Jodoh Berbatas Waktu

Kata ‘jodoh’ memiliki makna yang sangat luas. Seperti yang pernah saya tulis di sini, bahwa jodoh itu menurut saya berarti pertemuan yang menjadikan cocok, pas, dan tepat. Contoh mudahnya adalah membeli sepatu. Saya yakin tidak semua sepatu itu jodoh dengan kaki seseorang. Mulai dari model, ukuran, kenyamanan, sampai dengan harga. Pun misalkan sudah menemukan sepatu yang cocok, ada satu pertanyaan lagi, “Sampai kapan sepatu itu berjodoh dengan saya?” Sampai dia rusak atau sampai dia hilang?

Bisa jadi, analog yang saya pilih kurang tepat. Jodoh dalam hal pasangan hidup, saya rasa pun sama halnya dengan sepatu. Tapi bedanya, batas bakwu itu yang sama sekali tidak bisa diprediksi. Sebenarnya peluangnya pun sama. Analog dengan rusak atau hilang itu tadi. Beberapa kejadian yang saya temui akhir-akhir ini memang membuat saya berfikir demikian. Beberapa temannya teman saya, mengalaminya. Mereka harus berpisah dengan suami/istrinya.

Yeah, semua memang tak lepas dari Tangan Yang Berkehendak dan semua yang terjadi adalah rangkaian takdir. Maka manusia memang hanya bisa mengusahakan agar jodoh (dengan pasangan hidup) itu tidak berbatas waktu. Bahkan kalau bisa tentu berjodoh sampai di kehidupan yang kekal kelak.

Maka dengan keterbatasan pengetahuan yang saya miliki -karena saya sendiri sampai saat ini juga belum menikah :(-, saya berfikir bahwa terlepas dari kata takdir, maka hal yang bisa dijadikan dasar untuk membuat agar jodoh tidak berbatas waktu adalah sebab. Jika ingin sesuatu yang abadi, maka gunakan sebab yang abadi pula. Itulah kalimat yang sering saya dengar. Apa atau siapakah itu yang abadi? Kita tahu jawabnya adalah Allah.

Kemarin saya silaturahim ke rumah responden, namanya Pak Setyono dan Bu Supiah. Mereka telah meikah 10 tahun yang lalu dan sampai saat ini belum dikarunia Allah dengan seorang anak. Tapi yang saya lihat dari hubungan mereka, mereka nampak mesra dan fine. Menurut pengakuan Pak Setyono, “malah enak, Mbak. Kami seperti orang pacaran terus. Dan kami baik-baik saja. Kami bersyukur dengan apa yang ada pada kami sampai saat ini”

Saya pun akhirnya tertarik menanyakan kepada mereka tentang bagaimana dulu sehingga mereka menikah. Beginilah yang dikatakan Pak Setyono :

“Wah, dulu kami tidak sengaja ketemu karena pekerjaan saya kan sopir jadi biasa berhenti-berhenti. Saya suka lihat dia (bu Supiah). Langsung saja saya tawari mau tidak nikah dengan saya? Jawabnya mau. Ya sudah kami nikah. Dan baru pacaran setelah menikah. Beneran Mbak, pacaran itu enak setelah nikah. Karena tidak ada manusia yang sempurna. Kalau pacaran dulu akan selalu ada kekurangan, jadi batal nikah. Tapi kalau sudah menikah, ya mau atau tidak mau akan bisa menerima kekurangan-kekurangan itu.”

Ya, karena pak Setyono berniat menikah. Meski tidak diikrarkan menikah karena Allah, tapi jelas motivasi Pak Setyono dan Bu Supiah dulu jelas berniat menikah.

Meski saya hanya bersama mereka sekitar satu jam, tapi saya merasa mendapat pelajaran yang penting dari mereka. Ingatkah pada teori ‘5 detik pertama’? Mungkin saya terlalu berlebihan, tapi penilaian saya pada Pak Setyono pada 1 jam pertama itu memberi saya banyak pelajaran. Sebab yang abadi adalah penetralisir jodoh berbatas waktu.

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Jodoh and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Jodoh Berbatas Waktu

  1. lambangsarib says:

    Mantebs pak setyono….. I like it.

    Mbah kakung dan mbah putri dulu gak pacaran, gak kenal sebelumnya, dinikahkan orang tua, ternyata adem ayem aja, anak cucunya bejibun. Dan hanya maut yang memisahkan mereka. hiks….

  2. j4uharry says:

    Nantikan ku di batas waktuuuu …..

    #senandung edcoustic eheh

  3. Pingback: Cinta Itu Sederhana | Dyah Sujiati's Blog

  4. Pingback: Cinta Itu Sederhana | Dyah Sujiati's Blog

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s