Menggenggamnya

[flash fiction]

Kugenggam erat handphone di telapak tanganku. Entah enzim apa yang bekerja dalam tubuh manusia dan entah bagaimana cara kerjanya ketika emosinya sedikit menaik, telapak tangan akan terkontraksi menggenggam. Aku memacu syaraf-syaraf yang ada di mataku agar bekerja lebih keras dan memaksanya bersinergi dengan otakku agar aku tak melewatkannya. Setiap kali aku tiba di pertigaan ini dalam perjalananku, jika aku tak tertidur, aku akan selalu menatap ke luar jendela, mengamati sekitar, berharap menemukannya kembali dan menyapanya. Dan aku telah melakukannya sepanjang tahun ini, sejak pertemuanku dengannya Ramadhan tahun lalu.

-##-

Seperti biasa, jika aku pulang kampung di hari Jum’at sore, aku harus berebut tempat duduk dengan para penumpang. Jumlah penumpang di akhir pekan memang selalu membuat nilai delta y begitu besar untuk x-1 = Jum’at dan x-0 = Kamis. Dan akan memilih tidak naik bus dari pada berdiri di antara lelaki yang bukan mahromku. Akan tetapi, jika masih bisa duduk di bangku tambahan yang berada di samping supir, aku akan tetap naik. Begitu juga sore ini, aku duduk di bangku panas sebelah pak supir sampai tiba di Lamongan, saat seorang penumpang turun dan menyisakan satu kursi kosong. Dan inilah awal takdir yang tergenggam itu.

Aku duduk di kursi kosong yang baru saja ditinggalkan. Di sebelahku masih duduk seseorang.  Dia menoleh dan tersenyum padaku. Dia lalu mengulurkan tangannya, mengajakku berjabat tangan. Aku menerima uluran tangannya dan menggenggamnya.

Pertemuan singkat yang tak disengaja itu ternyata merupakan potongan takdir yang spesial. Kami bertemu di bus dan mengobrol dalam waktu kurang dari setengah jam. Dan tiba-tiba saja aku merasa bahwa kami berdua kini menjadi sahabat seperti sudah saling mengenal lebih dari 10 tahun. Dia bahkan menceritakan visinya padaku. Dia yang kini sedang praktek koas di sebuah rumah sakit untuk untuk menyelesaikan study kedokterannya. Usianya beberapa bulan lebih muda dariku namun dia telah jauh lebih lama menutup seluruh auratnya. Beberapa tahun lebih lama dariku dia mengenakan jilbab di kepalanya dan membiarkan kain itu memanjang menutupi dadanya.

Rasanya masih ingin terus berbincang dengannya, mendengarkan ceritanya, dan aku ingin menceritakan juga visiku padanya. Agar kami sama-sama tahu bahwa kami masing-masing memiliki tujuan yang sama dan akan saling melengkapi di masing-masing tempat dalam berkarya. Dan karena keterbatasan waktu yang tersedia, aku berharap kami akan berjumpa lagi di lain waktu. Kami bertukar nomer handphone sebelum dia turun.

Sesampai di rumah, aku hendak mengirimkan sms padanya. Mengabarkan bahwa diriku telah sampai dengan selamat, mengatakan bahwa salamnya untuk keluargaku telah kusampaikan, juga untuk mengucapkan selamat berbuka puasa. Dan tentu saja, aku masih ingin melanjutkan percakapan dengannya yang tadi terputus.

Kucari handphone di tasku, ternyata tidak kudapati. Kucari lagi di saku baju dan jaketku. Pun sama, tidak ada. Kucoba memanggilnya dan sudah tidak aktif. Ya, handphoneku hilang di antara perpisahanku dengannya.

-##-

Aku kembali melihat jam digital handphone di genggamanku. Aku menyadari bahwa aku menggenggamnya lebih erat karena aku berkonsentrasi mencarinya di pertigaan itu. Dan tetap seperti yang lalu, aku tidak menemukannya. Bagiku pertemuan dengannya adalah bagian dari rangkaian takdir kehidupanku. Dan aku menjadikannya kenangan lalu menyimpannya rapi dalam genggaman ingatanku. Kuharap, demikian juga dengannya.

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Cerpen and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

10 Responses to Menggenggamnya

  1. pitaloka89 says:

    FF panjangnyooo… ga lebih 500 kata kan? hehe…
    Tag dulu, sambil kerja jadi belum dibaca.😀

  2. utie89 says:

    aih co cweeett…
    Mudah2an dijodohkan lagi dengannya yaa..😉

  3. Kayaknya sudah masuk genre cerpen deh mbak, FF itu kan biasanya antara 100 sampai 500 kata😀

  4. jaraway says:

    berkonstrasi ro demikan ki oppooo ? =p

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s