Menyesalkah?

Jika tiba-tiba ditanya, “Menyesalkah?”, maka jawaban apa yang paling tepat?

Saya rasa tergantung kondisinya. Ada sebuah kondisi yang memang harus disesali tapi juga ada kondisi di mana penyesalan itu sama sekali tidak diperlukan. Kapan kah itu? Nampaknya akan sangat luas jika membahasnya tanpa batasan.  Karena tiba-tiba jadi ada banyak hal yang bertebaran di angan saya. Dan saya jadi bingung menuliskannya, ahahahaa!

Baiklah, saya batasi pada hal-hal nampaknya sepele, menyesalkan, tapi mau bagaimana lagi? Begitulah.

Terkadang, rasa menyesal itu berawal karena kebodohan atau kelalaian yang sebenarnya bisa dihindari. Tapi terkadang juga seolah itu menjadi sesuatu yang tak bisa dihindari. Saya biasa menyebutnya dengan ‘rangkaian takdir’ yang semata-mata itu terjadi atas Kehendak Allah. Yeah dengan catatan, tidak bisa selalu seperti itu.

Misal seperti ini. Dulu ketika saya pulang dari rumah saudara saya dengan waku yang terbatas, tepat saat saya selesai menyebrang jalan langsung ada angkutan. Angkutan itu berhenti. Tapi saat saya hendak naik, tiba-tiba keponakan saya di seberang jalan berteriak-teriak memanggil saya. Saya pikir ada apa. Ternyata tidak ada apa-apa. Angkutan tadi bahkan sudah jalan. Al hasil saya harus menunggu sejam lebih untuk angkutan berikutnya. Seandainya tadi saya bilang pada sopir, “Pak, tolong tunggu sebentar!” Tentu saya akan ditunggu dan naik angkot tersebut.

‘Seandainya’ merupakan kata yang mencerminkan ‘makna sebuah penyesalan’. Seandainya begini seandainya begitu dan seterusnya. Sedikit menyesal memang. Tapi kemudian saya berfikir (katakanlah ini menghibur diri) seandainya tadi saya naik angkot tersebut mungkin akan terjadi sesuatu  yang buruk pada saya. Entah bagaimana.  Walaupun juga belum tentu benar demikian. Hanya saja dengan positive thingking seperti itu, saya rasa lebih baik.

Maka dalam hal-hal tertentu, setiap apa pun yang terjadi jika itu terasa ‘menyesalkan’ maka yang terbaik menurut saya adalah berpositif thingking dan mengambil ibrohnya jika ada.

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Menu Motivasi and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Menyesalkah?

  1. ayanapunya says:

    kadang kalimat seandainya itu mau tak mau muncul saat kita merasa melakukan kesalahan

  2. lambangsarib says:

    Sepakat, nasi sudah jadi krupuk.

  3. Ucapkan Alhamdulillah… karena dapat ibrohnya.

  4. utie89 says:

    ada hadisnya kan mb “janganlah mengatakan seandainya begini, saya pasti begini, tapi katakanlah, Alloh telah menakdirkan demikian”

  5. Pingback: Bisa Jadi | Dyah Sujiati's Blog

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s