detektif Destha dan Dokter Dyah, ahaha bagus ya Mbak? *makin edan

D :  Wakakak. Kaya realita show di sctv dulu. Detektif desta and bos Ari Daging. Detektif itu pekerjaan tak baik. Kata salah satu tokoh di komiknya, Kaito Kid “detektif hanyalah tukang cari-cari kesalahan orang.” *saluuutsamadirisendiri. masih hafal, ck ck, ck

Saya : Maksudku tadi tu, bagus karena DD DD. Maksud ra?

D : mangduddd.. DDDD

D : kayak potongan semangka, wakakak

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Intermezzo and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Seperti Potongan Semangka

  1. lambangsarib says:

    Setiapkali tour de java (uiih…. keren yah ?), alias mudik ke kampung halaman hampir pasti mampir ke masjid masjid tua beserta mengunjungi makam makam para pendiri masjid.

    Masjid Tegal, Pemalang, Pekalongan, Ndemak, Pati, Rembang, Magelang, Purworedjo dan beberapa yang lain menjadi langganan. Untuk sekedar numpang istirahat dan sholat. Dimasjid masjid itu anganku seolah terbawa ke masa silam. Terbayang bagaimana para leluhur ber syi’ar mengenalkan agama Islam ditanah Jawa waktu itu.

    Kayaknya malah jarang yang Okultis deh. Hehehe…..

  2. destha says:

    Sy jdi ingat seorang mbah saya menjadikan masjid sbg penanda tempat. Stiap kali mengunjungi daerah baru, beliau mencatat daerah dan nama masjidnya. *btw cepat kaii kau update

  3. Pernah lihat di TV ada berita tentang sebuah makam keramat yang seringkali dikunjungi orang dari banyak daerah yang jauh tapi tidak pernah dikunjungi oleh masyarakat yang tinggal di sekitar makam itu sendiri

  4. Wiwik says:

    kaya potongan semangka?
    enak dong….

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s