Sepi

Pagi hari kubuka jendela kamarku, menatap halaman luas di samping rumah. Cerah, hanya sedikit awan menggaris tipis.

Malam hari kudongakkan kepala. Kembali menatap langit. Hitam dan penuh bintang.

Tapi aku kian sedih menatap semua ini. Bagiku terasa sepi. Hadirnya menjauhkanku dari hujan.

Semusim tanpa panas aku tak pernah kecewa, tapi sehari tanpa hujan membuatku merindunya. Sepi menanti hujan. Selalu.

Dan sepiku, ianya samakah dengannya? Gadis kecil terdiam sendiri di keramaian sebuah pertigaan.

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Hikmah and tagged , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Sepi

  1. peta says:

    maksudnya adik diatas itu peminta ya.. astagfirullah

    • Dyah Sujiati says:

      Ya begitu lah.
      Pernah saya tanya, ‘untuk apa dia meminta?’ katanya buat sekolah. Tapi saya juga tidak yakin karena dia pernah melakukan di jam sekolah. Sedih sangat karena ada banyaak di sekitar saya tapi saya juga belum bisa melaakukan apa pun

      • peta says:

        berdasar UUD, anak2 tdk mampu seharusnya dipelihara oleh negara tetapi mereka malah korban dari para dewan yg korup.. astaghfirullah

  2. Kalo gadis kecil itu mbak Dyah temenin pasti dua-duanya jadi tidak sepi lagi.

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s