Articus Komicus

Lantaran saya mengentri nama-nama benda purbakala yang sebagian besar dalam bahasa Latin berakhiran ‘us’ menjadikan lidah dan mulut saya ingin mengakhiri setiap kata benda atau kata sifat dengan akhiran ‘us’ (?)

Tiba-tiba juga saya teringat pada komicus [komik?]. Berbentuk menyerupai buku dengan banyak gambar, sedikit huruf, dan menceritakan sebuah cerita. Bahkan dalam setiap halamannya terdapat lebih dari dua item gambar. Susunannya bagi saya cenderung rumit dan harus banyak berfikir hanya untuk sekedar memahami urutan yang harus diperhatikan dalam membaca susunan yang dimaksud. Ribet sederhananya [?]. Karena itulah, seumur hidup saya ini baru sekali, saya ulangi : sekali, membaca komicus dengan sungguh-sungguh dan disertai niat yang tulus dari lubuk hati saya yang cukup dalam. Itu pun tidak tuntas. Haha! Dan lagi-lagi, dalam hal ini saya juga merasa terlahir sebagai manusia yang benar-benar keren. (walau tak ada satu pun yang menyetujuinya).

Mohon dimaafkan karena sebenarnya saya ingin soktoy sebentar.

Karena seperti orang yang terdampar di hutan selama berbulan-bulan lalu akhirnya ditemukan oleh tim SAR dan bisa kembali menghirup udara segar, tentulah diiringi euforia. Begitupun dengan saya yang telah lama tak menonton dengan sungguh-sungguh acara yang nampak di layar televisi dan baru saja saya berkesempatan menontonnya dengan sadar. Apa yang saya lihat? Tentu saja manusia beserta benda-benda di sekelilingnya yang memantulkan cahaya yang terekam oleh kamera lalu dirambatkan melalui gelombang elektromagnetik. #iyalah, apalagi?

Dan itu, manusia yang sering masuk di dalam televisi[?] yang banyak digemari, dikoleksi fotonya, diikuti setiap aktivitasnya, bahkan dibentuk fansklubnya[?], ditiru cara bicaranya, cara berpakaiannya, cara hidupnya -jika memungkinkan-, dan yang barang bekasnya rela dibeli jauh lebih mahal melebihi barang itu saat masih baru. Ya, sebut saja dia Articus [artis?]. Articus yang tadi saya perhatikan di layar televisi yang menggabungkan dan digabungkan dirinya dalam sebuah partai untuk menjadi wakil rakyat. Ciyuuuss?

Rasanya hampir keselek saat seseorang wakil partai yang diwawancarai mengkonfirmasi bahwa tujuannya menarik Articus untuk menggabungkan dirinya adalah untuk mendongkrak perolehan suara pada pemilu mendatang disebabkan keterkenalan sang Articus di masyarakat. Tidakkah itu tindakan bodoh yang menganggap bodoh masyarakat yang semata-mata hanya akan memilih si Articus karena ketersukaannya pada Articus atau ketenaran si Articus sendiri? Ya ampyun, apakah bangsa kita sebegitunya? Ataukah kita memang harus sudah mengakuinya? Oh no! #geleng geleng kepala# Saya sangat berharap tidak demikan.

Saya yakin dan sadar sepenuhnya bahwa Articus adalah manusia seperti saya dan anda. Yang memiliki rasa dan asa. Manusia yang bisa bersuara. Manusia yang pernah ditolong dan juga menolong orang lain. Manusia yang punya hak dalam memilih dan tentu sangat berhak untuk dipilih. Berhak untuk dipilih, dipilih untuk menjadi wakil rakyat [?] sebagaimana orang lain juga punya hak yang sama.

Namun analog dengan saya yang tidak bisa dan tidak suka membaca komicus, mungkinkah bisa mereka para Articus itu merasakan dan memahami sepenuhnya apa yang menjadi kebutuhan rakyat?

Tolong jangan memandang saya sebelah mata dan bertanya, ’emang elu bisa, Dyah?’ karena saya tidak sedang merendahkan atau pun meragukan siapa pun. Dan saya juga tidak ingin menyamaratakan kemampuan orang dengan saya yang banyak kekurangan ini. Saya hanya sedikit perihatin dengan layar televisi yang tadi saya lihat. Meski keprihatinan saya tidak merubah apa pun dan saya juga bukan orang yang mengerti betul dalam pembicaraan kali ini.[?]

Baiklah, menutup kesoktoyan saya ini agar nampak sedikit politis, saya kopikan[?] quotes dari Mbak Dwi istrinya Udayusuf,”

Bahwa dia, anda, dan juga saya sama-sama memiliki hak dan kewajiban. Dan kewajiban saya adalah menjadi warga negara yang baik hingga saya pantas mendapat pemimpin atau wakil yang baik.

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Opini. Bookmark the permalink.