Pernah ke Belanda?

Kemarin Jum’at seperti biasa banyak orang di terminal dan itu menyebabkan bus overload. Bagi saya, lebih baik menunggu bus lebih lama daripada berdiri di bus. Alasan saya ada beberapa, salah satunya adalah tidak nyaman berdiri di antara (di tengah-tengah) laki-laki. Lalu ada bus jurusan Cirebon yang berhenti. Saya hendak naik namun karena jarak terlalu dekat, maka saya ditolak. Akhirnya, saya duduk di samping bapak-bapak yang sedang menunggu bus jurusan Semarang.

Tak lama setelah itu ada bus Margo jurusan Bojonegoro dan penumpang sudah berdiri. Maka saya tidak naik. Lalu bapak di sebelah saya berkomentar dan terjadilah percakapan berikut.

Bapak : Naik itu saja Mbak, itu kan ke Babat.

Saya : Tidak Pak, penumpang di bus berdiri. Nanti saja Pak.

Bapak : Lho kenapa?

Saya : Capek Pak, malas berdiri, hehe.

Bapak : Masa capek, cuma ke Babat aja kok capek?

Saya : Ya yang capek sih bukan kaki saya tapi hati saya Pak. –genit-

Bapak : Kok bisa begitu?

Saya : Bagaimana tidak, Pak? Saya perempuan berdiri sementara banyak laki-laki muda sehat wal afiat duduk ongkang-ongkang.

Bapak : Wah, tidak boleh seperti itu. laki-laki dan perempuan ya sama saja.

Saya : Ndak mau pak. Masak ada orang tua berdiri dia enak-enak duduk? Tidak punya kesadaran sosial itu namanya.

Bapak : Kalau katagori usia, saya setuju. Tapi kalau sesama, ya tidak. Kan gini lho mbak, kan sama-sama bayar. Jadi ya tidak masalah.

Simple sih sebenarnya bisa dijawab : Lha iya, karena sama-sama bayar jadi buat apa saya berdiri? Ya mending saya pilih yang enak

Saya : Ndak mau pak

Bapak : Itu namanya manja

Saya : Ndak apa-apa

Bapak : Ndak boleh. Contoh, sampean mau jalan 500 meter tapi tak mau jalan malah manggil becak?

Sebenarnya bisa saya jawab : Ya tidak apa kan berbagi rezeki dengan tukang becak😀

Saya : Wah Pak, kalau soal jalan, saya sekolah pulang pergi satu kilo saya jalan kaki setiap hari Pak. Jadi kalau bapak katakan saya manja, ya saya tertawa Pak😀

Bapak : Ya bagus itu. Perempuan itu nggak boleh dimanja.

Saya : Lho ndak apa-apa pak. Perempuan itu spesial.😀

Bapak : Coba sampean bandingkan dengan orang di luar negeri. (masih membicarakan perempuan berdiri di bus sementara laki-laki muda sehat duduk)

Saya : Tapi kalau orang di luar negeri kesadarannya tinggi Pak. Njenengan pernah ke Belanda? #dengan gaya tenang seolah-olah saya sudah pernah ke sana, wakakakaw :D#

Bapak terdiam spechless. Dan perdebatan kami masih terus berlanjut sampai si Bapak habis kata karena sudah tidak bisa menunjukkan bukti bahwa kesadaran orang di sekitar kami ini memang sudah sangat rendah. Tidak ada alasan satu pun yang bisa dibenarkan membiarkan perempuan berdiri, berapa pun usianya sementara ada lelaki muda sehat wal afiat duduk tidur enak-enakan.

#Mari berinstrospeksi diri🙂

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Hikmah and tagged , , . Bookmark the permalink.

10 Responses to Pernah ke Belanda?

  1. j4uharry says:

    saya tiap hari ke BElanda (Belakang Dapur)

  2. lambangsarib says:

    sopirnya suruh turun, nanti kan semua ikut turun.

  3. utie89 says:

    haha… good good good
    punya bakat nyari ribut ya dy,
    wkwkwk

  4. hehehhe ci Bapak mantan anggota DPR kayaknya ya mbak seneng debat xixixi

  5. aku pernah ke Blondooo.. hahaha

  6. Pingback: Malu dong!!!! | My sToRy

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s