Memaknai Mimpi/Impian

Saya yakin, pasti sudah banyak orang yang menulis tentang mimpi atau impian. Bagaimana memulainya, menentukannya, memberanikan diri, juga bagaimana agar mimpi atau impian itu terwujud.

Mimpi atau impian itu tidak jauh pula dengan cita-cita. Kalau kata Ust. Salim A. Fillah, cita-cita adalah mimpi yang bertanggal.

Saya menemui banyak orang yang masih takut bermimpi dan menakuti orang yang bermimpi. Orang macam ini memang terasa tidak menyenangkan meski tidak pantas juga jika digeneralisis bahwa dia adalah orang yang pesimis.

Sering sekali saya mendengar cerita saat ada yang menceritakan mimpinya [?] atau saya sendiri yang cerita tentang mimpi saya, lalu orang itu menjawab, “Jangan terlalu tinggi bermimpi. Nanti kalau jatuh, sakitnya parah.” Jawaban itu, bagaimana tidak membuat saya ingin menelan benda apa saja yang ada di depan mata?

Baiklah, kita buat adil saja bahwa setiap orang memiliki pemahaman yang berbeda-beda dalam memaknai sesuatu. Contoh saja setengah isi setengah kosong. Tergantung bagaimana dia memandang bukan? Apakah dia nanti akan mengatakan ‘masih setengah’ atau ‘tinggal setengah’. Begitu pula dalam hal mimpi.

Saya sepakat bahwa setiap orang yang punya impian, tidak sekedar tidur dan bermimpi impiannya terwujud. Tapi orang yang punya mimpi akan berusaha mewujudkan impiannya tersebut. Orang ini akan biasanya memiliki visi terhadap mimpi yang dia ciptakan dan akan dia upayakan melalui misi yang dia susun. Ah ya, impian di sini impian yang saya maksud bukan impian tidak jelas tanpa maksud [?]. Misal menikah dengan si A, itu mimpi yang terlalu bodoh dan rendah. Hehe bercanda.

Saya teringat perkataan seorang teman, “Bermimpilah yang tinggi. Karena jika jatuh pun, akan tetap berada di tempat yang tinggi.” Nah itu dia, sudut pandang seharusnya bagaimana memaknai impian. Impian yang diupayakan terwujud. Jujur saja, kita harus realistis. Tidak semua apa yang kita inginkan, bisa kita miliki. Termasuk dalam hal impian.

Maka, abaikan saja jika ada orang yang menakuti orang yang bermimpi, meski dia berdalih bahwa dia hanya mengingatkan. Karena itu tidak seharusnya dia lakukan. Pun jika dibalik posisi saat kita sedang mendengar orang yang menceritakan  mimpinya, kita haruslah mendukung orang tersebut. Kalau bisa membantu melancarkan jalannya atau kalau sempat ya bantu do’a. Hehe

Hanya yang perlu digaris bawahi adalah bahwa setiap orang yang bermimpi dan berusaha mewujudkan impian itu harus diimbangi dengan tawakal sepenuhnya pada Allah. Karena Allah pasti akan berikan keputusan yang terbaik dan Allah tidak akan mengecewakan hamba-Nya. InsyaAllah, proses bagaimana mengupayakan impian tersebut akan menjadi amalan pemberat timbangan pelakunya kelak di akhirat. Dan bermimpilah yang tinggi lalu upayakan! Jika jatuh pun, kau masih tetap berada di tempat yang tinggi.

^___^ Cheers
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Menu Motivasi and tagged , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Memaknai Mimpi/Impian

  1. utie89 says:

    suka sama kata2 temennya itu.

    Ngomong ngomong, belakangan ini aku kalau tidur selalu mimpi lho.:mrgreen:

  2. Pingback: Mengupayakan Mimpi | Dyah Sujiati's Site

  3. “Dan bermimpilah yang tinggi lalu upayakan! Jika jatuh pun, kau masih tetap berada di tempat yang tinggi.”

    A NICE QUOTE, Mbaaak🙂

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s