Twitt#R

Entah sejak kapan sebenarnya ini dimulai. Dulu awalnya saya hanya mengenal Google yang bisa membantu saya menemukan ‘apa saja’ yang ingin saya ketahui tanpa harus membaca buku yang tebal, koran yang lebar, atau harus membuka kamus yang berat. Selanjutnya saya juga mengenal email dan saya ikut-ikutan ‘membuatnya’ [?]. Dan ternyata email ini hampir selalu diperlukan dalam berinteraksi di sini. Lalu saya mengenal friendster, wordpress, blogspot, multiply, youtube, Scribd, dan entah apalagi ya? Banyak sekali. Tidak hanya mengenal. Tapi saya juga kapling di sana, tentu dengan menggunakan email tadi. Ah, betapa saktinya email itu ya? Bisa menjadi kunci di segala pintu. Bahkan untuk menjadi anggota dari sebuah ‘forum’, cukup dengan satu kunci : email.

Dulu, Friendster, wordpress, blogspot, multiply, adalah sesuatu yang saya kenal sebagai jejaring sosial. Tapi memang perawatannya tidak cukup mudah. Sementara kebutuhan akan kejejaringsosialan semakin tinggi, maka baru-baru ini muncul Facebook, yang disusul oleh jejaring sosial lainnya, yang saya tak bisa sebutkan satu per satu. Jejaring sosial yang saya tahu karena kepopulerannya tak kalah dengan Facebook adalah Twitter. Pun ini saya tahu juga karena banyak yang bertanya pada saya apakah saya memilikinya atau tidak.

Saya adalah orang yang ‘default’ yang malas ribut dan ribet. Dalam hal perjejaringsosialan seperti di atas, awalnya saya memang tamak. Kapling sana kapling sini. Tapi ujung-ujungnya semua itu hanya menjadi lahan tandus yang tak terurus dan tidak menghasilkan nilai ekonomi apa pun. Dan parahnya, saya tidak bisa mengakui itu lahan saya lantaran saya telah lupa password apa yang dulu saya pakai. Karena itulah (meski bukan alasan utama) saya memutuskan untuk tidak serakah lagi, tidak mengkapling di Facebook maupun di Twitter yang sangat digemari orang-orang. Dan dalam hal ini, justru saya merasa terlahir sebagai orang yang benar-benar keren.  #Lha?

Ah, panjang sekali prolognya? Sebenarnya saya cuma mau cerita percakapan kemarin siang seorang teman. Kebetulan saya baru ‘kenalan’ dengan seseorang dan orang itu tanya Twitter saya apa.

Saya : Mbak, ini lho ada lagi yang tanya padaku Twitterku apa? Ya kujawab, “Belum beli twitter.”
Mbak : Beli sudah.

Saya : Ada jual ta?

Mbak : Ada, yang second lebih murah.

Saya : Wah, ada yang second juga?

Mbak : Iya. Tapi tidak enak Dy, mending beli yang baru saja.

Saya : Kayaknya enak yang second deh Mbak. Nanti followerku sudah banyak!

#?

*POSTINGAN~SANGAT~TIDAK~PENTING

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Others and tagged . Bookmark the permalink.