Cinta Mengalahkan Logika

Jujur saja, saya ini bukan tipe orang yang menyukai bayi atau balita lucu anak orang yang saya temui yang secara langsung mengekspresikan  itu dalam sapaan, belaian tangan, cubitan pipi, dan lainnya. Kemungkinan terbesar yang terjadi saat saya menemui balita-balita itu adalah cukup mengatakan dalam hati bahwa dia lucu. Hehe. Justru, yang sering terjadi adalah jika balita itu melihat saya, dialah yang senyum-senyum ingin menggoda saya yang mungkin dikarenakan tampilan saya nampak lucu bagi mereka. #Lho?# Jika sudah begitu, mau tak mau ya saya terseyum. Dan akan sedikit saya lebarkan senyum saya lantaran tidak enak hati pada nenek atau ibunya.

Bukannya saya tak menyukai anak-anak, hanya saja bentuk rasa suka saya itu lain. Saya hanya berfikir sederhana bahwa jika saya men-ci-luk-ba atau membelai-belai tangannya atau mencubit-cubit pipinya, itu tidak berarti apa pun. Haha. Lagipula dia anak orang. Hehe. ^_^v

Akan tetapi, sedikit kontradiksi menurut saya. Saat saya sudah menyukai seorang bayi atau balita, saya akan bolak-balik mengunjunginya. Meski dia tidak dekat. Balita yang saya maksud di sini adalah selain tujuh orang keponakan saya ya. Balita ini murni anak orang lain yang tidak berhubungan darah dengan saya :p

Dulu, semasa kuliah saya sangat menyukai Kimus, bayi dari keluarga yang sahabat saya ikut tinggal di sana. Kesukaan saya padanya membuat saya rela bersepeda sekitar 5 km dari kost saya di Karangwangkal menuju Purwosari tempat Kimus tinggal. Dan jalan yang menghubungkan kedua tempat itu bentuknya naik turun. Ada beberapa tanjakan yang saya harus menuntun sepeda karena saya tak kuat mengayuh sampai titik landai. Haha. Padahal kalau dipikir-pikir, sebenarnya apa yang menjadi tujuan saya itu tak lebih dari sekedar melihatnya, menggendongnya, mencium pipi dan tangannya, menggodanya, meminumkan susunya, atau memeluknya jika ia tidur. Tidak bisa dilogika. Ah Kimus, aku jadi merindukanmu. Apa kabarmu, Nak? T_T

Lalu, setelah lulus kuliah ini, saya kembali jatuh cinta pada seorang bayi. Eshan namanya. Anak dari teman kantor. Rumahnya di Surabaya. Untuk menemuinya, saya harus jalan kaki dari kost sejauh 600 meter, lalu naik bus ke terminal Bungur hampir satu jam, lalu naik taxi sekitar 20 menit. Dan itu rela saya lakukan hanya untuk menemui seorang bayi bernama Eshan. Padahal, saat bertemu dengannya komunikasi yang terjalin hanya satu arah. Saya tak bisa curhat pada Eshan [?]. Apalagi Eshan? Dia bahkan belum bisa bicara. Hanya bertemu, menggendongnya, menciumnya. Itu saja. Ah, tidak bisa juga dilogika.

Yang tidak saya paham adalah kenapa bayi itu bisa menciptakan daya tarik yang begitu kuat? Sampai-sampai dia bisa menarik seorang gadis [?] bersepeda dari Karangwangkal ke Purwosari dan seorang gadis dari Gresik ke Surabaya. Padahal dia tidak memakai sesuatu yang lain, padahal dia belum bisa diajak bicara/cerita, padahal, padahal lainnya. Ataukah ini sesungguhnya makna denotasi dari ‘cinta mengalahkan logika’?😆

Gambar minjem belum izin dari sini mfadhillahakbar.wordpress.com 

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Cinta and tagged , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Cinta Mengalahkan Logika

  1. utie89 says:

    betul ituuu..
    Aq juga kadang ngga antusias dan “rame” kayak orang2 kalau ngeliat bayi.

    Mungkin karena pada dasarnya ngga ramah, ngga gaul, ngga penyayang??? Entahlah.:mrgreen:

  2. Sepertinya iya, itu aplikasi dari cinta tak mengenal logika

  3. saya gak begitu cinta sama bayi mbak,,, soalnya gak bisa di ajak curhat #eh!😀

  4. Pendapat dan pemikiran Anda cukup bagus. Jika cinta itu bisa di pelajari, maka tidak ada salahnya kita belajar dan mengerti cinta itu. Cinta harus di sertai logika bukan hanya perasaan, cinta yang mengikutsertakan bermain nya logika membuat hubungan semakin ideal dan saling menguntungkan. Contohnya: Dalam suatu hubungan salah satu pihak selalu merasa dirugikan karena hanya memakai perasaan tanpa logika. Lebih baik belajar untuk dapat menjalin sebuah hubungan yang ideal sehingga kedua belah pihak tidak saling merasa dirugikan.

    Salam revolusi cinta,
    HitmanSystem.com
    Pusat Konsultasi & Edukasi Cinta Terpercaya di Indonesia

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s