Meretas Rasa

Mendung di hati berkecambuk meretas menjadi gerimis di mata. Jika saja aku bebas berkata, jika saja aku bebas bercerita, jika saja aku bebas menulisnya. Aku tentu ingin saja melakukannya. Hanya saja, masih ada norma dan logika yang masih menahanku darinya.

Entah, mungkin aku saja yang GR mengartikan kalimatnya. Tapi aku tetap berkeyakinan, bahwa kalimat dari hati akan sampai pula ke dalam hati. Meski kalimat itu berupa rangkaian huruf  di layar ponsel.

Kalimat itu, seperti kalimat yang terucap dari lisan yang seketika menggoreskan luka di hati dan memaksa meretas air di mata. Tapi bukan rasa itu. Jika dalam istilah pelajaran Bahasa Indonesia, rasa yang meretas itu berupa analog yang ber-antonim dengan rasa yang meretas karena tergores kalimat luka.

Hingga tak terasa, air di mata ini meretas karena rasa yang dibawanya. Kalimat itu : ‘Selamat berjuang anakku’. Seketika, telah meretas rasa di hatiku.

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Others and tagged , , , . Bookmark the permalink.