Di Kala Ban Bocor

Langit nampak kelabu di beberapa penjuru meski di sela-selanya tersirat beberapa helai warna biru. Kontradiksi dengan langit di musim kemarau. Angin bertiup cukup kencang. Jika kau orang yang kurus, kau bisa terbang terhempas olehnya. Atau setidaknya, angin akan membuatmu sempoyongan saat kau bejalan jika kau adalah orang yang kurus.

Hari ini tengah bulan di bulan pertama tahun ini. Dua orang temanku yang sedang bertugas di sebuah pulai di antara Kalimantan dan Jawa belum bisa pulang sampai saat ini. Tak ada kapal yang berani berlayar menentang angin dan ombak di tengah laut Jawa. Angin rupanya telah membuat mereka tertahan di pulau itu.

Sebulan yang lalu kita telah disatukan dalam sebuah perjanjian besar yang membuat seluruh penduduk langit dan bumi menyaksikan. Ya, sebulan lalu dan sejak saat itulah kita mulai menyayangi dan mengerti satu sama lain. Meski pertama berjumpa adalah satu setengah tahun yang lalu namun selama itu kita hanya bertemu tak lebih dari seluruh jari yang ada di tanganmu.

Aku yang dulu hanya tahu segaris besar saja ‘tentangmu’ yang bagiku kau adalah gadis yang (nampak) menyenangkan. Begitu juga denganmu yang hanya tahu bahwa aku adalah lelaki sholih yang sholat lima waktu tepat waktu dan tak menghisap cerutu sehingga kau tak punya alasan untuk menolakku.

Hari ini kita akan bersilturahim ke rumah seorang kerabatku. Sebenarnya, aku lebih suka naik bus. Sementara kau ingin kita naik motor saja. Dan aku mengalah, meski sebenarnya aku sedikit takut dengan angin bulan ini.

Angin yang kencang membuat setir terasa berat. Dan rasanya makin berat. Kurasa kekhawatiranku yang berlebihan. Tapi sesungguhnya ban sepeda motor bututku yang bocor. Oh No!

Namun tak kusangka, ternyata ban yang bocor ini justru membuatku semakin tahu siapa engkau. Kau tak mengeluh, tapi malah tertawa. Kau tak protes soal persiapan atau semacamnya. Kau tak malu lantaran berjalan dan ditonton banyak orang yang melintas. Kau juga tak mengeluhkan soal jauhnya tukang tambal ban. Kau justru bercerita pengalaman-pengalaman konyolmu semasa kuliah dulu bersama sahabatmu yang membuat perjalanan menuntun sepeda motor ini semakin mengasyikkan.

Menurutku, perjalanan ini romantis.

#cerita tapi bukan cerpen😀

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Cerpen and tagged , , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Di Kala Ban Bocor

  1. utie89 says:

    cie cie.. ehem..

  2. matahari_terbit says:

    wooooooooooooooooooooo… ga ngundang2 *eh.. =))

  3. Subhanallah wa Masya Allah… ini so sweet story banget…
    Benar, kualitas seseorang terlihat bagaimana kala dia menghadapi ujian.

  4. j4uharry says:

    Cieee…ciee ….

    #eh apaan si ????

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s