Tanpa Landasan Hukum

Sejujurnya, kali ini saya memang sedang dilanda suasana sendu galau yang nampak teramat berlebihan kalau menurut cara pandang saya sendiri. #Lha?
Ah, entahlah. Sangat tak elok kiranya jika saya berkeluh kesah, menuliskannya, dan dibaca orang lain. Haha. Estresso!😛

Baiklah, baiknya saya cerita saja pangalaman saya beberapa bulan yang lalu. Kebetulan, kebetulan sekali. Saya mendapat amanah ‘memegang’ sebuah daerah dengan jumlah desa yang cukup banyak dengan wilayah administrasi yang luas, jumlah penduduk yang banyak, dan kegiatan perekonomian hampir ada di setiap sektor. Kebetulan lagi, tahun ini ada ‘gawe‘ yang cukup besar. Dan saya, mau-tidak mau, bisa-ataupun tidak, saya harus mau dan mampu menghandle untuk wilayah yang saya ‘pegang’. Singkat cerita, saya mendapat tugas mencari 148 orang yang akan jadi petugas saya dalam ‘gawe‘ tersebut.

Meski sebenarnya ada beberapa tahapan yang menjadi proses dalam ‘gawe‘ yang saya maksud, yang ingin saya ceritakan di sini adalah proses perekrutan, pun tidak seluruhnya. Haha. Dalam proses perekrutan tersebut, saya meminta para kepala desa untuk mengajukan nama-nama yang akan mengikuti seleksi. Ada beberapa desa yang kepala desanya mempercayakan tugas mulia negara [?] ini melalui orang kepercayaannya. Kebetulan, ada dua orang kepercayaan tersebut yang mengajukan dirinya sendiri beserta istrinya untuk mengikuti seleksi. Dengan kata lain, mereka berdua ingin menjadi petugas.

Dengan mempertimbangkan faktor sosial, saya tidak mengizinkan sepasang suami istri mengikuti kegiatan ini. Alasannya, selain mengundang kecemburuan sosial, jika suami istri bekerja satu tim, kemungkinan besar yang terjadi adalah yang bekerja hanya salah seorang. Selain, karena sesungguhnya saya sangat meragukan kemampuan salah satu dari pasangan suami istri tersebut. Keputusan saya itu sudah bulat, tidak dapat diganggu gugat, dan terpaksa diterima dengan sepakat. Meski keputusan itu semacam hak prerogatif saya yang tidak berlandaskan hukum. Haha

Lalu, ternyata ada lagi seorang kepercayaan kepala desa yang mencalonkan diri menjadi petugas beserta pacarnya. Mereka merencanakan menikah, tapi saya tidak tahu kapan rencana itu dilaksanakan. Meski saya sebenarnya juga penasaran [?]. Perlakuan saya terhadap ‘pasangan’ ini berbeda dengan yang suami-istri. Karena menurut penilaian subjektif saya, mereka berdua akan sama-sama bekerja di lapangan. Berbeda  dengan dua pasangan suami-istri sebelumnya yang saya indikasikan hanya akan bekerja salah seorang saja.

Apa yang saya lakukan itu ternyata memancing pertanyaan. Kenapa yang suami-istri tadi tidak diizinkan malah yang cuma pacaran diizinkan? Saya, sangat tidak lucu jika mengeluarkan jawaban yang merupakan alasan saya sesungguhnya yang mana itu sebenarnya tak lebih dari kekhawatiran saya yang berlebihan [?] atas penilaian subjektif saya sendiri -yang berdasar track record kinerja mereka selama pernah bermitra dengan saya sebelumnya.

Maka, saya pun menjawab pertanyaan yang mempertanyakan keberadaan sepasang pacar itu dengan jawaban yang intinya, “Lha kan mereka masih pacar Pak. Secara hukum agama maupun hukum negara, tidak ada landasan hukum-nya. Mereka sebenarnya sama saja kan dengan berteman, sama hubungannya antara saya dengan Bapak.”

Lalu yang bertanya pun diam sejenak, mengangguk, kemudian tersenyum. Meski sedikit terpaksa dan merasa janggal. Haha

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Hikmah and tagged , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Tanpa Landasan Hukum

  1. utie89 says:

    huahahaha…
    Cakeeepp..

  2. gara-gara galau ini mbak makanya kedutan….😀

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s