Yang Termudah [Meski Terlemah]

Tulisan ini  murni curhat saya yang lebih dikarenakan karena kekecewaan pada diri sendiri yang masih suka bersahabat dengan si malas😦. Mengecewakan sekali bukan?

Saya, yang kebetulan saat ini memiliki jobdesk keliling ke desa-desa dan saya yang sering perjalanan pulang pergi Bojonegoro-Gresik, tentu banyak sekali hal yang saya lihat dan membuat saya merasa jadi kecewa pada diri sendiri. Ketika saya melihat rumah-rumah yang tak layak huni, melihat orang-orang yang berjalan keliling menggendong dagangan yang berat, melihat lelaki-lelaki tua yang memikul keranjang yang berisi barang bekas, melihat orang-orang yang mmenggali tanah di tepi jalan di bawah teriknya matahari, bertemu dengan orang yang sangat kurus, dan sebagainya. Jujur, dalam hati saya merasa sedih, sedikit merasa [tepatnya mengira-ngira] apa yang mereka rasakan. Lalu ada pertanyaan yang selanjutnya muncul ‘apa yang bisa saya lakukan untuk mereka?’. Dan jawabnya bisa ditebak : nothing alias tidak ada😦 Dan itu membuat saya semakin kecewa pada diri sendiri.😦

Saya ingat sebuah hadits, “Barangsiapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran maka hendaklah ia merubah dengan tangan, jika tidak bisa maka dengan lisannya, jika tidak bisa juga maka dengan hatinya, itulah selemah-lemah iman.”[HR. Muslim dalam Al-Iman (49)]”

Kemungkaran di sini saya pahami bukan sekedar pada perbuatan yang menyimpang dari sunah dan Al Qur’an.  Akan tetapi pada segala sesuatu yang tidak pada tempatnya dan membutuhkan ‘sentuhan’ untuk sesuai dengan tempatnya itu tadi. Dan jika mengingat hadits di atas, maka apa yang bisa saya lakukan? Paling besar kemungkinannya adalah yang kedua, dengan lisan, yaitu : mengomel😦

Beberapa waktu yang lalu, entah dalam acara apa, ada kisah yang diceritakan oleh pembicara. Bahwa ada seorang pemimpin kabupaten/kota mana yang sangat dermawan dan suka mendo’akan orang lain. Setiap kali beliau melihat orang yang memungkinkan untuk disedekahi, dia akan bersedekah. Tapi jika tidak memungkinkan, beliau langsung mendo’akan. Kisah ini diceritakan oleh pengawalnya.

Dari kisah itu, pembicara menyampaikan bahwa kita bisa mencontoh apa yang dilakukan oleh pak bupati tersebut yaitu pada bagian mendoakan. Ya, selama saya belum bisa melakukan apa pun untuk hal itu, hal termudah yang bisa saya lakukan adalah berdo’a. Meski itu adalah selemah-lemahnya iman. Namun bisa dikatakan ‘lumayan’ dari pada tidak berbuat sama sekali.

Wallahu’alam.

Seingat saya [karena saya juga tidak menemukan dasar haditsnya], do’a yang dipanjatkan adalah “Ya Allah, ampunilah dia, berilah hidayah-Mu kepadanya, mudahkanlah dan barokahilah rizki yang Engkau berikan padanya, dan rahmatilah dia”

Catatan : Bukan berarti dengan sudah mendo’akan kita merasa ‘cukup’. Tetap saja, itu adalah selemah-lemahnya iman. Hanya saja, dari pada tidak berbuat apa pun, hal termudah yang bisa kita lakukan adalah mendo’akannya itu tadi.

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Menu Motivasi and tagged , , , . Bookmark the permalink.

7 Responses to Yang Termudah [Meski Terlemah]

  1. metamocca says:

    melihat orang lain yang “kesusahan” sedangkan kita gak bisa berbuat apa-apa emang bikin sedih bgt😥

  2. Julie Utami says:

    Kita sendiri memang masih dalam serba keterbatasan sih ya, jadi yang paling tepat ya gitu, mendoakan supaya beban mereka diringankan, langkah mereka menanggung hidup dimudahkan.

    Tulisannya t-o-p nak!

  3. utie89 says:

    untuk ngomelin yang ngerokok aja aku masih ga bisa optimal dee. -_-

  4. jaraway says:

    emm.. jadi inget ada yang pernah bilang kepemimpinan itu mencerminkan siapa yang dipimpin..
    bisa jadi kita sebagai rakyat belum ‘pantas’ punya pemimpin yang sanggup menyelesaikan hal2 ntu..
    saatnya kita juga memperbaiki diri & berbenah agar pantas dipimpin yang berkualitas..
    #NtMS

    jangan lupa do’akan pemimpin2 kita… kita sering menghujat mereka, nyinyir.. jangan sampai itu justru jadi do’a yang terkabulkan. do’akan yang baik2.. hehe

  5. Pingback: Pantas | Dyah Sujiati's Blog

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s