Jika x Maka y

Gegara membaca postingan Utie yang ini, tiba-tiba saya jadi rindu pada implikasi ‘jika x maka y’. #lho? Apa hubungannya coba? Hahaa!

Dalam pelajaran matematika SMP maupun SMA dulu saya pernah diajarkan ‘logika matematika’ yang meliputi konjungsi, disjungsi, implikasi, dan biimplikasi. Saya tidak sedang membayangkan sedang mengajar anak-anak SMP atau SMA sehingga saya harus menguraikan satu per satu tentang logika matematika tersebut. Yang ada di bayangan saya justru surat Ar Ruum ayat 21 yang biasanya sering ditampilkan dalam undangan-undangan pernikahan. #Aih, apakah ini tanda bahwa … ? #gubrak:mrgreen:

وَمِنْ ءَايٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوٰجًا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚإِنَّ فِى ذٰلِكَ لَءَايٰتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS Ar Ruum ; 21)

Selama ini yang saya pahami atas pemahaman secara umum [?] sebagian besar orang tentang cinta dan nikah adalah ‘jika cinta maka menikahlah’. Memang tidak masalah juga sih daripada mengatasnamakan cinta tapi tidak menikah-menikah.:mrgreen:

Atau jika memang telah ada rasa suka sebelumnya dan mampu untuk menikah, maka menikahlah. Sebelum rasa ‘cinta’ itu menjadi sesuatu yang menyiksa. Layaknya Ali yang menikahi Fatimah, rasa cinta itu benar-benar dia menej [betul tak tulisannya?] hingga setan pun tak tahu.

Kalau kita membaca dengan seksama ayat di atas, maka dengan jelas Allah memerintahkan untuk menikah duhulu lalu Allah akan menganugrahkan kasih sayang di antara mereka berdua. Dan logika seperti itu hanya bisa diterima oleh orang yang mau berfikir bukan orang yang bernafsu.

Tentu, untuk menikah itu tidak sembarangan asal menikah saja. Ada tahapan-tahapan, pertimbangan-pertimbangan, dan juga proses serta waktu. Tentang ini sudah banyak yang membahasnya. Seperti orang membeli baju saja, tidak asal beli kan? Pasti ada yang “dipikirkan” dulu sebelumnya.

Jadi secara logika matematika bahwa implikasi ‘jika x maka y’ yang bernilai benar adalah ‘jika nikah maka cinta’ bukan sebaliknya.🙂

#berharap semoga diri ini menjadi manusia yang berfikir yang dianugrahi cinta setelah menjalankan perintahnya menggenapkan separuh agama😀

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Cinta and tagged , , . Bookmark the permalink.

7 Responses to Jika x Maka y

  1. utie89 says:

    entahlah, teori jika nikah maka cinta masih menakutkan bagiku.
    sekarang c idealis, optimis bisa kayak gitu, tapi giliran diajak taaruf, mengkeret, ketakutan -_-”😥

  2. Setuju. Jika nikah maka komitmen-lah

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s